Paviliun 28: Berbuat Sosial dengan Kreativitas

Friday, July 7, 2017 - 16:52

Paviliun 28 memiliki misi lebih besar daripada sekedar tempat hang out ataupun memperkenalkan tradisional Indonesia, karena inspiring place satu ini juga  memiliki program CSR, bukan Coorporate Social Responsibility, tetapi lebih ke Creative Social Responsibility, tujuannya berbuat sosial dengan kreativitas. Selain program mingguan, Paviliun 28 juga menyuguhkan program-program mulia yang membantu para seniman, sampai para difabel.

 

Blinded Cinema: Membantu tunanetra menikmati film

Program bulanan dari Paviliun 28 ini sudah berjalan kurang lebih 1.5 tahun yakni membantu para tunanetra menikmati film seperti hal-nya orang kebanyakan. Caranya dengan mencari relawan untuk dapat menarasikan adegan tanpa dialog pada film yang akan diputar. Satu tunanetra akan didampingi satu relawan yang siap menceritakan visual film tersebut secara terperinci. Seperti jika ada adegan masuk ke dalam kamar, lalu merapikan baju atau adegan film yang sedang berjalan disuatu kerumunan. Sehingga mereka dapat secara maksimal berimajinasi tentang film tersebut.

Program ini sangat diminati tidak hanya untuk para tunanetra, tetapi juga relawan. Banyak sekali anak muda yang ingin menjadi relawan, sehingga harus waiting list dulu jika ingin berpartisipasi. Karena mini bioskop Paviliun 28 memiliki keterbatasan ruang, jadi setiap bulannya mereka hanya bisa menampung 20 tunanetra dan 20 relawan agar mereka tetap nyaman di dalam bioskop. Menjadi relawan pun harus tau basic untuk menarasikan film. Sebelumnya mereka harus training dan menonton film tersebut beberapa kali dan membahas adegan apa yang sulit dinarasikan, sehingga saat Blinded Cinema dimulai, bisa menceritakan secara jelas dan lancar. Dengan adanya Blinded Cinema ini, Paviliun 28 berharap program ini akan berkembang dan menjamur ke seluruh pelosok Indonesia.

 

Wadah para film-maker muda

Mini Cinema di Paviliun 28 juga dapat dijadikan mini premier film pendek. Melihat cukup banyak anak-anak muda Indonesia yang membuat film pendek, tetapi tidak banyak yang beruntung untuk masuk ke dalam festival film pendek. Apalagi masuk ke bioskop yang mainstream, membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang harus mengikuti jadwal (tidak bebas). Inilah yang membangkitkan Mini Cinema Paviliun 28 untuk menghargai karya-karya anak muda sehingga mereka akan lebih semangat untuk menghasilkan  lebih baik lagi. Sekaligus memberikan pembelajaran untuk para sineas film muda tentang step by step post-produksi sebuah film.

Bagikan
Facebook Twitter Email

"Pintu Pertama" para musisi muda

Paviliun 28 juga sangat terbuka pada semua musisi, mulai dari penyanyi-penyanyi indie, sampai para musisi yang belum terdengar gaung-nya. Siapapun diterima dan boleh manggung disini secara gratis. Apalagi adanya Jamming Session setiap kamisnya, membuat para musisi lebih leluasa. Di Paviliun 28 tidak ada kata canggung, semua musisi sama, dan tidak ada spesialisasi. Tempat ini juga bisa jadi "pintu pertama" para musisi muda untuk berkarya. Karena banyak banget musisi yang masih "malu-malu" untuk menunjukkan karya-nya karena jam terbang yang minim. Paviliun 28 juga mengerti susahnya promo untuk para musisi independent. Paviliun 28 sangat mendukung perkembangan kreativitas mereka dengan cara menyediakan tempatnya.

 

Impact positive yang diberikan Paviliun 28

Kesuksesan bagi Paviliun 28 bukanlah semata-mata ramai atau income yang banyak, tetapi menjadi sebuah creative-hub yang diakui, saat orang mendengar kata seniman & kreatif, langsung kepikiran Paviliun 28. Itulah goal mereka sesungguhnya. Paviliun juga memiliki harapan agar seniman Indonesia lebih maju dan bersemangat dalam membuat karya, dan juga akan muncul creative-hub lainnya di pelosok-pelosok daerah Indonesia sebagai penyalur kreativitas mereka.