Kenapa Film Superhero Indonesia Susah Laku?
Lo mungkin masih inget waktu Gundala rilis tahun 2019. Animo penonton tinggi banget, akhirnya Indonesia punya film superhero lokal kayak Marvel. Tapi setelah beberapa tahun, proyek besar Jagat Sinema Bumilangit (Bumilangit Cinematic Universe) kayak mandek di tengah jalan.
Padahal, sejak Gundala (2019), udah muncul Sri Asih (2022), Virgo and the Sparklings (2023), dan serial Tira (2023). Sayangnya, hasilnya belum sesuai harapan. Lalu, kenapa film superhero Indonesia susah banget diterima pasar ya?
Dalam wawancara eksklusif bersama IDN Times, Joko Anwar, sutradara dan produser di balik proyek BCU, membongkar tantangan besar di balik layar. Menurutnya, hambatan terbesar bukan cuma soal ide kreatif, tapi struktur industri film yang belum siap menanggung proyek sebesar itu.
Bujet Fantastis, Pasar Sepi
Film superhero butuh biaya produksi besar banget, dari efek visual, koreografi laga, sampai desain kostum dan dunia sinematik.
Joko Anwar menjelaskan, pembuatan satu film superhero Hollywood bisa menelan biaya 100 sampai 400 juta dolar AS, atau setara 1,5 sampai 7 triliun rupiah. Sementara di Indonesia, angka segitu buat bikin film jelas gak mungkin.
Hasilnya, banyak sutradara harus ngakal-ngakalin kualitas supaya tetap layak tonton, tapi penonton malah sering bandingin sama Marvel.
“Film superhero mahal, tapi kalau sepi penonton ya gak bisa sustainable,” kata Joko dalam wawancara itu. Karena itu, tantangannya bukan cuma bikin film bagus, tapi juga nyari model bisnis yang bisa bikin genre ini berkelanjutan.
Joko Anwar juga mengungkap fakta yang cukup pahit. Dari semua film superhero Indonesia yang udah tayang, baru Gundala yang nyaris balik modal. Dengan sekitar 1,7 juta penonton, film itu cuma untung sedikit. Film lain malah belum balik modal sama sekali. Artinya, selama pasar belum tumbuh, bikin film superhero di Indonesia masih berisiko tinggi banget. Masalah lain datang dari penonton sendiri. Banyak orang nonton film superhero lokal tapi langsung bandingin dengan produksi Hollywood. Padahal, gap sumber daya dan teknologi itu gede banget. Kalau Marvel bisa bikin satu film dengan bujet triliunan, Indonesia harus puas dengan ratusan kali lebih kecil. Gak heran hasil akhirnya belum selevel secara visual maupun efek. Kalau liat data box office, keliatan banget tantangan yang dihadapi film superhero Indonesia: Sebelum Bumilangit, ada film superhero lokal berjudul Valentine (2017) dari Skylar Universe. Film ini cuma tayang tiga hari, sebelum ditarik Skylar Pictures karena masalah teknis. Penonton kecewa dengan kualitas CGI yang terlihat dipaksakan. Penurunan tajam ini nunjukin kalau penonton belum sepenuhnya percaya sama genre ini. Bahkan Virgo and the Sparklings cuma bertahan delapan hari di layar. Faktor eksternal kayak skandal pribadi pemain dan efek cancel culture juga ikut memperburuk penerimaan publik. Film-film yang disebut bakal melanjutkan jagat Bumilangit antara lain Godam & Tira, Si Buta dari Gua Hantu, dan Patriot sebagai penutup Jilid 1. Proyek Bumilangit jelas bukan sekadar tren sesaat. Tapi buat benar-benar jadi semesta film yang solid, masih banyak pekerjaan rumah: pendanaan, distribusi, durasi tayang, dan sistem promosi yang harus dibenahi. Kalau tantangan struktural itu bisa ditangani, bukan gak mungkin Indonesia bakal punya jagat superhero sendiri yang bisa bersaing di kancah global. Semoga.Ekspektasi Penonton yang Terlalu Tinggi
Cover photo by Bumilangit Studios