Home Fashion Southeast, Kisah Brand Leather Goods Besar Asal Bandung
Southeast, Kisah Brand Leather Goods Besar Asal Bandung

Southeast, Kisah Brand Leather Goods Besar Asal Bandung

Monday, October 8, 2018 - 11:21
Bagikan
Facebook Twitter Email

Leather goods di Indonesia mungkin emang belum begitu terasa gaungnya. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh anak negeri buat mengembangkan usaha di bidang kerajinan yang satu ini. Salah satunya Southeast dari Bandung. Brand ini digagas dan diproduksi langsung di Indonesia. Gimana kisah awalnya?   

 

Bermula dari Mak Comblang

Southeast berawal dari dua orang, Kin (Kin Darma) dan Nadya (Nadyatami Amalia Nurul Ichwan). Sebelum menjadi pasangan suami istri, Kin dan Nadya sempat berkuliah di Bandung. Keduanya punya kepribadian yang mirip, sering nomaden dan nggak bisa kerja ikut orang lain. Akhirnya, seorang teman berperan sebagai Mak Comblang dan menjodohkan mereka.

Proses percomblangan tadi ternyata berhasil. Kin dan Nadya akhirnya menikah beberapa bulan setelah perkenalan itu. Bagi mereka, pernikahan itu adalah titik awal lahirnya brand Southeast. Tanpa ada proses itu, brand leather good milik mereka nggak akan pernah ada. Hal ini nggak berlebihan karena emang jalan berliku buat melahirkan Southeast dimulai di titik ini.    

 

Jalan Berliku

Yes, proses lahirnya Southeast emang nggak mulus. Kin dan Nadya musti melalui jalan panjang yang berliku. Beberapa waktu setelah menikah, Kin bekerja di Bali. Mereka harus hidup prihatin selama di pulau Dewata. Kin harus bekerja selama 16 jam perhari dan Nadya yang lagi hamil harus tinggal di kontrakan tanpa kasur.

Kondisi ini bikin mereka merasa terpuruk. Alasannya nggak lain karena sifat mereka yang sama-sama nggak suka kerja ikut orang dan nggak bisa diam di rumah. Keadaan juga makin parah saat mereka harus jadi korban penipuan. Uang hasil bekerja pun ludes dan mereka harus rela makan seadanya.

 

Hari Baru di Bandung

Hari Baru di Bandung

Nggak betah dengan kondisi di Bali, Kin dan Nadya pun balik ke Bandung. Sebelum kembali ke kota asal mereka bikin rencana yang matang. Tujuannya supaya kejadian di Bali nggak terulang lagi. Tercetuslah ide buat mendirikan sebuah brand leather goods. Alasannya simple, mereka berdua sama-sama suka produk kulit dan ingin berkreasi.

Saat tekad sudah bulat, Kin dan Nadya akhirnya balik ke Bandung. Dengan modal dari pinjaman dan video tutorial di YouTube mereka akhirnya berhasil menghasilkan dompet kulit yang bisa dijual. Produk ini harus melalui proses trial and error yang panjang. Hal ini nggak kemudian bikin menyerah, mereka justru makin penasaran.

 

Emang Berjiwa Wirausaha

Keputusan untuk mendirikan usaha ternyata emang ada dasarnya. Sejak masih kecil Nadya sudah suka berjualan aksesoris. Hobi yang menguntungkan ini berlanjut sampai Nadya berkuliah. Kin pun sama, ia pernah menjajal usaha clothing line, tapi ternyata nggak bertahan lama.

Saat berpacaran, Kin dan Nadya juga merintis usaha. Sebagai anak jurusan seni, Kin sempat bikin proyek. Kin mengerjakan proyek pembuatan musik instrumental hingga melukis. Mereka juga coba bereksperimen lewat usaha kuliner yang emang waktu itu menjamur di Bandung.

 

Semua Dikerjakan Sendiri

Semua Dikerjakan Sendiri

Southeast benar-benar murni dari tangan Kin dan Nadya. Pasangan ini bekerja tanpa campur tangan orang lain. Kin menangani produksi dan Nadya jadi marketingnya. Durasi kerja mereka 24 hours full dengan sistem shift. Penjualan dilakukan secara online tapi mereka juga punya mini workshop di Bandung.

 

Komitmen jadi kunci dari berdirinya Southeast. Tanpa adanya komitmen, Kin dan Nadya pasti bakal menyerah di tengah jalan dan Southeast nggak akan pernah ada. Sukses selalu, Southeast!

 

 

Source: goodnewsfromindonesia.id