Trending

Festival Rapa’i Internasional yang Membangkitkan Semangat Budaya Aceh

Sedikit banyak setelah tsunami tahun 2004, Aceh mengalami pasang surut mulai dari sektor bisnis, pembangunan, budaya sampai wisata. Walaupun itu sudah hampir lebih dari 16 tahun berlalu, pemerintah Provinsi Aceh masih terus melakukan perubahan dan menjadikan Aceh menjadi sedia kala. Dalam hal budaya, pada akhir Agustus lalu Pemerintah Aceh mengadakan Festival Rapa’i Internasional, festival ini dilangsungkan untuk membangkitkan tradisi budaya di Aceh sendiri.

 

Mengenal Rapa’i

Sebenarnya Rapa’I bukan berasal dari nenek moyang Aceh langsung, tetapi dibawa oleh para pedagang dari Timur Tengah yang mendarat di sekitar semenanjung Aceh pada abad ke 9 atau sekitar tahun 400 Hijriah. Bentuk dari Rapa’i ini sebenarnya mirip dengan rebana tetapi bentuknya agak sedikit besar. Alat musik Rapa’i ini sangat identik dengan budaya Islam, sering dimainkan di Aceh dalam acara-acara keagamaan. Tetapi karena perkembangan zaman, setidaknya sekarang Rapa’i sering digunakan dalam acara-acara seperti perkawinan, perkenalan budaya sampai ulang tahun.

 

Festival Rapa’i ini termasuk festival internasional

Dalam festival yang dihelat selama 5 hari tersebut termasuk festival Internasional lho Urbaners. Selain musik khas dari Indonesia, setidaknya beberapa negara sahabat juga diundang untuk unjuk gigi alat musik daerahnya. Termasuk dari Tiongkok, Thailand, Malaysia, Jepang sampai dari Iran. Mereka juga membawa belasan orang untuk menampilkan kesenian musik dari masing-masing negara.

Dari Indonesia, beberapa daerah juga turut tampil, seperti dari Sumatera Barat, Makassar, Surabaya, Sumatera Utara dan beberapa daerah lainnya. Kerennya lagi Urbaners, walaupun alat musik yang digunakan adalah alat musik tradisional ternyata ada beberapa musisi papan atas Indonesia dan dunia yang datang memeriahkan festival ini. Mulai dari Gilang Ramadhan, Steve Thornton, Tompi, Rafly Kande dan Daood Debu.

Festival ini sangat sukses, setiap harinya selalu dibanjiri penonton yang penasaran nggak hanya dengan Rapa’i, tetapi juga beberapa alat musik daerah lain.

 

Source: kompas.com