Home Scoop Warna Baru Syaharani & Queenfireworks di Album "Aloha"
Warna Baru Syaharani & Queenfireworks di Album "Aloha"

Warna Baru Syaharani & Queenfireworks di Album "Aloha"

Monday, September 30, 2019 - 16:06
Bagikan
Facebook Twitter Email

Melanjutkan single "Apa Daya" yang baru dirilis pertengahan September 2019 kemarin, Syaharani & Queenfireworks kini tengah mempersiapkan peluncurkan album ke-4-nya, Urbaners. Berjudul "Aloha", album yang menyuguhkan warna baru dari Diva Jazz Indonesia ini rencananya akan dilepas terlebih dulu secara digital pada 1 Oktober 2019, yang kemudian disusul perilisan CD dalam format fisik.

Nah, pada gelaran Stage Bus Jazz Tour 2019 di Cilegon minggu lalu (25/9), MLDSPOT berkesempatan berbicara panjang lebar mengenai cerita di balik single “Apa Daya” dan album “Aloha” langsung dari Syaharani. Penasaran? Simak wawancara eksklusifnya di bawah, Urbaners!

Warna Baru Syaharani & Queenfireworks di Album "Aloha"

 

Hai, Syaharani. Tadi single “Apa Daya” dibawain di panggung, ya. Cool! Tapi, apa cerita di balik lagu baru ini?

 “Apa Daya” itu sebetulnya lagu yang udah kita bikin sekitar 2 tahun lalu. Jadi ada beberapa kendala-kendala sampai akhirnya bisa selesai; salah satunya karena kehilangan salah satu sahabat kita, yang juga manager kita. Kita lumayan lama berkabung, terutama aku, ya. Terus temen-temen saling nunggu lah, supaya tidak ada rasa yang berat-berat waktu menyelesaikan lagunya.

Setelah itu kita beresin di 2018. Jadi kita arrange lagu itu, aku menginginkan ada dua unsur di dalam lagu “Apa Daya”, ada reggae dan ada swing. Keduanya itu rhythm yang santai, karena swing juga medium to medium fast tempo, itu masih santai banget buat goyang, dan reggae juga. Jadi, kita mengawinkan 2 ritme itu jadi satu.

Buat lirik aku dapet yang santai banget, mengenai gimana kalo misalnya kamu mengalami sesuatu yang kamu itu nggak dapet-dapet waktu untuk bilang, tapi waktunya udah abis. Menunda hal yang penting itu pokoknya jangan kamu lakukan. Message-nya kurang lebih itu.

 

Inspirasi lagu “Apa Daya” bisa dibilang datang dari kepergian sang manager?

Kalo mengenai unsur reggae-nya, almarhum emang salah satu penggemar. Tapi kalo lirik itu kan selalu mempunyai banyak arti dan banyak sisi. Jadi siapapun bisa memaknainya dari berbagai sisi. Dan message yang ada di baliknya itu belum tentu seremeh-temeh bunyi lirik yang jatuh cinta atau cipika-cipika. Balik lagi, “Apa Daya” ini mengajak siapapun buat nggak menunda hal penting sebelum waktunya udah nggak lagi memungkinkan.

 

Barisan liriknya ditulis sendiri? Butuh waktu berapa lama pas bikin?

Lagu dan liriknya aku, tapi aransemennya dari temen-temen. Bikinnya itu cepet banget! Kadang-kadang emang ada lagu yang nyari liriknya itu lama, kayak lagu “Morning Coffee”. Itu pas liriknya udah jadi, masih aku ganti-ganti lagi karena nggak mendapatkan lirik yang simple sesuai dengan aransemen musiknya. Nah, lagu “Apa Daya” ini aku dapet langsung. Kayak pagi-pagi jam 3 terus bikin-bikin dan jadi. Beberapa hari kemudian Kang Donny ke rumah dan kita jamming bareng, gitar-gitaran, dan asik.

Barisan liriknya ditulis sendiri? Butuh waktu berapa lama pas bikin?

 

Nah, menyusul lagu “Apa Daya”, denger-denger Syaharani & Queenfireworks mau rilis album “Aloha” nih dalam waktu dekat. Boleh ceritain sedikit tentang album barunya?

Album “Aloha” ini intinya bersifat compiling. Jadi motif, elemen dan rhythm-nya itu beda-beda setiap lagu. Ada yang fusion banget kaya 80’ fusion, ada yang chill, ada juga di lagu “Oh So Lonely” yang punya warna adult contemporary pop soul, terus kita bikin lagi lagu itu jadi string, jadi pakai orkestra.

Makna dari judul albumnya sendiri itu karena aloha adalah sebuah ungkapan hello and goodbye at the same time di Hawaii. Kalo baru datang say aloha, kalo mau pergi juga say aloha. Artinya, kamu udah bisa seimbang menanggapi hal positif dan negatif di dalam pikiran. Udah bisa seimbang menanggapi kesenangan dan kesedihan. Dengan kata lain, aku membayangkan “Aloha” ini perjalanan kami yang sudah sampai di sebuah area di mana kita mengalami perjalanan yang menempa, kita udah punya sebuah statement bahwa good or bad, kita stay positive!

 

Proses pembuatan albumnya berapa lama?

Setelah semua kesedihan berakhir, bikinnya itu cepet, sekitar bulan September 2018. Karena sistem di Queenfireworks itu setiap ada lagu baru kita pasti jamming sampai enak, sampai masing-masing itu mempunyai interpretasi yang dapet, terus feel-nya udah keluar baru aku bawa ke studio. Nah, ketika udah masuk studio aku udah nggak komentar, aku udah percaya dari apa yang dilatih. Jadi direction-nya natural, nggak kaku, live dan semua udah flowing. Prosesnya itu take 1, take 2, take 3 terus tinggal kita pilih mana yang paling enak. Keseluruhan itu, sampai proses mendengarkan ulang dan pemotretan paling nggak sampai 2 bulan. Cuma latihan dan nyari feel-nya yang lama.

 

Ada pengalaman menarik nggak waktu bikin album “Aloha”?

Sebenarnya yang bikin aku kaget itu karena terlalu cepet bikinnya. Aku nggak menduga itu. Kita nongkrong-nongkrong, main, udah jadi. Prosesnya itu sangat santai banget, kita masih bisa ngopi-ngopi, istirahat. Menurut aku itu sebuah proses mendekati ideal karena kita nggak ada tekanan apapun. Itu sih yang bikin aku amaze dan jadi cerita yang seru pas bikin album.

 

Apa yang membedakan album “Aloha” dari album sebelumnya?

Menariknya, album ini nggak akan rilis dalam format fisik aja. Jadi kita juga kerja sama dengan seorang digital painter dan graphic designer. Dia merespon 4 lagu baru di album “Aloha” dalam sebuah gambar-gambar yang sifatnya polos, kayak cerita anak-anak. Ada cerita pendek di karya-karya dia. Nanti booklet-nya akan ada di dalam CD. Jadi, harus beli fisik, ya! Gambar dan ceritanya itu bagus banget!

Pokoknya, album ini akan sangat berbeda. Kita sudah merasakan perjalanan yang panjang, masing-masing udah menemukan keseimbangan buat meng-compose lagu, mengaransemen dan segala macam. So, that’s why kita lebih mengutamakan estetika seperti bagaimana kita harus bikin musik, mau serumit apapun, jangan sampai orang merasakan kerumitan itu. Istilahnya dalam kehidupan itu, “kamu punya kesulitan apa aja, itu nggak perlu kamu tunjukin!” Kamu beresin aja di dalam, itu tugasnya musician. Output-nya harus tetap terdengar nyaman, enak dan simple.

Apa yang membedakan album “Aloha” dari album sebelumnya?

 

Secara nggak langsung album “Aloha” ini jadi cermin pendewasaan bermusik Syaharani & Queenfireworks, ya. Terus, lagu apa yang jadi favorit Syaharani di album ke-4 ini?

 “Oh So Lonely” dong! Kenapa? Karena aku sering bikin lagu sedih, tapi lagu ini keluar dalam bentuk orkestra yang belum pernah aku lakuin sebelumnya. Aku merasa karya yang aku bikin itu direspon temen-temen dengan sungguh-sungguh dan maksimal. Itu menyenangkan sebagai seorang yang menulis lagunya dengan pola yang sangat simple. Mereka bener-bener memperkaya musiknya, merubah warnanya.

 

Wah, jadi penasaran banget mau dengerin “Oh So Lonely”! Terus, kemarin MLDSPOT intip Instagram Syaharani & Queenfireworks, dan hashtag #jogedtipistipis berkumandang nih di setiap postingan. Punya makna apa, nih?

Hahaha! Kalo joget tipis-tipis itu kan bisa dilakukan siapapun di kantor, di rumah atau colongan. Nggak perlu nyenggol orang di sebelah gitu. Joget yang enak banget, yang bisa merdeka. You feel your body, you feel the music, and that’s so simple, bisa di mana aja. Hashtag ini cocok buat lagu-lagu baru yang ada di album “Aloha”.

 

Pertanyaan terakhir, kasih 3 alasan kenapa CD fisik album “Aloha” wajib dibeli?

Satu, karena kamu akan melihat bentuk baru dari Syaharani & Queenfireworks, which is different dari 3 album yang sebelumnya. Untuk berevolusi itu butuh proses, dan kita sebagai musisi menemukan hasilnya di album baru ini. Kedua, kamu akan mendapatkan artwork yang keren, nggak akan ada di digital. Dan yang ketiga kamu bisa lihat foto-foto black and white yang seru di dalamnya. Liriknya juga berbentuk postcard. Jadi kalo kamu mau mengatakan sesuatu yang sesuai dengan liriknya, kamu bisa kirim langsung postcard itu. Asik, kan?!