• Food
  • Ini Cara Dunia Menikmati Es Krim

Ini Cara Dunia Menikmati Es Krim

Fri, 19 August 2016

Musim panas memang menjadi waktu yang tepat untuk menikmati segarnya es krim. Mau suasananya piknik, pool party, atau bahkan ketika di kantor sekalipun, es krim rasanya jadi hal yang paling menyenangkan dimakan, apalagi saat cuaca panas terik. Dunia pun nggak mau ketinggalan menikmati es krim dengan caranya sendiri-sendiri. Berikut ini adalah jenis-jenis es krim di seluruh dunia yang wajib lo ketahui.

 

Frozen Yogurt – Amerika Serikat

Rasanya yang segar dan masam membuat masyarakat Amerika mencintai es krim yang satu ini. Frozen Yogurt atau frogurt atau froyo merupakan es krim berbahan dasar yogurt dan gula. Es krim yang satu ini digilai masyarakat Amerika karena hampir nggak ada kandungan lemak di dalamnya. Tahun 1980 adalah awal dari masa kejayaan froyo di Negeri Paman Sam.

 

Kulfi – India

Es krim yang satu ini adalah salah satu street food paling populer saat musim panas di India. Dibuat dari susu yang direbus secara perlahan dan diberi perasa pistachios, saffron, atau cardamom. Kulfi awalnya hanya dibuat untuk kaum bangsawan karena dibuat dari es yang diambil langsung dari Pegunungan Himalaya.

 

Paletas – Meksiko

Paletas sangat mirip dengan es loli dan dibuat dengan buah-buahan segar. Ada dua jenis paletas, yakni paletas de aguas (berbahan dasar air dan jus buah) dan paletas de leche/de crema (berbahan dasar susu atau krim). Uniknya, es krim ini tersedia juga dengan cita rasa asin dan pedas yang mungkin akan mengagetkan orang yang baru pertama kali memakannya.

 

Clotted cream Ice Cream – Inggris

Di Inggris, es krim dari krim yang menggumpal atau clottedcream sangat digemari. Clotted-cream ice cream yang berwarna kuning keemasan adalah kesukaan mayoritas warga Inggris. Clotted-cream sendiri diperkenalkan di Inggris 500 tahun sebelum masehi oleh bangsa Phoenicians yang menukarkannya dengan besi.

Itulah beberapa jenis es krim yang jadi favorit masyarakat dunia di berbagai daerah yang berbeda. Di Indonesia mungkin yang paling enak ya es doger. Tapi, nggak ada salahnya buat nyobain es krim-es krim yang berbeda itu, Urbaners.

 

Source: foodbeast.com

Filosofi Sosok Muhammad Aga dalam Meracik Secangkir Kopi

Tue, 07 July 2020
Muhammad Aga sedang memegang secangkir kopi

Kopi sudah jadi minuman wajib orang Indonesia. Mungkin lo juga salah satu tipe orang yang nggak bisa senyum sebelum menenggak secangkir kopi di pagi hari. Dalam dunia kopi, nama Muhammad Aga sudah nggak asing lagi di telinga, apalagi di mata. Nggak heran Bro, Aga sendiri sudah lama berkiprah sebagai barista dan pernah membintangi film “Filosofi Kopi”. Ayo kenalan dengan Muhammad Aga dan tentang filosofinya dalam mencintai kopi #MumpungLagiDirumah.

 

Dari Musik ke Biji Kopi

Muhammad Aga mengenakan setelan jas hitam dengan topi hitam

Siapa yang sangka kalau barista unggulan Indonesia ini lulusan jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta? Sebelum akhirnya jatuh cinta dengan dunia barista, Aga benar-benar fokus dalam mengembangkan karir band Rockabilly miliknya, bahkan sudah beberapa kali manggung di luar Jakarta. Justru dari komitmennya dalam menghidupi band tersebut, Aga akhirnya bekerja paruh waktu sebagai barista di Dante Coffee Kelapa Gading.

Sepanjang tahun 2009 hingga 2012, Aga semakin mendalami teknik meracik kopi. Dimulai dengan belajar secara otodidak lewat internet, komunitas, dan workshop. Walau sekarang sibuk mengelola kedai kopi S.M.I.T.H dan Harapan Djaya, tetap saja Aga masih suka jamming session dengan teman-temanya, Bro.

 

Pentingnya Koneksi

Muhammad Aga sedang melakukan latte art dengan teknik pouring

Kalau lo bingung bagaimana caranya seorang barista bisa jadi eksis seperti Aga dan sampai masuk ke layar lebar, jawabannya adalah koneksi. Menurut Aga, kopi menghubungkannya dengan orang-orang influential yang berjasa dalam perjalanan karirnya.

Seperti pertemuannya dengan Hendri Kurniawan di sebuah kontes barista, di mana Hendri tertarik dengan kopi racikan Aga dan menjadi mentornya. “Doi adalah teman sharing gue dan yang merekomendasikan berbagai kafe ke gue. Makanya gue bisa sering pindah-pindah.”

Dari koneksinya dengan Hendri, Aga juga dipertemukan dengan Angga Dwimas Sasongko dan ikut bergabung ke proyek Filosofi Kopi. Terkesan nggak nyambung, tetapi perannya di Filosofi Kopi melambungkan nama Aga dan mempermulus karirnya. “Ujung-ujungnya proses bikin usaha sendiri bakal lebih mudah karena kenalan gue udah banyak.”

 

Mengharumkan Nama Indonesia di Jenjang Internasional

Muhammad Aga memegang piala dan seritifikat untuk partisipasinya dalam World Barista Championship 2018

Salah satu kehebatan Aga adalah prestasinya yang sudah berhasil menjadi juara berbagai kompetisi barista. Bermula sejak tahun 2012 ketika Aga menjadi juara satu Latte Art Throwdown Competition. Lanjut dengan Indonesian Barista Competition 2013 dengan posisi kelima dan memulai kiprah internasionalnya melalui ASEAN Barista Competition di posisi ketujuh.

Sampai di tahun 2018, Aga dipilih menjadi finalis dari Indonesia untuk maju dalam kompetisi World Barista Championship di Amsterdam. Bukan sekadar menyeduh kopi saja, Aga juga harus mempersiapkan setiap bahan yang dibutuhkan untuk meracik espresso, cappuccino, dan signature beverages.

Walau gagal untuk masuk ke semifinal, tetapi prestasi Aga masih sangat membanggakan untuk bisa memperlihatkan kemampuannya sebagai barista dan menunjukkan cita rasa luar biasa dari biji kopi lokal. “Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya dapat pengalamannya, dapat ilmunya, dapat temannya, dapat banyak hal, lah.”

 

Lebih dari Secangkir Kopi

Muhammad Aga mengenakan kemeja putih sedang menuangkan kopi ke gelas

Teknik saja nggak cukup untuk bisa meracik secangkir kopi yang nikmat. Filosofi kopi dari Aga adalah untuk mengenal hingga ke akarnya. Seperti kebiasaan travelling Aga ke kebun kopi, di Indonesia dan luar negeri, sambil berbincang dengan petani kopi di sana. Dengan begitu, Aga bisa melihat permasalahan yang ada dan memberikan input-nya kepada petani kopi agar bisa memproduksi biji kopi seperti yang ia mau.

“Kopi itu, value-nya banyak, ya. Saya kenal banyak orang juga dari kopi, saya hidup dari situ.” Jadi, next time lo ngopi bareng, coba resapi pahitnya kopi dengan manisnya koneksi bersama teman-teman lo. It’s not just a cup of coffee!

 

 

 

Sources: Cleo, Kumparan, Genmuda.