• News
  • Whey to Go, Minuman Kekinian yang Lebih Sehat

Whey to Go, Minuman Kekinian yang Lebih Sehat

Fri, 08 November 2019
Minuman kekinian dengan rasa enak tapi tetap sehat!

Beberapa tahun belakangan ini, minuman boba memang telah menjadi tren yang nggak tergantikan! Rasanya kalau dalam seminggu belum “ketemu” boba, ada yang kurang, deh. Memang sih nggak ada salahnya mengikuti tren ini. Tapi, lo tetap wajib peduli dengan kesehatan diri. Soalnya, terlalu banyak mengonsumsi minuman kekinian yang manis ini bisa bikin diabetes lho! Data kesehatan yang dipublikasikan di National Insititutes of Health menyebutkan, kandungan gula dalam segelas minuman boba sudah melebihi asupan gula harian orang dewasa.

Nah, buat lo yang tetap ingin sering minum boba tapi tetap menjaga kesehatan, lo wajib cobain Whey To Go! Ya, ini adalah minuman kekinian dengan rasa yang tetap enak tapi gulanya nggak berlebihan. Nggak perlu khawatir dengan diabetes! Simak ceritanya di sini, Urbaners!

 

Berbahan Dasar Whey

Menurut Norman, salah satu founder dan owner dari Whey To Go, bahan dasar dari minuman mereka ini adalah whey yang merupakan olahan dengan kandungan protein. “Whey berasal dari susu yang diproses dalam pembuatan keju. Sisa dari proses tersebut menghasilkan whey. Whey sering dipakai untuk suplemen orang-orang yang giat latihan di gym dan juga ada pada susu formula bayi,” jelas Norman.

Topping juga mengandung kalori,lho. Jadi  tentukan pilihan lo untuk batasan kalori yang tepat.

Bisa dibilang Whey To Go juga memberi edukasi kepada masyarakat yang selama ini menganggap bahwa whey hanya bisa dikonsumsi oleh orang dewasa yang ingin membangun massa otot. “Padahal manfaat whey nggak terbatas pada itu saja, dan mengkonsumsi whey nggak bikin otot gede kok,” jelas Norman lagi.

Menjawab permintaan pasar yang saat ini sedang booming dengan minuman boba, Norman dan tiga temannya menyulap whey menjadi minuman kekinian yang sehat. Dengan pengemasan yang unik, topping yang beragam, rasa yang varian, tapi tetap sehat Whey To Go dirilis pada 25 September 2019 lalu bertempat di Lippo Mall Puri Jakarta.

 

Minuman Kekinian yang Sehat

Sampai saat ini sudah ada 10 jenis rasa Whey To Go dengan empat pilihan topping yaitu Regal, Oreo, boa dan shira bites. Keunikan dari Whey To Go selain bahan dasar whey yang sehat adalah lo bisa tahu kandungan dan berapa kalori dari minuman yang lo konsumsi.

Pengemasan yang unik juga bisa bikin orang tertarik membeli dan posting di sosmed deh!

Dalam segelas Whey To Go mengandung 156 – 170 kalori, kalau ditambah topping Oreo berarti bakal ada tambahan sekitar 84 kalori lagi. “Kenapa kami membuat informasi detail mengenai kandungan kalori per gelas minuman, supaya konsumen tahu berapa banyak kalori yang akan dikonsumsinya. Ini adalah edukasi, supaya kita sadar dengan kandungan makanan yang kita konsumsi dan nggak asal masuk saja,” tambah Norman.

Sebagai salah satu produsen minuman yang mengusung konsep hidup sehat, manajemen Whey To Go sangat menjaga penggunaan bahan-bahannya. Sebagai pengganti gula, Whey To Go menggunakan sucralose dan stevia.

Selain itu, shira bites sendiri terbuat dari konyaku jelly yang kandungan kalorinya hampir nol. “Sebenarnya penambahan topping karena memang kebanyakan konsumen kan senang dengan tekstur dalam minuman. Makanya kami menambahkan topping shira bites supaya ada yang dikunyah,” kata Norman sembari menambahkan kalau varian best seller Whey To Go adalah rasa Choco Malt dengan topping Oreo.

 

Rasa yang Sedikit Berbeda untuk Hidup Lebih Sehat

Namanya olahan sehat, tentunya ada rasa yang sedikit berbeda antara minuman boba yang memang diolah dengan gula asli dan gula stevia. “Kalau soal rasa yang memang kami akui nggak bisa bersaing dengan boba lain, tapi market untuk minuman sehat ini ada kok. Buktinya ada perkembangan signifikan dari penjualan yang menunjukkan penyuka Whey To Go ada,” Norman mengomentari.

Suasana di Whey To Go Lippo Puri Indah Mall Jakarta

Nggak bisa disangkal kalau kesadaran untuk hidup sehat sekarang kian berkembang. Sudah semakin banyak produsen makanan yang beralih ke menu-menu sehat. Pun, pusat kesehatan dan kebugaran juga semakin berkembang, diminati, dan memperluas jenis aktivitasnya.

“Ini merupakan pertanda baik dan sebagai produsen makanan dan minuman sehat, Whey To Go menjawab kebutuhan pasar ini,” kata Norman lagi. Sekarang ini bukan hanya pegiat fitness saja yang mengkonsumsi Whey To Go, tetapi juga masyarakat umum. Saat weekend pangsa pasar paling besar adalah keluarga.

Selain concern pada kandungan dan bahan, tim Whey To Go juga punya konsentrasi khusus pada pengemasan. Secara gamblang Norman mengatakan kalau dia mengusung konsep judge a book by its cover.

“Sekarang ini produk sudah banyak ragamnya, konsumen nggak sempat lagi memilah-milah, pasti yang pertama dilihat konsumen bentuknya gimana. Bagus nggak kalau difoto. Ya, mau nggak mau kami harus pintar-pintar membuat kemasan, supaya konsumen mau beli dan ternyata setelah rasanya nggak mengecewakan bakal beli lagi kan?” jelas Norman.

Sebelum menutup percakapan, Norman sempat membocorkan rencana pembukaan gerai baru Whey To Go di 10 lokasi, di luar Jakarta. Pun, Whey To Go tetap berinovasi dalam soal varian rasa seperti taro dan choco mint. Hmm… kalau lo tertarik rasa yang mana nih, Urbaners?

 

Pemuda Sinarmas: 15 Menit Pertama Masa Krusial untuk Silent Koplo

Thu, 05 March 2020
Pemuda Sinarmas sedang berada dibelakang DJ booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selama tiga hari pagelaran Jakarta International Java Jazz Festival 2020, ada satu tempat yang menyajikan penampilan paling berbeda. Lokasi yang terletak di sisi luar ini bernama MLDSPOT Art and Sound Experience. Sebuah tempat yang menawarkan pengalaman baru menikmati musik dengan “diam-diam” di saat panggung satu dan yang lainnya bersaut-sautan dengan dentuman musik bervolume keras.

Player yang menyajikan musik Silent Koplo ini adalah Pemuda Sinarmas. Ia mengaku baru pertama kali melakukan penampilan dengan cara Silent Koplo. Untungnya Ajis, begitu ia akrab disapa, mendapatkan tempat bermain yang mendukung dan membangun mood pengunjung jadi lebih nyaman menikmat musik Silent Koplo.

Namun environment lokasi Art and Sound ini akan menjadi sia-sia bila Ajis gagal menyajikan playlist yang kurang asik. “Vibenya pas di booth ini orang datang dan pergi, gua harus ngatur playlist, datang pertama vibenya harus koplo santai dulu,kata Ajis saat ditemui usai penampilannya di hari ketiga.

Bagi Ajis tantangan main untuk Silent Koplo adalah harus menyiasati playlist dengan tepat agar orang tetap stay dengan headset-nya. “Kuncinya gua buat nyaman diri gua sendiri dengan playlist, ngebangun mood pelan-pelan. Sejam sih cukup. Yang krusial itu 15 menit pertama, ketika mainin 2-3 lagu, dan lagu pertama itu paling krusial. Untungnya gua ga main sm DJ lain, jadi ga perlu perhatiin dia bawain lagu apa, ini bisa ngebangun mood gua sendiri. Gimmick awal gua tetap sajikan musik yang punya kultur jazz, ini tantangan baru buat gua dan bisa berhasil 90%,ujar Ajis.

Pengunjung Java Jazz Festival 2020 menggunakan headphone di booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selain itu, hal yang terpenting adalah ia harus merespon flow audience yang datang, “karena di Java Jazz Festival gua harus buat mereka nyaman dengan musik-musik yang punya kultur Jazz juga, untungnya gua punya databased kaset Beatles yang dangdut, dari tahun sekitar 80-an. Kalau langsung bpm (tempo musik ) tinggi mereka pasti langsung kabur, beat santai yang punya alunan saksofon dan dentuman kendang itu bisa bikin pengunjung stay, setelah itu baru gua naikin bpm dengan playlist yang funky sesuai booth ini,” kata Ajis yang pernah datang ke acara Silent Disco.

 

BUKAN DJ IDEALIS

Belakangan koplo memang menjadi musik yang paling diminati untuk pengalaman seru-seruan bersama teman bernyanyi dan berjoget bersama. Namun Ajis punya pandangan lain.

“Koplo ini hanya tren aja, gua dulu mainin disko ketika itu gua masukin funky kota dan koplo, lalu saat ini boom koplo. Tantangannya bagaimana kita terus memutarkan roda tren itu. Gua menyadari bahwa bermain musik di elektronik sebisa mungkin bisa disesuaikan dengan tren,”

Sebelum bermain koplo dan disko, dahulu Ajis memulai karier Pemuda Sinarmas dengan memainkan lagu-lagu reggae sampai akhirnya ia kesulitan mencari kasetnya.

Ga selamanya kuping orang kuat dengan musik koplo, bakal jengah pasti.

Gua menyadari bukan DJ yang idealis, gua masukin beragam genre malah di performance gua, tujuannya untuk kasih tau kalau musik Indonesia itu tuh banyak banget. Gua nggak mau terpaku dengan satu genre dan satu identitas kalau Ajis itu DJ anu. Kadang gua mainin etnik juga, lagu Sunda, Banyuwangi, sampai Sumatera. Biar ga stuck dan bisa berkembang,” ujar Ajis.

4 orang pemuda menggunakan headphone di MLDSPOT Art & Sound Experience

Dalam kesempatan yang sama, Ajis meramalkan nantinya orang-orang pasca kelelahan telinganya dengan musik koplo akan balik ke genre house dan RNB, “RNB ga bakal mati. Disko selalu ada dan stabil. Kalau kople belum tentu, waktu gua main di Surabaya gua dilarang mainin koplo. Karena koplo itu udah kulturnya di sana dan mungkin mereka bosen. Tapi sekarang sedang jadi tren di ibu kota,” tutup Ajis.