Trending
Kamis, 11 Juni 2026

Lo Gak Harus Ikut Lari Marathon

  • Share
  • fb-share
Lo Gak Harus Ikut Lari Marathon

Tren lari marathon terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Bukan cuma pelari profesional, banyak orang kini mulai tertarik mengikuti ajang lari 5K, 10K, half marathon, hingga full marathon sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Di balik manfaatnya, marathon bukan sekadar soal kuat berlari hingga garis finis. Olahraga dengan kategori endurance ini menuntut persiapan fisik, strategi latihan, hingga kemampuan mengenali batas tubuh sendiri. Jika diabaikan, risikonya bukan hanya cedera, tetapi juga gangguan kesehatan yang lebih serius.

Banyak dokter olahraga menegaskan bahwa marathon bukan olahraga yang berbahaya jika dijalani dengan persiapan yang matang. Sebaliknya, masalah sering muncul ketika seseorang mengikuti lomba tanpa latihan yang cukup atau memaksakan diri mengejar target waktu.

Bagi pemula, waktu latihan ideal sebelum mengikuti marathon berkisar antara 10 hingga 16 minggu. Selama periode tersebut, intensitas latihan sebaiknya ditingkatkan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi.

Kalau lo sudah lama tidak berolahraga, jangan langsung memaksakan diri berlari jarak jauh. Mulailah dari latihan ringan, misalnya mengombinasikan jalan kaki dan lari, lalu tingkatkan jarak maupun kecepatan secara perlahan.

Baca juga: Pegiat Maraton Siap-siap Harga Sepatu Running Meroket Tajam!

persiapan marathon untuk pemula
Photo by Nobleseed Nobleseed/Pexels

Pemeriksaan Kesehatan Itu Wajib

Selain latihan, kondisi kesehatan juga perlu diperhatikan sebelum mengikuti lomba.

Hal ini terutama berlaku bagi pelari yang berusia di atas 35 tahun, memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga, atau mengalami keluhan seperti nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, maupun mudah lelah saat beraktivitas.

Pemeriksaan kesehatan dapat membantu mendeteksi gangguan yang sebelumnya tidak disadari sehingga risiko komplikasi saat marathon bisa diminimalkan.

Jangan Abaikan Alarm yang Diberikan Tubuh Saat Berlari

Salah satu penyebab pelari mengalami kolaps adalah mengabaikan sinyal bahaya yang sebenarnya sudah diberikan tubuh.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai saat marathon meliputi:

  • Pusing atau seperti akan pingsan
  • Nyeri atau rasa tertekan di dada
  • Sesak napas yang tidak sesuai dengan intensitas lari
  • Detak jantung terasa sangat cepat atau tidak beraturan
  • Kebingungan atau sulit berkonsentrasi
  • Menggigil di tengah cuaca panas
  • Keram otot yang semakin berat
  • Mual atau muntah

Kalau salah satu gejala tersebut muncul, jangan memaksakan diri demi mengejar garis finis. Segera perlambat langkah, berhenti, cari tempat yang teduh bila memungkinkan, dan minta bantuan petugas medis.

Baca juga: Ikut Marathon Jadi Pelari Kalcer Ga Sih?

persiapan half marathon
Photo by @ytby.runner/Instagram

Risiko Tidak Berhenti Saat Tubuh Sudah Kelelahan

Memaksakan tubuh terus berlari saat sudah mengalami kelelahan berat juga dapat meningkatkan risiko rhabdomyolysis.

Rhabdomyolysis merupakan kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan sehingga melepaskan protein bernama mioglobin ke dalam aliran darah. Jika jumlahnya terlalu banyak, ginjal dapat bekerja lebih berat hingga berisiko mengalami cedera ginjal akut.

Gejalanya tidak selalu muncul saat lomba berlangsung. Pada sebagian orang, tanda-tandanya baru dirasakan dalam satu hingga tiga hari setelah olahraga berat.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Nyeri otot yang tidak biasa
  • Tubuh terasa sangat lemas
  • Mual
  • Dehidrasi
  • Frekuensi buang air kecil berkurang
  • Urine berwarna gelap

Kalau lo mengalami kondisi tersebut setelah mengikuti marathon, segera lakukan pemeriksaan medis agar penanganan bisa diberikan sedini mungkin.

Benarkah Marathon Meningkatkan Risiko Kanker Usus Besar?

Belum lama ini, sebuah penelitian juga menemukan adanya hubungan antara lari jarak jauh dan ditemukannya polip yang berpotensi berkembang menjadi kanker usus besar pada sebagian pelari serius.

Namun, temuan tersebut masih bersifat awal. Penelitian hanya melibatkan sekitar 100 pelari, belum memiliki kelompok pembanding nonpelari, dan belum membuktikan bahwa marathon menjadi penyebab kanker usus besar.

Karena itu, hasil penelitian ini masih memerlukan kajian lebih lanjut dan tidak berarti orang harus berhenti berlari.

Justru hingga saat ini, berbagai penelitian masih menunjukkan bahwa aktivitas fisik, termasuk lari, memberikan banyak manfaat bagi kesehatan serta membantu menurunkan risiko berbagai penyakit kronis.

Target Utamanya Bukan Sekadar Finis

Mengikuti marathon memang memberikan kepuasan tersendiri, apalagi jika berhasil mencatat waktu terbaik. Namun, target utama seharusnya bukan hanya mencapai garis finis, melainkan menyelesaikan lomba dengan aman.

Persiapan latihan yang cukup, pola makan dan hidrasi yang baik, pemanasan sebelum berlari, serta kemampuan mengenali batas tubuh merupakan kunci agar pengalaman mengikuti marathon tetap menyenangkan sekaligus minim risiko.

Pada akhirnya, tidak ada catatan waktu maupun personal best yang lebih berharga dibandingkan kesehatan tubuh lo.

Comments
No one has commented yet. Be the first to comment on this article!