Kleting Titis Wigati: Tidak Perlu Keluar Negeri untuk Sukses

Tuesday, July 25, 2017 - 14:06

Kleting Titis Wigati seorang fashion designer inspirasional yang berkiprah lebih dari 10 tahun di dunia fashion dalam ataupun luar negeri. Untuk menjadi seperti sekarang tidak diraih dengan mudah Urbaners, Kleting memang dari dulu fokus di dunia fashion. Sejak tahun 2005 lulusan ESMOD ini memulai karirnya menjadi freelancer. Setiap pulang ke Indonesia untuk liburan saat kuliah, Kleting selalu mengisinya dengan internship ataupun bekerja sebagai fashion stylist, ia juga pernah bekerja di salah satu majalah sebagai fashion editor. Tahun 2007 Kleting mulai membuat perusahaan dan fashion brand-nya sendiri, baru di tahun 2009 ia launching label KLE.

KLE merupakan salah satu pioneer brand fashion wanita di Indonesia, karena saat itu distro mendominasi dan masih jarang sekali brand lokal khusus wanita. Perlahan ia mulai mengenalkan KLE,  partisipasi berbagai event lokal ataupun internasional. Sejalannya waktu, nama KLE mulai dikenal, bahkan ia sempat menjadi Under 30 Inspirational Fashion Brand dan juga memenangkan CLEO Fashion Awards.

Kleting mengakui untuk mendapatkan inspirasi membuat suatu produk KLE bisa datang dari segala aspek, mulai dari puisi, sebuah bayangan sampai hal-hal yang berbau spiritualisme. Karena itulah setiap produknya memiliki keunikan yang berbeda-beda. Bagi Kleting sebagai pelaku kreatif lo harus bisa menggali 1 subjek apapun itu secara mendalam. Dengan begitu lo bisa mendapatkan inspirasi dari manapun.

Meski sekarang ini sudah banyak brand fashion wanita di Indonesia, KLE menganggapnya bukan sebagai saingan bahkan ia selalu mencari cara bagaimana merangkul dan melakukan kolaborasi. Tidak hanya dengan fashion brand lainnya, KLE juga kerap berkolaborasi dengan fine arts, ilustrator, dan juga graphic designer. Nggak heran kalau KLE selalu memiliki konsep yang unik dan berbeda di setiap season-nya.

Bakat dan prestasi Kleting yang luar biasa membuatnya lebih mudah untuk memiliki kesempatan berkarir di luar negeri. Tetapi ia lebih memilih menjalankan usahanya di Indonesia. Kira-kira apa alasannya ya, Urbaners?

Bagikan
Facebook Twitter Email