Dari Seni Pertunjukan Hingga Art Merchandise, Ini Cara Wulang Sunu Mengekspresikan Seni

Wednesday, September 4, 2019 - 16:25

Ada banyak cara untuk menikmati seni, salah satunya melalui art merchandise. Istilah art merchandise biasa digunakan untuk menyebut barang-barang bernilai seni tinggi yang dihasilkan secara pribadi oleh para seniman atau dengan berkolaborasi bersama brand tertentu. Barang-barang semacam ini umumnya menjadi semacam fashion statement tersendiri.

Meski kerap diproduksi secara terbatas, art merchandise sebenarnya tetap dapat membantu para seniman memperluas pasar, sehingga karyanya semakin dikenal dan dimiliki lebih banyak orang. Soalnya, karya yang dijual nggak hanya berupa original art, tapi juga produk turunan lain yang bahkan sampai ke produk sehari-hari dan dapat menjadi alternatif koleksi yang menarik.

Hal serupa pun telah dilakukan oleh Wulang Sunu, seorang visual artist asal Yogyakarta. Lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia ini memulai karirnya di tahun 2010 bersama Papermoon Puppet Theater. Saat itu, ia dipercaya untuk merancang ilustrasi latar belakang pertunjukan dan kemudian ditawari untuk membuat sampul buku Papermoon. Dari situlah dia akhirnya mulai tampil hingga ke Singapura dan Australia serta memiliki ketertarikan yang semakin besar terhadap seni rupa.

Namun demikian, Wulang lalu memutuskan untuk beranjak dari Papermoon Puppet Theater di tahun 2017. Keputusan tersebut diambilnya agar nggak terjebak dalam zona nyaman. Terbukti, dengan berbekal pengalaman dari Papermoon Puppet Theater, pria berusia 27 tahun ini justru menemukan banyak kemungkinan baru dan hal yang benar-benar dia sukai saat berkarir secara mandiri.

“Di situ aku mendapat banyak pengalaman bagaimana mengungkapkan sebuah gagasan dengan medium tertentu yang bisa membuatnya menancap ke benak orang yang menikmati karya yang disuguhkan,” jelas Wulang.

 

Terus Mengembangkan Diri Sebagai Visual Artist

Kini, Wulang tergabung dalam Studio Batu, sebuah kelompok kreatif yang berfokus pada beragam subjek seperti musik, puisi, film, dan visual art. Proyek seni yang pernah mereka garap antara lain film pendek “Prenjak”, pertunjukan kolaborasi Tenun dan Wayang bersama brand lokal IKAT, serta puppet theater “While You’re Away” yang telah dipentaskan di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta.

Selain aktif di pertunjukannya, Wulang ikut terlibat dalam pembuatan original merchandise Studio Batu, yaitu Milof & Milord™. Jenis-jenis merchandise yang dihasilkan meliputi T-Shirt, picture book, tote bag, dan masih banyak lagi. Berbagai item itu nggak semata-mata hasil karya Wulang bersama Studio Batu, tapi ada pula yang turut melibatkan pihak lain. Yang terbaru contohnya, mereka berkolaborasi dengan Mbahmu Salto untuk membuat merchandise #BingoYK, sebuah acara tribute untuk para Idol 48.

Terlepas dari itu, Wulang pun kerap berkolaborasi secara pribadi dengan pihak-pihak lain dalam membuat art merchandise. Misalnya saja, penggemar karya-karya David Beauchard ini pernah mengerjakan 4 desain exclusive tote bag untuk Greenhost dalam rangka perayaan 4 tahun berdirinya hotel yang berlokasi di Yogyakarta tersebut. Nggak ketinggalan, dia juga membuat sebuah publisher khusus picture book bernama Pickpockie Books.

Well, nggak bisa dipungkiri, apa yang dilakukan Wulang sekarang—termasuk melalui art merchandise—jelas dapat mengarahkannya menuju karir yang menjanjikan. Ditambah lagi, masih banyak tema-tema yang bisa digali untuk berbagai karyanya, khususnya yang terkait dengan kearifan lokal seperti yang selama ini sudah dia kerjakan. Walau begitu, dia menyadari bahwa semua hal tersebut harus melalui proses yang memerlukan waktu, konsistensi, dan optimisme.

Yup, itu dia sepenggal kisah Wulang dan perjalanan karirnya sebagai visual artist, Urbaners. Untuk lebih lengkapnya, langsung aja lo tonton MLDSPOT TV Season 4 episode 8 dengan tema “Art Merchandise”. Subscribe YouTube Channel MLDSPOT TV, and get yourself inspired!

Bagikan
Facebook Twitter Email