• News
  • Peserta CMWC 2019 Yang 'Haus' Akan Jalanan Yang Chaos

Peserta CMWC 2019 Yang 'Haus' Akan Jalanan Yang Chaos

Tue, 27 August 2019
Peserta CMWC 2019 Yang 'Haus' Akan Jalanan Yang Chaos

Parkir barat Jakarta International Expo (JIExpo) tampak ramai dengan tali bergaris warna hitam kuning. Bukan hanya sekedar menjadi pembatas, tetapi lahan luas tersebut disulap menjadi sirkuit untuk Crit Race, yang merupakan salah satu bagian acara dari CMWC 2019. Spesialnya, Crit Race ini tidak selalu ada di setiap CMWC. Sengaja dibuat khusus oleh Wesbike Messenger Community selaku penyelenggara penyelenggara acara untuk para cycle messenger ataupun pesepeda yang menggemari laju dengan kecepatan tinggi. Seperti apa sih keseruan Crit yang dilaksanakan pada 23 Agustus 2019 kemarin, Urbaners? Check this out!

 

Animo Peserta yang Tinggi

Animo Peserta yang Tinggi

 
Meskipun Crit Race bukan acara inti dar CMWC 2019, tetapi animo peserta cukup tinggi. Setengah dari peserta CMWC 2019 ikut serta dalam turnamen satu ini. Bukan hanya para cycle messenger, ada pula peserta yang hadir dari komunitas sepeda. Kalau lo berada di kompetisi tersebut saat itu, lo akan mendengar beragam macam bahasa, pasalnya Crit Race ini diikuti ratusan peserta dan 60% berasal dari luar negeri. Mulai dari China, Jepang, UK, US, sampai Ukraine, Urbaners! Mereka sengaja datang dari belahan dunia lain, hanya untuk mengikuti serangkaian acara CMWC 2019 ini.

 

Saling Dukung Peserta Crit Race

Bukan soal kompetisi, CMWC 2019 lebih menjadi ajang reuni para cycle messenger seluruh dunia. Seperti yang terlihat pada Crit Race, baik peserta maupun penonton mendukung siapapun yang sedang bertanding. Crit Race sendiri dibagi menjadi 2 sesi, yakni kualifikasi dan final. Saat kualifikasi pun dibagi lagi menjadi 5 hit. Per hit diikuti kurang lebih 30 pesepeda. Seluruh peserta harus menaklukkan sirkuit sepanjang 1 kilometer sebanyak 13 lap. Tidak peduli siapa yang sedang melaju di sirkuit, semua yang menonton akan menyoraki memberi semangat. Saat hit ke-4 pesepeda asal US terjatuh pada lap pertama, tidak pikir panjang, pesepeda lainnya yang sedang menonton langsung berlari kearahnya dan membantu. Hal ini menunjukkan bahwa para cycle messenger ini memiliki rasa persaudaraan yang sangat kuat.

Saling Dukung Peserta Crit Race

 
Kejadian seru lainnya sangat terasa pada saat final, 6 pesepeda dengan waktu tercepat di setiap hit akan diuji kembali untuk mencari siapa yang tercepat. Sirkuit yang berbentuk letter L membuat para penonton dapat menonton 2 sisi sekaligus. Di bagian samping gate start dengan gap yang cukup luas juga terdapat jalur sirkuit lanjutannya. Sehingga seluruh pesepeda yang menonton, selalu berlarian berpindah posisi demi menyaksikkan laju para peserta final. Kompak tanpa aba-aba, berlari ke kanan, lalu berlari ke kiri, membuat keseruan tidak hanya terjadi di sirkuit, tetapi pada area penontonnya itu sendiri.

 

Menikmati 'keras'-nya Jakarta

Menikmati 'keras'-nya Jakarta

 
Seakan tidak pernah merasakan udara tropis, para peserta terlihat tidak terganggu dengan cuaca terik di bagian utara kota Jakarta. Para peserta ataupun yang menonton sudah siap dengan peralatan melawan cuaca yang menunjukkan 31 derajat celsius siang itu. Kaca mata dan topi seakan menjadi seragam wajib, dengan berbagai model dan warna, membuat parkiran barat JIExpo tampak lebih meriah. Dan yang lebih keren lagi, semua peserta yang datang rata-rata mengendarai sepeda untuk mencapai venue CMWC 2019 ini. Para peserta yang berasal dari berbagai negara pun mengaku, riding di Jakarta sangat menarik, berbeda dengan negara-negara maju dengan jalur transportasinya sudah mumpuni. Di sini lo tidak hanya berhadapan dengan cuaca, tetapi kemacetan dan adu klakson kendaraan lainnya yang membuat jalanan terasa cukup intens. Salah satu peserta asal Kroasia bernama Roman mengungkapkan pendapatnya tentang Jakarta yakni "Organized Chaos!" atau pesepeda asal Belgia bernama Cecile Bloch mengaku "I just realized this city (Jakarta) is so big, and honking is part of street-language,". Lucu ya, Urbaners, sesuatu yang menurut lo terkadang membuat stress seperti jalanan Ibu Kota, justru menjadi pengalaman berkesan dan menantang untuk orang lain.

 

Yokohama VS Madrid

 Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh para peserta bidding untuk menjadi tuan rumah CMWC 2021. Yokohama dan Madrid seperti bersaing promosi sebelum melakukan presentasi pada esok harinya. Tim Yokohama yang cheerful membawa bendera putih bertuliskan "Vote Yokohama" dengan bentuk lingkaran, keceriaan mereka cukup menarik perhatian para peserta CMWC 2019, banyak banget yang mengabadikannya melalui foto, ataupun video. Tak mau kalah, Madrid, yang merupakan calon tuan rumah juga membagikan brosur berwarna hitam putih, dengan gambar tengkorak dinosaurus sebagai cycle messenger sedang mengendarai sepeda. Tepat di bagian bawah doodle dinosaurus terdapat tulisan "Vote Madrid CMWC 2021" dengan tagline "ECMC 2011... Ten Years Later And We Are Still The Same!".

 

Awaremess - Komunitas Melindungi Para Cycle messenger

Satu lagi yang mencuri perhatian lainnya adalah saat sebagian besar cycle messenger kompak menggunakan kaos berwarna pastel bertuliskan "Aware", yang ternyata kaos tersebut adalah tanda eksistensi Awaremess, sebuah komunitas yang baru lahir sekitar pertengahan tahun 2019 untuk melindungi para cycle messenger seluruh dunia. Cecile Bloche, cycle messenger asal Belgia yang merupakan pencetus komunitas ini mengaku bahwa sebagai kaum minoritas, ia ingin cycle messenger seluruh dunia merasa aman untuk melakukan kewajibannya saat mengantarkan barang ataupun sedang bepergian kemanapun. Seperti rumah kedua, Awaremess ingin para cycle messenger tau bahwa jika sedang bermasalah di jalan, atau masalah lainnya, Awaremess dan anggota lainnya akan siap menjadi barikade paling depan untuk memberikan dukungan dalam hal apapun.

 

Melihat Lebih Luas Dunia Menyelam yang Tidak Hanya Itu-itu Saja

Wednesday, February 12, 2020 - 13:44
Dua penyelam sedang sweeping di bawah laut untuk mengumpulkan sampah

Tidak ada yang menandingi keindahan bawah laut Indonesia. Setuju nggak, Urbaners? Namun salah satu objek wisata utama tersebut juga mengundang efek negatif, yakni sampah. Tidak hanya di tepi pantai, tetapi juga dasar laut. Melihat kondisi tersebut, para divers di Indonesia tidak tinggal diam. Seperti Divers Clean Action yang kerap sweeping kebersihan bawah laut Indonesia. Inilah salah satu yang digali lebih dalam di MLDSPOT TV Season 5 Episode 13. Dengan tema "Beyond Diving". Lo akan menemukan banyak fakta dibalik olahraga selam tersebut. Ssst.. ada juga ulasan tentang mermaid cantik yang menekuni dunia freediving, lho!

 

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Sampah merupakan salah satu masalah utama di Indonesia. Nggak hanya di darat, tetapi juga dasar laut. Menanggapi hal ini, para divers tidak mau berdiam diri. Seperti aksi nyata Divers Clean Action, sebuah LSM dan komunitas anak muda yang berfokus pada masalah sampah laut. Kepedulian mereka terhadap laut membuat diving nggak terbatas pada kegiatan hiburan dan olahraga saja.

Secara aktif, mereka mengajak warga lokal pesisir beserta masyarakat umum untuk memerangi sampah lautan. Kegiatan pembersihan rutin yang dilakukan juga tidak hanya satu tempat, Urbaners, Divers Clean Action juga menyeleksi 70 volunteers per tahunnya dengan memberikan dana untuk mengembangkan program pembersihan laut di daerah masing-masing. Organisasi satu ini juga rajin 'bersuara' diberbagai seminar, workshop & konferensi seperti Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2017, YSEALI Marine Debris Expedition 2018, dan Our Ocean Youth Leadership Summit 2018 untuk menyampaikan visi misi mereka ke masyarakat luas.

 

Nikita Fima: Freediving Mengajarkan untuk Melepaskan Yang Tidak Perlu

Nikita Fima menggunakan t-shirt merah mertuliskan "Freediving Society"

Mermaid doesn't exist! Sepertinya kalimat sudah tidak valid lagi. Karena Nikita Fima seorang freediver wanita Indonesia ini memiliki keseharian menjadi mermaid atau freediver. Wanita cantik satu ini tidak menyangka akan menghabiskan hidupnya under the sea. Sebelum fokus di freediving, Nikita sebenarnya sudah sempat mencoba peruntungan di berbagai bidang lainnya, tetapi ia mengaku, dunia freedive membuat hidupnya lebih simpel dan menantang secara bersamaan. Nikita mengakui kalau bukan hanya kesehatannya saja, tapi cara pandang hidupnya juga ikut berubah karena pengajaran dan teknik pernapasan freediving. Nikita juga kerap mengikuti kompetisi seperti Indonesia Apnea Competition (IAC) dan Sabang International Freedive. Ajang IAC menjadi yang paling berkesan baginya, soalnya kenekatannya kala itu justru membuatnya menyabet gelar juara untuk 6 kategori. Dan sekarang, ia menekuni dunia tersebut dengan menjadi professional mermaid di Jakarta Aquarium, Neo Soho Mall dan juga membuka Jakarta Mermaid School yang merupakan sekolah mermaid berlisensi pertama di Indonesia.