Mengangkat Tradisional Indonesia di Era Milenials

Thursday, July 6, 2017 - 19:06

Paviliun 28 salah satu tempat yang menyajikan berbagai jenis aktivitas, mulai dari musik, film sampai makanan yang berbau Indonesia. Yap, benar sekali, Paviliun 28 memang sangat berbeda dari restoran pada umumnya, dari segi konsep interior, fasilitas sampai program-program yang disediakan. Salah satu keunikan Paviliun 28 adalah kentalnya unsur Indonesia yang disajikan melalui hidangan. 

 

Konsep "Feels Like Home"

Dari pekarangan Paviliun 28 sangat terlihat kalau tempat ini berbeda dari yang lainnya. Bangunan yang berbentuk rumah dengan tembok batu bata  Paviliun 28 jauh dari kesan fancy. Saat masuk melewati dua pintu yang cukup besar berwarna merah, suasana tradisional dan vintage sangat terasa. Bangku-bangku yang terbuat dari kayu dan rotan membuat para pengunjung seperti sedang nongkrong di halaman belakang. Terdapat pula kumpulan kaset kosong tertempel di tembok sebagai hiasan, ada juga rangka vespa yang menambahkan kesan authentic nan klasik pada tempat ini.

 

Bar Jamu dan Makanan Tradisional Indonesia

Tradisional memang merupakan salah satu konsep yang paling utama di Paviliun 28 ini, selain interior yang homie, lo juga dapat merasakan "masakan rumah" yang lezat dan tentunya tradisional Indonesia. Yang lebih uniknya lagi, kalau di tempat lain bar merupakan tempatnya liqueur, di Paviliun 28 ada bar jamu! Yap, lo nggak salah, mereka memang menjual jamu sebagai salah satu menu andalan. Berkolaborasi dengan Suwe Ora Jamu, Paviliun 28 menawarkan beberapa jenis jamu yaitu Paitan, Housebrew dan Jamu Campuran yang friendly untuk newbie. Alasan Paviliun menjual jamu adalah karena jamu merupakan minuman paling tradisional Indonesia, tetapi sudah sulit ditemukan.

Eits, Kalau lo sudah berpikiran pasti pahit, lo salah besar, Urbaners! Jamu yang ditawarkan oleh Paviliun 28 memiliki rasa yang sangat nyaman dan hampir tidak ada rasa pahit. Seperti minuman yang bernama grintamarin, lo nggak akan menyangka bahwa lo sedang minum sayur sawi. Rasa dengan campuran daun mint dan lemon ini sangat segar seperti mojito! "Tak kenal maka tak sayang" Pepatah ini yang dilontarkan oleh Eugine Panji salah satu sutradara Indonesia terkemuka sekaligus owner dari Paviliun 28, "Kita harus memperkenalkan jamu dengan perlahan, karena itulah kita membuat campuran yang membuat jamu mudah diminum", Ujarnya.

 

Mini Cinema Paviliun 28

Bagikan

Facebook Twitter Email

Nggak cuma bisa hang out, Paviliun 28 juga menawarkan mini bioskop yang berkapasitas 20 orang untuk menonton film-film yang sudah tidak beredar lagi. Mulai dari film Indonesia, Hollywood, sampai film Indie dan Dokumenter pun bisa lo tonton disini, Urbaners! Setiap minggu nya mereka memiliki Cinema Rabu yang merupakan pemutaran film-film Indonesia. Tidak hanya itu, sering kali para film maker-nya datang untuk mengadakan light discussion tentang film tersebut. Selain itu Paviliun 28 juga sering mengadakan program seperti Marathon Horror, Gong Xi Fat Chow yang memutar film-film dari Steven Chow dan masih banyak lainnya. Lo juga bisa menyewa mini bioskop ini untuk acara pribadi lho, Urbaners!

 

Music From Everybody to Everybody

Selain bidang perfilman, Paviliun 28 juga merupakan suatu wadah untuk bermusik bagi siapapun! Setiap selasa terdapat program Every Tuesday Counts dengan genre folks menghadirkan solo atau duo akustik. Pada hari kamis terdapat Jazz Night yang merupakan jamming session, penonton pun dipersilahkan unjuk kebolehan disini. Stage dan penonton begitu dekat membuat lebih mudah untuk berinteraksi. Siapapun boleh mendaftar untuk manggung di Paviliun 28, mereka hanya mengkurasi dari genre karena menimbang dari tempat dan lingkungan sekitar. Tak jarang musisi-musisi seperti White Shoes And The Couples Company, Adrian Yunan, Jammie Aditya perform di tempat ini.