Destinasi Sumba Timur, Hidden Gem dengan Sejuta Keindahan Nusantara

Tuesday, October 8, 2019 - 10:59

Berbicara tentang Sumba, sebagian di antara lo mungkin masih masih berpikir dua kali untuk datang ke sana karena lokasinya yang terbilang jauh. Padahal, pulau yang terletak di timur Indonesia ini memiliki beragam destinasi wisata alternatif spesial yang sayang banget untuk dilewatkan. Lo harus banget datang ke sana dan menyaksikan sendiri keindahannya, Urbaners.

Memang ada apa saja sih di Sumba? Well, pulau di Nusa Tenggara Timur ini terkenal dengan daya tarik landscape-nya yang unik. Bukit-bukit megah, hamparan savana luas, beragam jenis air terjun, serta sungai besar semua bisa lo temukan di sini. Recommended banget buat lo yang mencari pengalaman otentik di alam terbuka.

Selama dua hari, bersama travel blogger Marischka Prudence MLDSPOT telah mengeksplor berbagai destinasi wisata Sumba, khususnya di Sumba Timur. Berikut ini adalah beberapa pilihan yang bisa lo jadikan referensi:

 

Bukit Tenau

Bukit Tenau

Berada di Desa Mauliru, Bukit Tenau jaraknya sangat dekat dari Morinda Villa & Resto. Sedangkan dari Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, Bukit Tenau bisa ditempuh dengan kurang lebih 30-40 menit berkendara. Kalau lo bingung dengan petunjuk arahnya, lo bisa langsung bertanya-tanya pada warga sekitar biar nggak nyasar. At least lo bisa berkendara dulu sampai Jembatan Kambaniru.

Satu hal yang perlu lo ingat kalau mau ke Bukit Tenau adalah ada baiknya lo berangkat sekitar jam 5 pagi, jadi lo bisa tiba sebelum sunrise. Soalnya, sunrise di sini memang kebangetan bagusnya. Siap-siap terbius juga dengan pemandangan bukit dan padang rumputnya yang hijau. Ditemani hembusan semilir angin, lo pun bisa duduk-duduk santai menikmati  panormanya sekitar, bahkan sekalian bermeditasi.

 

Air Terjun Wai Marang

Air Terjun Wai Marang

Bernama asli La Winnu, destinasi kedua ini sekarang lebih dikenal dengan nama Wai Marang. Air terjun ini ramai dikunjungi sejak tahun 2015, setelah seorang pemuda lokal membagikan foto-fotonya di media sosial. Pemuda tersebut awalnya hanya sedang berjalan-jalan di hutan, tapi kemudian nggak sengaja menemukan tempat ini.

Lantas, kenapa namanya berubah? FYI, La berarti “di” atau “tempat”, sedangkan Winnu berarti “pinang”. Nama tersebut menjelaskan pinggiran sungai yang banyak ditumbuhi pohon pinang. Namun demikian, kalau mencari lokasinya di maps, nama yang muncul adalah Wai Marang. So, para pengunjung akhirnya lebih sering menggunakan nama Wai Marang ketimbang La Winnu.

Untuk bisa sampai di Air Terjun Wai Marang, perjuangannya memang agak menantang. Dari Bukit Tenau, jaraknya hampir dua jam perjalanan mobil, itu saja baru sampai area parkir. Selanjutnya, lo masih harus trekking sekitar 20 menit untuk sampai di air terjun. Tebing air terjunnya sendiri nggak terlalu tinggi, sedangkan kolam sungai di bawahnya berwarna biru kehijauan dengan kedalaman lebih dari dua meter. Cocok banget buat cliff jumping.

Btw, kalau lo mau ke Air Terjun Wai Marang, pastikan lo datang di musim kemarau. Kalau lagi hujan, kemungkinan besar lo harus mengurungkan niat lo untuk turun karena airnya mudah meluap dan warnanya jadi cokelat berlumpur. Sayang banget ‘kan kalau lo datang di waktu yang nggak tepat?

 

Pantai Walakiri

Pantai Walakiri

Pantai yang satu ini ikonik dengan scenery pohon bakau kecil. Pantai walakiri lebih dekat dari Kota Waingapu, sekitar 30 menit berkendara. Tapi, waktu terbaik untuk datang ke pantai ini adalah sore hari, setelah air mulai surut. Dengan tanah pantai landai bertekstur unik, pasir putih memanjang, ombak tenang, menjadikan pantai ini tempat yang asyik untuk bersantai menikmati sunset. Jajaran pohon kelapa dan sekumpulan pohon bakau liar pun menjadi spot favorit para traveller untuk menjadi background foto di sini.

Menurut cerita yang beredar, penduduk turun temurun di pesisir ini adalah pendatang dari Pulau Sabu. Kabarnya, orang Sumba Timur asli justru nggak mau tinggal di pesisir. Di sisi lain, Pantai Walakiri pernah menjadi salah satu lokasi yang dilalui dalam Parade Kuda 1001 Sandalwood, sebuah event nasional tahunan di Sumba yang pesertanya adalah para lelaki yang menunggang kuda.

 

Puru Kambera

Puru Kambera

Ngomongin Sumba Timur, tentu nggak lepas dari savana dan bukit-bukit. Yang lebih uniknya lagi, warna landscape-nya berubah tiga kali dalam setahun. Saat kami datang, kebetulan warnanya lagi cokelat menguning. Salah satunya bisa dilihat di Puru Kambera, yang berjarak sekitar 25km dari kota Waingapu.

Nah, buat lo yang ingin melihat tingkah laku kuda liar Sumba di alam bebas, Puru Kambera ini adalah tempatnya. Gerombolan kuda tersebut akan lebih sering terlihat di musim kemarau karena di saat itulah savana di Puru Kambera menjadi sangat kering, sehingga mereka akan lebih aktif merumput di luar hutan untuk mencari makan. Tapi, berhubung kuda-kuda tersebut sangat peka, lo harus ekstra hati-hati ya kalau mau melihat lebih dekat.

Selain menyajikan savana luas berbatu karang tempat kuda-kuda liar merumput, nggak jauh dari sini ada pula Pantai Cemara yang hanya berjarak sekitar 15 menit. Background hamparan biru laut dari kejauhan terlihat kontras dengan warna kuning savana ketika musim kemarau.

 

Air Terjun Tanggedu

Air Terjun Tanggedu

Balik lagi ke air terjun, ada Air Terjun Tanggedu, yang merupakan salah satu destinasi favorit Prue di Sumba Timur. Air terjun ini jenisnya berbeda dari Wai Marang, tapi masih tetap bisa untuk cliff jumping karena tebingnya nggak terlalu tinggi. Ada tiga sungai yang terhubung jadi satu di sini. Epic banget deh pokoknya, Urbaners!

Jarak dari Waingapu ke Air Terjun Tanggedu sekitar 90 menit berkendara. Setelah itu, lo harus berjalan sekitar 45 menit untuk mencapai lokasi air terjun. Nggak mudah sih, tapi semua itu akan worth it begitu lo sampai dan melihat pemandangan air terjunnya. Pengunjung yang datang ke sini pun biasanya akan menghabiskan waktu untuk berenang di kolamnya yang dikelilingi tebing.

Oiya, menurut cerita penduduk setempat, Air Terjun Tanggedu baru populer dalam beberapa tahun terakhir. Akses dan petunjuk ke air terjun ini mulai digarap pada tahun 2015, setelah kelompok warga lokal melakukan studi banding ke Yogyakarta dan mendapat bantuan dana untuk mengelolanya menjadi destinasi wisata. Di tahun yang sama, Ernest Prakasa juga pernah datang ke untuk survei dan kemudian syuting film “Susah Sinyal”. Semenjak itu, air terjun ini akhirnya menjadi destinasi top di Sumba.

 

Bukit Wairinding

Bukit Wairinding

Menutup rangkaian perjalanan kami, destinasi terakhir ini merupakan salah satu spot favorit untuk melihat perbukitan dan hamparan padang rumput hijau Sumba Timur dari kejauhan. Dari Waingapu, Bukit Wairinding bisa ditempuh dengan 30-45 menit berkendara.

Waktu terbaik untuk berkunjung ke sini adalah saat sunset. Sama seperti destinasi sebelumnya, lagi-lagi tempat ini baru ramai sejak tahun 2015, setelah dijadikan lokasi syuting film “Pendekar Tongkat Emas” dan “Susah Sinyal”. Menariknya, penduduk setempat ternyata sampai nggak menyangka kalau banyak orang rela datang jauh-jauh demi melihat pemandangan yang biasa mereka saksikan setiap hari.

Nggak ketinggalan, di Bukit Wairinding terdapat kuda ikonik bernama “Putri Warinding” yang bisa ditunggangi oleh para pengunjung. Lo juga bisa menyewa kain Sumba sebagai pelengkap untuk berfoto. Dijamin, postingan lo nanti akan dapat banyak likes, Urbaners.

 

Gimana, yakin masih mau mikir dua kali untuk datang ke Sumba? Biar lo makin kebayang sebagus apa pemandangan dan pengalaman yang bisa lo dapat, langsung tonton video perjalanan kami dan Prue di Sumba selengkapnya di  MLDSPOT TV Season 4 episode 13 dengan tema “Wild Wild East”. Subscribe YouTube Channel MLDSPOT TV, and get yourself inspired!

Bagikan
Facebook Twitter Email