Home Scoop Para Sutradara Film Indonesia Hunting Pemain di Peqho Mondial
Para Sutradara Film Indonesia Hunting Pemain di Peqho Mondial

Para Sutradara Film Indonesia Hunting Pemain di Peqho Mondial

Thursday, May 31, 2018 - 10:54
Bagikan
Facebook Twitter Email

Peserta dengan berbagai kostum dan atribut sangat serius mempersiapkan penampilannya. Tegang namun kekeluargaan, inilah yang dirasakan saat lo berada di acara Mondial Peqho ke-11. Pentas monolog dan dialog yang dilaksanakan pada 26 Mei 2018 ini merupakan salah satu ujian para anggota Peqho untuk mempersiapkan kiprahnya di dunia entertaiment. Bertepat di Dapoer Ciragil, Jakarta Selatan, 12 dari 15 peserta  menampilkan monolog dan dialog yang berbeda-beda. Seperti apa sih keseruan mereka, Urbaners?

 

Persiapan sebelum Mondial

Sebelum Mondial ini mereka sudah dilatih oleh mentor masing-masing dalam mendalami peran, tidak hanya dialog, tetapi juga gestur, ekspresi sampai volume suara. Selama 10 kali pertemuan kurang lebih selama 1,5 bulan mereka rutin datang ke Peqho yang berada di Ciranjang, Jakarta Selatan. Terdapat sesi olah tubuh, olah suara sampai pendalaman peran. Nah, untuk Mondial ini, para peserta dibebaskan untuk memilih script yang akan ditampilkan. Bahkan diperbolehkan untuk membawakan script hasil karya mereka sendiri.

 

Para peserta memberikan penampilan maksimal

Sekitar pukul 20.00 acara dimulai, satu persatu peserta diberikan waktu selama 5 menit untuk memperlihatkan yang terbaik. Meskipun tidak ada juri di Mondial, tetapi jangan salah, mereka ditonton oleh para pesohor perfilm-an ataupun teater yang siap untuk memberikan kritik membangun. Nggak heran, para peserta tampak sangat maksimal. Set dan alur yang dimainkan berbeda-beda. Ada yang berperan sebagai seorang istri yang diselingkuhi, atau berperan sebagai seorang nenek lengkap dengan make up keriput dan baju lusuh. Atau seorang pria yang stress dan marah akan perjuangan hidupnya. Tidak hanya itu aja, beberapa peserta bercerita dengan tari kontemporer yang sangat indah. Mereka memanfaatkan waktu yang sedikit dan set seadanya untuk menunjukkan talenta masing-masing.

 

Rooftop Dapoer Ciragil menjadi panggung sandiwara

Malam itu penonton begitu fokus menonton penampilan para peserta. Sorot lampu yang hanya tertuju ke panggung, dan jarak penampil yang tidak terlalu jauh membuat para penonton dapat merasakan energi yang disalurkan. Situasi Dapoer Ciragil pada malam itu cukup panas dengan berbagai emosi ke-12 peserta. Para penonton pun tidak beranjak dari awal sampai akhir pertunjukkan. Gemuruh tepuk tangan selalu terdengar nyaring seusai penampilan, ekspresi kagum tanpa kata dari para penonton.

 

Epi Kusnandar & Tim Preman Pensiun hadir untuk mendukung

Ditengah-tengah ketegangan Mondial, spotted seniman senior Indonesia yakni Epi Kusnandar bersama para pemain dari "Preman Pensiun". Mereka langsung diundang ke panggung oleh sang pembawa acara. Kalau lo berpikir mereka hadir untuk memberikan kritik dan saran, salah besar, Urbaners! Justru mereka mendukung dengan cara mencairkan ketegangan malam itu. Epi Kusnandar bersajak secara spontan tentang apa yang ada di sekitarnya. Tak lama setelah itu terdapat suara beatbox yang terlontar dari para pemain “Preman Pensiun”, sajak tersebut pun berubah menjadi sebuah lirik musik rap. Mereka tampak sangat kompak untuk sesuatu yang spontan. Itulah yang ingin ditunjukkan oleh Epi Kusnandar, yakni seorang entertainer harus memiliki spontanitas yang tinggi serta beradaptasi secara cepat di suatu keadaan.

 

Kedatangan banyak sutradara film

Setelah kurang lebih 3 jam menyaksikan penampilan para peserta terdapat sharing session. Yang membuat sharing session ini berbeda adalah tidak ada nara sumber spesial. Siapapun dapat mengkritik dan memberikan saran untuk para peserta. Baik para sineas film ataupun penonton biasa. Tak disangka pada malam itu terdapat beberapa sutradara ternama yakni Andi Bachtiar Yusuf yang sukses dengan film "Romeo Juliet". Sutradara yang dikenal selalu pedas dalam berkomentar berpendapat para peserta masih terlalu teknis, sehingga terlihat monton. Ada juga Robby Ertanto sutradara film yang sengaja datang untuk mencari bibit-bibit aktor ataupun aktris baru. Karena ia merasa aktor di Indonesia dia lagi, dia lagi. Meskipun ia berpendapat bahwa masih ada jarak antara karakter yang dimainkan dengan peserta, ia berpesan tetap semangat, dan memperbanyak referensi untuk menjadi aktor/aktris yang jauh lebih baik lagi.