Ario Anindito: Hadirkan Sentuhan Indonesia untuk Marvel dan DC Comics

Tuesday, August 27, 2019 - 13:42

Sejak lama, Marvel dan DC Comics telah dikenal sebagai raksasa komik yang berasal dari Amerika Serikat. Keduanya sampai sekarang masih terus memberikan pengaruh ke berbagai penjuru dunia lewat beragam karya yang menghibur dan berkualitas. Hal tersebut tentu saja nggak lepas dari adanya kerja sama dengan para talenta terbaik dari sejumlah negara.

Well, kita pun patut berbangga, Urbaners. Soalnya, ada beberapa komikus dan ilustrator Indonesia yang ikut dilirik oleh pihak Marvel dan DC Comics. Salah satu di antaranya adalah Ario Anindito. Pria kelahiran 1984 ini mengakui bahwa dirinya sudah hobi menggambar sejak usia 6 tahun dan bercita-cita menjadi komikus saat kelas 3 SD. Tapi, ia baru benar-benar berlatih secara otodidak dan serius mengerjakan komik saat lulus dari jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan tahun 2007.

 Hadirkan Sentuhan Indonesia untuk Marvel dan DC Comics

Secara garis besar, Ario memulai karirnya dengan membuat komik “Nadya and the Painkillers” dalam kompilasi komik “SPARX” yang dirilis oleh sebuah penerbit indie lokal pada tahun 2008. Berlanjut ke tahun-tahun berikutnya, Ario sempat bekerja di industri film dan advertising sebagai concept artist dan art director sambil terus meng-upload gambar-gambarnya ke berbagai situs, termasuk DeviantArt.

Hingga suatu ketika di tahun 2010, hasil karya Ario ternyata menarik perhatian pihak agency asal Italia yang menawarkan diri untuk menjadi semacam agent atau perwakilannya. Meski sempat ragu, Ario akhirnya setuju untuk bergabung dengan agency yang kemudian turut mengubah hidupnya itu.

 

Tetap Berciri Khas dan Bersenang-senang Lewat Komik

Berselang dua tahun, kerja sama Ario dengan agency asal Italia itu pun berhasil membawa karirnya ke tahap baru. Agency tersebut menghubungkannya dengan DC Comics, menandai awal mula kiprahnya di perusahaan tersebut. Saat itu, dirinya langsung mendapat tugas untuk mengerjakan total 12 halaman back up story untuk dua komik, yaitu “Red Hood and The Outlaws #10-11”.

Tetap Berciri Khas dan Bersenang-senang Lewat Komik

Meski tawaran menggiurkan DC Comics datang ketika Ario sedang terlibat dalam syuting film, nyatanya dia mampu untuk menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. “Perjuangan itu worth it, saya bisa tembus ke DC dan saya sebagai art director ‘Finding Srimulat’ juga masuk nominasi Piala Maya,” ujarnya.

Namun demikian, saat ini tugas Ario di DC Comics nggak lagi berkutat di halaman-halaman komik. Dia kini lebih fokus berperan sebagai desainer statue dan action figure. Beberapa karakter yang pernah didesainnya antara lain Wonder Woman, Joker, Harley Quinn, Batman, dan Cat Woman.

Sementara untuk Marvel, proses yang harus dilalui Ario di tahun 2014 bisa dibilang agak lebih berliku. Nggak seperti DC Comics, Marvel memberikan tes terlebih dahulu, di mana ia diminta untuk membuat lima halaman dari sample skrip “Guardians of the Galaxy”. Walau sempat bentrok dengan persiapan Singapore Comic Con, untungnya pihak Marvel bisa memakluminya.

Dua bulan setelah menjalani tes dari Marvel, Ario akhirnya mendapat titik terang. Pihak Marvel menyukai karyanya dan menanyakan karakter Marvel favoritnya. Usai menjawab X-Men, dia lalu diminta untuk mengerjakan dua episode dari seri Wolverine. Secara khusus, dia dipercaya untuk menjadi penciller dan inker, dengan proses pengerjaan satu komik biasanya memakan waktu sekitar lima minggu. Keterlibatannya di Marvel pun masih berlanjut hingga sekarang, dengan karya-karya terbarunya antara lain “Hulkverines!” dan “Sword Master”.

Tetap Berciri Khas dan Bersenang-senang Lewat Komik

FYI, ada satu kisah lucu dan menarik nih dari karya-karya Ario di Marvel. Dia ternyata suka menyisipkan gambar-gambar lucu bertema Indonesia ke dalam hasil karyanya. Beberapa waktu lalu contohnya, dia menambahkan gambar Macan Cisewu di punggung Deadpool.

Memangnya boleh ya menggambar sesuatu yang nggak berkaitan langsung dengan Marvel? Kalau menurut Ario, hal seperti itu masih diperbolehkan kok, Urbaners. Dengan catatan, gambarnya masih dalam konteks humor kreatif dan nggak menyinggung politik atau SARA. “It’s a form of having fun in making comics,” katanya.

Di sisi lain, yang menjadi tantangan tersendiri bagi Ario adalah perbedaan waktu antara dirinya yang berada Bandung dan Marvel di Amerika Serikat. Mau nggak mau dirinya harus menyesuaikan diri jika tiba-tiba mendapat feedback tengah malam di jam tidurnya. Di samping itu, ada kalanya dia juga merasa jenuh saat harus mengerjakan seri yang sama berturut-turut. Selebihnya di luar itu, dia merasa nggak begitu banyak kendala.

Tetap Berciri Khas dan Bersenang-senang Lewat Komik

Kedepannya, Ario berharap bisa lebih banyak berkarya dan melebarkan sayap di level internasional. Misalnya saja, selain terlibat dalam komik Marvel atau DC Comics, ia ingin terlibat pula dalam proses kreatif di dunia film Hollywood. Nggak lupa, Ario pun ingin mengajak teman-teman sesama komikus untuk terus berkarya dan membawanya ke tingkat dunia.

Masih penasaran dengan pengalaman dan perjalanan karir Ario Anindito? Tenang, lo bisa intip obrolan kami lebih lanjut bersama Ario di MLDSPOT TV Season 4 episode 7 dengan tema “Komik dan Para Jagoan”. Tonton videonya di YouTube Channel MLDSPOT TV, lalu subscribe, and get yourself inspired!

Bagikan
Facebook Twitter Email