Akhir-akhir ini, banyak banget teknologi baru yang bilang bisa jadi “teman” buat manusia. Salah satunya datang dari Friend.com, yang bikin wearable kecil berbasis AI. Bentuknya simpel, tinggal dipakai seperti kalung, dan katanya bisa nemenin lo ngobrol kapan pun lo mau.
Kelihatannya keren, kan? Kayak punya teman yang selalu ada 24 jam.
Tapi kenyataannya, produk mereka malah banyak dikritik dan ditolak.
Soalnya, banyak orang ngerasa konsep “teman buatan” itu aneh dan agak meresahkan. Ada yang takut manusia jadi males bersosialisasi. Ada juga yang bilang AI kayak gini bisa bikin orang makin ketergantungan secara emosional.
Sebenarnya bukan teknologinya yang salah, tapi cara orang memakainya yang bisa bikin masalah.

Photo by Friend
Walaupun Friend rame dikritik, kenyataannya chatbot yang dipasarkan sebagai teman AI udah banyak dipakai orang.
Lo pasti pernah lihat aplikasi atau chatbot yang bisa diajak curhat, bisa jawab layaknya sahabat, bahkan ada yang pura-pura jadi pacar virtual. Peminatnya pun banyak, dari remaja sampai orang dewasa.
Bahaya Teman AI
Menurut artikel yang ditulis Daniel You, Micah Boerma, dan Yuen Siew Koo, teman AI itu nggak sesimpel kelihatannya. Mereka jelasin kalau makin banyak orang yang pakai chatbot sebagai “teman”, resikonya juga makin besar.
Sudah ada kasus chatbot yang kasih jawaban berbahaya. Ada yang bikin penggunanya makin percaya sama hal-hal yang nggak nyata. Bahkan ada kejadian ekstrem yang bikin masalah kesehatan mental serius.
Mereka ngingetin kalau AI itu bukan manusia. Dia nggak punya empati beneran. Jadi kalau lo lagi sedih atau butuh didengerin, AI cuma bisa jawab berdasarkan pola, bukan karena dia ngerti perasaan lo. Ini bikin sebagian orang jadi makin jauh dari hubungan sosial yang nyata, sampai nggak mau ngobrol sama orang beneran lagi.

Photo by Replika/Kindroid
Dalam artikel yang ditulis dosen KS FISIP Unpad, Dyana Chusnulitta Jatnika, disebut banyak orang makin nyaman curhat ke AI. Alasan mereka merasa aman karena AI nggak menghakimi dan selalu “ada”. Tapi masalahnya, kenyamanan itu bisa bikin lo ketergantungan. AI bisa jawab dengan gaya yang keliatan peduli, padahal itu cuma trik bahasa. Nggak ada emosi asli di baliknya.
Dyana juga bilang interaksi yang terlalu sering bisa bikin lo susah bedain mana hubungan nyata dan mana yang cuma di layar. Kalau lo lagi rapuh, ini bisa mengganggu kesehatan mental, karena AI bisa kasih jawaban yang salah atau bikin lo makin bingung.
Teman AI mungkin seru dan keliatan ramah, tapi dia tetap lah hanya alat. Dia bukan sosok yang bisa gantiin hubungan manusia.
Jadi, Boleh Nggak Punya Teman AI?
Boleh banget. Nggak ada yang salah pakai AI buat ngobrol, belajar, atau sekadar nemenin lo waktu gabut. Cuma lo tetap harus tahu batasnya.
Teman AI itu cuma tambahan. Hubungan sama manusia tetap yang paling penting. Kalau lo lagi sedih, stres, atau butuh bantuan serius, cari orang beneran yang bisa bantu lo. AI boleh nemenin, tapi jangan dijadiin satu-satunya tempat bersandar.
Cover Photo by Olivier Douliery/AFP via Getty Images




Comments