• News
  • WahTeg: Warteg Mewah ala Ibukota

WahTeg: Warteg Mewah ala Ibukota

Tue, 14 May 2019
WahTeg: Warteg Mewah ala Ibukota

Bila hari telah senja

Malam hari pun tiba

Hidupku yang sendiri

Sunyi

Lagu yang dibawakan Tantowi Yahya itu menyeruak ke setiap sudut ruangan menyambut kedatangan para pengunjung Wahteg pada Minggu siang itu. Begitu melangkah sampai di pintu masuk, lo akan langsung disambut dengan suasana vintage oleh motor antik yang diparkir apik persis di depan terasnya.

Kalau dilihat sekilas, tidak ada yang begitu istimewa dari rumah makan ini. Bahkan, tidak sedikit yang mengira kalau ini adalah warteg (warung tegal) biasa. Baru ketika masuk, lo akan merasa kalau Wahteg ini adalah warteg yang lain dari biasanya.

WahTeg: Warteg Mewah ala Ibukota

 

Wahteg, Tempatnya Mereka yang Ingin Bernostalgia

Pergerakan zaman yang begitu cepat kerap membuat segalanya berlalu tanpa terasa. Makanya, banyak sekali yang merindukan masa-masa indah zaman dulu dengan berbagai cara, salah satunya lewat makanan.

Kehadiran Wahteg tentunya menambah deretan tempat makan hits di area Tanjung Duren, Jakarta Barat. Antusiasme pencinta kuliner lokal terlihat dari hilir mudik pelanggan yang sejak berdiri hingga kini masih terus memenuhi rumah makan ini.

Siapa aja sih yang tertarik mencicipi makanan di Wahteg? Hampir semua kalangan! Ya, namanya juga makanan warteg dengan hidangan khas rumahan, ya pastinya akan disukai semua orang.

Kalau lo nanti ke sini coba deh duduk di meja depan kasir saat jam makan siang selama lima belas menit aja. Pasti lo sudah bisa menilai kalau memang Wahteg ini menarik bagi semua usia. Mulai dari bapak-bapak paruh baya, hingga anak muda yang sibuk memotret makanan yang dipesan untuk dibagikan di IG Story-nya.

Wahteg, Tempatnya Mereka yang Ingin Bernostalgia

 

Nggak Cuma Indah Dipandang, tapi Juga Sedap Dirasa

Konsep yang dipilih untuk desain interiornya tidak terlalu jauh dari desain warteg kebanyakan. Masih dengan warna biru dan hijau yang tetap mendominasi, dan tentu saja tidak ketinggalan etalase makanan bagaikan layar touchscreen saat memesan.

Sang pemilik, Rocky Jaya, memang ingin mengambil garis besar konsep warteg konvensional, tapi tetap memberikan kesan modern, salah satunya dengan menambahkan lampu neon untuk hiasan dindingnya dan menambah pilihan sistem pembayaran mulai dari EDC sampai dompet virtual.

Perpaduan yang diusung juga dilakukan dengan apik, jadi tidak ada kesan dipaksakan. Karena itu, boleh dibilang kalau Wahteg ini nggak kalah dengan kafe-kafe instagramable di Jakarta Selatan.

Tau gak? Saking terkenalnya Wahteg ini, sampai pernah waktu itu ramai berita kalau Pak Mensos, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyempatkan makan siang di sini. Salah satu yang dipesan beliau tentu saja menu terfavorit rumah makan itu yakni cumi hitam, kenang salah satu pegawai.

Sayang banget kalau lo ke sana ngga sempat mencoba cumi hitam karena konon itu adalah menu terenak yang pas buat dimakan bareng menu apapun di sana.

 

Rumah Makan Rasa Rumah Sendiri

Rumah Makan Rasa Rumah Sendiri

Buat orang yang sering skeptis duluan ketika ada tempat makan yang berusaha “memodernkan” warung tradisional, pasti akan berubah pikiran begitu mencicipi berbagai hidangan di sini yang surprisingly enak dan nggak kalah dengan warteg terkenal.

Makan di Wahteg bisa dibilang bagai mimpi jadi kenyataan buat mereka yang senang makanan rumahan, tapi baru bisa nyaman kalau makan di tempat yang bersih, ber-AC, ada Wi-Fi gratis, dan diiringi musik jadul tembang 60-80an.

Nah, buat lo yang termasuk golongan pantang pulang sebelum “sebat” setelah makan, akan lebih bahagia kalau makan di lantai dua. Di sana ada smoking area yang tentu saja masih bernuansa “rumah nenek”, apalagi kalau duduk di sofa dan kursi jadulnya.

Rumah Makan Rasa Rumah Sendiri

 

Totalitas Membawa Kembali Masa Lalu

Lo perlu tau, totalitas Wahteg dalam membawa semua orang untuk bernostalgia perlu diacungi jempol. Pasalnya, segala macam yang ada di rumah makan ini telah melalui berbagai riset pemiliknya. Dari mulai riset yang dilakukan untuk menghadirkan segala macam lauk pauk, hingga yang paling gokil mendatangkan langsung minuman Lemonade cap Nyonya dari Pekalongan sana.

Soal harga juga bikin bahagia karena beragam menu lauk di sana dihargai tidak terlalu jauh dengan rumah makan biasa. Hanya dengan merogoh kocek tidak sampai 50ribu Rupiah, lo sudah bisa menyantap sepiring nasi dengan empat jenis lauk ditambah minum.

Totalitas Membawa Kembali Masa Lalu

Buat lo yang nggak pernah makan di warteg atau mungkin di warung makan lain yang menganut sistem warteg, jangan bingung. Ini nih cara pesan makanan di Wahteg.

Pertama-tama, lo tinggal masuk dan langsung hampiri etalase makanan. Biasanya pegawai akan langsung menandai siapa yang datang duluan, jadi pastikan lo sudah terlihat.

Sambil mengantri untuk dilayani, make a decision! Ini penting, supaya lo tidak perlu kebingungan dan overwhelmed sendiri mau pilih menu apa. Sedikit tips nih, pilih cumi hitam, tumis cumi asin, dan krecek, lalu pilih tempe goreng tepung. Asli, lo nggak akan menyesal! Setelah pilih menu makanan, lo tinggal pilih mau minum apa, lalu bayar deh.

Satu lagi yang penting kalau mau makan di Wahteg. Nikmati dan resapilah makanan dan musik yang ada di sana! Sejauh ini sih rasanya belum ada lagi tempat makan yang menyajikan makanan warteg yang lengkap dengan pengalaman masa-masa tahun 60-80an seperti Wahteg ini, jadi lo wajib coba deh Urbaners!

 

Pemuda Sinarmas: 15 Menit Pertama Masa Krusial untuk Silent Koplo

Thu, 05 March 2020
Pemuda Sinarmas sedang berada dibelakang DJ booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selama tiga hari pagelaran Jakarta International Java Jazz Festival 2020, ada satu tempat yang menyajikan penampilan paling berbeda. Lokasi yang terletak di sisi luar ini bernama MLDSPOT Art and Sound Experience. Sebuah tempat yang menawarkan pengalaman baru menikmati musik dengan “diam-diam” di saat panggung satu dan yang lainnya bersaut-sautan dengan dentuman musik bervolume keras.

Player yang menyajikan musik Silent Koplo ini adalah Pemuda Sinarmas. Ia mengaku baru pertama kali melakukan penampilan dengan cara Silent Koplo. Untungnya Ajis, begitu ia akrab disapa, mendapatkan tempat bermain yang mendukung dan membangun mood pengunjung jadi lebih nyaman menikmat musik Silent Koplo.

Namun environment lokasi Art and Sound ini akan menjadi sia-sia bila Ajis gagal menyajikan playlist yang kurang asik. “Vibenya pas di booth ini orang datang dan pergi, gua harus ngatur playlist, datang pertama vibenya harus koplo santai dulu,kata Ajis saat ditemui usai penampilannya di hari ketiga.

Bagi Ajis tantangan main untuk Silent Koplo adalah harus menyiasati playlist dengan tepat agar orang tetap stay dengan headset-nya. “Kuncinya gua buat nyaman diri gua sendiri dengan playlist, ngebangun mood pelan-pelan. Sejam sih cukup. Yang krusial itu 15 menit pertama, ketika mainin 2-3 lagu, dan lagu pertama itu paling krusial. Untungnya gua ga main sm DJ lain, jadi ga perlu perhatiin dia bawain lagu apa, ini bisa ngebangun mood gua sendiri. Gimmick awal gua tetap sajikan musik yang punya kultur jazz, ini tantangan baru buat gua dan bisa berhasil 90%,ujar Ajis.

Pengunjung Java Jazz Festival 2020 menggunakan headphone di booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selain itu, hal yang terpenting adalah ia harus merespon flow audience yang datang, “karena di Java Jazz Festival gua harus buat mereka nyaman dengan musik-musik yang punya kultur Jazz juga, untungnya gua punya databased kaset Beatles yang dangdut, dari tahun sekitar 80-an. Kalau langsung bpm (tempo musik ) tinggi mereka pasti langsung kabur, beat santai yang punya alunan saksofon dan dentuman kendang itu bisa bikin pengunjung stay, setelah itu baru gua naikin bpm dengan playlist yang funky sesuai booth ini,” kata Ajis yang pernah datang ke acara Silent Disco.

 

BUKAN DJ IDEALIS

Belakangan koplo memang menjadi musik yang paling diminati untuk pengalaman seru-seruan bersama teman bernyanyi dan berjoget bersama. Namun Ajis punya pandangan lain.

“Koplo ini hanya tren aja, gua dulu mainin disko ketika itu gua masukin funky kota dan koplo, lalu saat ini boom koplo. Tantangannya bagaimana kita terus memutarkan roda tren itu. Gua menyadari bahwa bermain musik di elektronik sebisa mungkin bisa disesuaikan dengan tren,”

Sebelum bermain koplo dan disko, dahulu Ajis memulai karier Pemuda Sinarmas dengan memainkan lagu-lagu reggae sampai akhirnya ia kesulitan mencari kasetnya.

Ga selamanya kuping orang kuat dengan musik koplo, bakal jengah pasti.

Gua menyadari bukan DJ yang idealis, gua masukin beragam genre malah di performance gua, tujuannya untuk kasih tau kalau musik Indonesia itu tuh banyak banget. Gua nggak mau terpaku dengan satu genre dan satu identitas kalau Ajis itu DJ anu. Kadang gua mainin etnik juga, lagu Sunda, Banyuwangi, sampai Sumatera. Biar ga stuck dan bisa berkembang,” ujar Ajis.

4 orang pemuda menggunakan headphone di MLDSPOT Art & Sound Experience

Dalam kesempatan yang sama, Ajis meramalkan nantinya orang-orang pasca kelelahan telinganya dengan musik koplo akan balik ke genre house dan RNB, “RNB ga bakal mati. Disko selalu ada dan stabil. Kalau kople belum tentu, waktu gua main di Surabaya gua dilarang mainin koplo. Karena koplo itu udah kulturnya di sana dan mungkin mereka bosen. Tapi sekarang sedang jadi tren di ibu kota,” tutup Ajis.