Berani Berkunjung Ke Museum Pada Malam Hari

Thursday, February 9, 2017 - 10:40

Yogyakarta memang salah satu destinasi yang terbaik di Indonesia. Banyak banget yang bisa lo kunjungi. Kota gudeg ini memiliki segudang kenyamanan yang membuat turis lokal maupun internasional terus kembali. Kalau yang lo tau Yogyakarta hanyalah Candi Prambanan, Malioboro, dan gudeg merconnya, berarti harus mencoba yang namanya Night at the Museum. Yap, seperti cerita di film, program ini memang memberikan lo pengalaman berkunjung ke museum di malam hari. Dibentuk oleh komunitas Yogyakarta Night At The Museum, program ini nggak cuma edukatif, tetapi juga seru banget!

Bagikan
Facebook Twitter Email

Berawal dari tugas kuliah

Night At The Museum awalnya dibuat untuk Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) dalam bidang wirausaha. 5 Co-Founder yang memang pecinta sejarah ini kepikiran untuk membuat sesuatu yang berkaitan dengan museum. Terinspirasi dari film Night At The Museum, akhirnya mereka membuat proposal tentang program ini ke Dikti, dan ide mereka pun disetujui. Baru lah mereka eksekusi untuk meminta perizinan pada pihak museum, hal ini bukanlah hal yang cukup mudah, melihat kurangnya perawatan pada museum-museum di Yogyakarta. Benteng Vredeburg adalah lokasi pertama mereka memulai program seru ini, tanggal 17 Maret 2012, dinobatkan sebagai hari lahirnya Night At The Museum.

 

Kenapa Malam Hari?

Semua orang pasti penasaran kenapa harus malam hari, padahal biasanya sore hari pun museum sudah tutup. Karena target pertama mereka adalah mengenalkan museum pada para mahasiswa, sedangkan para mahasiswa biasanya hanya memiliki waktu luang di malam hari. Dan benar saja, kegiatan ini memberi daya tarik tersendiri, bahkan bukan hanya untuk mahasiswa tetapi juga turis lokal maupun internasional.

 

Beralih Menjadi Komunitas

Awalnya kegiatan ini dibuat profit oriented, tetapi setelah co-founder satu per satu mundur karena kesibukannya masing-masing dan tersisa hanya 2 orang, mereka mulai berpikir ada baiknya kegiatan ini diubah menjadi sebuah komunitas non-profit, melihat bahwa museum juga merupakan suatu lembaga non-profit. Terlebih lagi banyak orang yang tidak suka pergi ke museum. Dengan mengubahnya menjadi suatu komunitas, jadi semua orang bisa gabung dan sama-sama mengenalkan museum ke masyarakat banyak.

 

Mengemas Museum menjadi menyenangkan

Semenjak peralihan tersebut, kegiatan yang diadakan selama 1 bulan sekali mengalami banyak perubahan, dan akhirnya muncul lah ide-ide seru dan ekspansi museum. Pada awalnya, ia hanya mengadakan kegiatan ini di Benteng Vredeburg saja, mensiasatinya dengan mengangkat tema yang berbeda-beda setiap bulannya. Kini mereka memiliki 3 program menarik yakni Amazing Race, Kids dan Heritage di 7 museum Yogyakarta.

Amazing Race ini bersifat tour the museum, menjelajah museum dan dijelaskan diorama per diorama, yang serunya adalah saat di akhir penjelajahan, para peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memecahkan teka-teki. Clue dari teka-teki tersebut disebar ke sudut-sudut museum, membuat lo harus berlari-lari dan mengenal museum itu sendiri.

Kids merupakan program komunitas yang dikhususkan untuk anak-anak. Karena treatment pengunjung dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda. Serta mengenalkan mereka sejak dini pentingnya sebuah sejarah untuk identitas bangsa itu sendiri.

Terakhir ada Heritage, kegiatan ini lebih sedikit serius, karena memperkenalkan cagar-cagar budaya di Yogyakarta secara mendalam, mulai dari bangunan, arsitektural sampai perubahan sosial yang terjadi pada bangunan tersebut.

 

Harapan Komunitas Night At The Museum

Tidak muluk-muluk, komunitas ini hanya ingin membuat museum menjadi top of mind jika berkunjung ke suatu daerah dengan cara mengenalkan serunya berkunjung ke museum. Jika sudah kenal, kecintaan akan museum itu pun timbul sehingga bisa bersama-sama melesetarikannya. Dan menginspirasi para anak-anak muda untuk melakukan hal yang sama dengan gaya nya masing-masing.