• Food
  • 4 Kota Di Indonesia yang Mempunyai Sambal “Berbahaya”

4 Kota Di Indonesia yang Mempunyai Sambal “Berbahaya”

Tue, 23 August 2016

Nggak sedikit orang yang malas untuk makan ketika nggak ada sambal yang disajikan. Ini wajar, karena lidah orang Indonesia ini sudah kebal dengan yang namanya pedas-pedas. Menjadi salah satu negara yang dilewati oleh garis khatulistiwa, membuat cabai-cabai di setiap daerah di Indonesia menjadi mudah untuk tumbuh. Nggak hanya di Pulau Jawa saja Urbaners, di Kalimatan dan Sumatera juga mempunyai cabai yang diolah menjadi sambal terbaik. Nah sekarang coba lihat 4 kota di Indonesia yang ternyata mempunyai sambal “berbahaya”, rasanya pedas tetapi semakin membuat penasaran.

 

Sambal dabu-dabu Makassar

Sambal dabu-dabu dari Makassar ini bentuknya nggak seperti sambal biasanya. Sambal dabu-dabu malah terlihat seperti salad dengan campuran biji cabai. Tetapi ketika lo mencoba sambal dabu-dabu yang dituangkan di atas ikan bakar. Lo akan merasakan kepedasan yang sangat tetapi dibalut dengan rasa asam dan manis, sambal dabu-dabu menjadi kuliner wajib ketika di Makassar.

 

Sambal matah

Jika di Jawa kebanyakan sambal dicampur dengan tomat, maka di Bali sebaliknya. Sambal Matah ini adalah campuran antara cabai rawit, bawang merah, bawang putih, terasi, dan daun jeruk. Sambal matah ini adalah sambal dengan rasa pedas yang teramat sangat. Biasanya sambal matah ini disajikan dengan nasi bali yang memang terkenal dengan rasa pedas.

 

Sambal roa

Ikan asap roa adalah makanan khas dari Manado. Jika lo pernah makan ikan asap roa, lo akan merasakan rasa pedas di dalamnya. Ternyata di dalam resep ikan asap roa terdapat bahan sambal roa. Karena kenikmatan sambal roa, sekarang sambal roa nggak hanya dibuat untuk ikan asap roa. Tetapi hampir semua makanan khas Manado bisa disajikan dengan sambal roa.

 

Sambal terasi

Sebagai orang Jawa, nggak ada yang mengalahkan kenikmatan sambal terasi. Terasi dari Jawa mempunyai ciri khas dengan aroma yang menyengat. Khususnya di Jawa Timur, sambal terasi ini dibuat dengan banyak cabai. Bahkan di beberapa restoran, ada yang menyajikan sambal terasi dengan 15 cabai.

Gimana Urbaners, masih nggak menggugah selera sambal-sambal di atas?

Filosofi Sosok Muhammad Aga dalam Meracik Secangkir Kopi

Tue, 07 July 2020
Muhammad Aga sedang memegang secangkir kopi

Kopi sudah jadi minuman wajib orang Indonesia. Mungkin lo juga salah satu tipe orang yang nggak bisa senyum sebelum menenggak secangkir kopi di pagi hari. Dalam dunia kopi, nama Muhammad Aga sudah nggak asing lagi di telinga, apalagi di mata. Nggak heran Bro, Aga sendiri sudah lama berkiprah sebagai barista dan pernah membintangi film “Filosofi Kopi”. Ayo kenalan dengan Muhammad Aga dan tentang filosofinya dalam mencintai kopi #MumpungLagiDirumah.

 

Dari Musik ke Biji Kopi

Muhammad Aga mengenakan setelan jas hitam dengan topi hitam

Siapa yang sangka kalau barista unggulan Indonesia ini lulusan jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta? Sebelum akhirnya jatuh cinta dengan dunia barista, Aga benar-benar fokus dalam mengembangkan karir band Rockabilly miliknya, bahkan sudah beberapa kali manggung di luar Jakarta. Justru dari komitmennya dalam menghidupi band tersebut, Aga akhirnya bekerja paruh waktu sebagai barista di Dante Coffee Kelapa Gading.

Sepanjang tahun 2009 hingga 2012, Aga semakin mendalami teknik meracik kopi. Dimulai dengan belajar secara otodidak lewat internet, komunitas, dan workshop. Walau sekarang sibuk mengelola kedai kopi S.M.I.T.H dan Harapan Djaya, tetap saja Aga masih suka jamming session dengan teman-temanya, Bro.

 

Pentingnya Koneksi

Muhammad Aga sedang melakukan latte art dengan teknik pouring

Kalau lo bingung bagaimana caranya seorang barista bisa jadi eksis seperti Aga dan sampai masuk ke layar lebar, jawabannya adalah koneksi. Menurut Aga, kopi menghubungkannya dengan orang-orang influential yang berjasa dalam perjalanan karirnya.

Seperti pertemuannya dengan Hendri Kurniawan di sebuah kontes barista, di mana Hendri tertarik dengan kopi racikan Aga dan menjadi mentornya. “Doi adalah teman sharing gue dan yang merekomendasikan berbagai kafe ke gue. Makanya gue bisa sering pindah-pindah.”

Dari koneksinya dengan Hendri, Aga juga dipertemukan dengan Angga Dwimas Sasongko dan ikut bergabung ke proyek Filosofi Kopi. Terkesan nggak nyambung, tetapi perannya di Filosofi Kopi melambungkan nama Aga dan mempermulus karirnya. “Ujung-ujungnya proses bikin usaha sendiri bakal lebih mudah karena kenalan gue udah banyak.”

 

Mengharumkan Nama Indonesia di Jenjang Internasional

Muhammad Aga memegang piala dan seritifikat untuk partisipasinya dalam World Barista Championship 2018

Salah satu kehebatan Aga adalah prestasinya yang sudah berhasil menjadi juara berbagai kompetisi barista. Bermula sejak tahun 2012 ketika Aga menjadi juara satu Latte Art Throwdown Competition. Lanjut dengan Indonesian Barista Competition 2013 dengan posisi kelima dan memulai kiprah internasionalnya melalui ASEAN Barista Competition di posisi ketujuh.

Sampai di tahun 2018, Aga dipilih menjadi finalis dari Indonesia untuk maju dalam kompetisi World Barista Championship di Amsterdam. Bukan sekadar menyeduh kopi saja, Aga juga harus mempersiapkan setiap bahan yang dibutuhkan untuk meracik espresso, cappuccino, dan signature beverages.

Walau gagal untuk masuk ke semifinal, tetapi prestasi Aga masih sangat membanggakan untuk bisa memperlihatkan kemampuannya sebagai barista dan menunjukkan cita rasa luar biasa dari biji kopi lokal. “Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya dapat pengalamannya, dapat ilmunya, dapat temannya, dapat banyak hal, lah.”

 

Lebih dari Secangkir Kopi

Muhammad Aga mengenakan kemeja putih sedang menuangkan kopi ke gelas

Teknik saja nggak cukup untuk bisa meracik secangkir kopi yang nikmat. Filosofi kopi dari Aga adalah untuk mengenal hingga ke akarnya. Seperti kebiasaan travelling Aga ke kebun kopi, di Indonesia dan luar negeri, sambil berbincang dengan petani kopi di sana. Dengan begitu, Aga bisa melihat permasalahan yang ada dan memberikan input-nya kepada petani kopi agar bisa memproduksi biji kopi seperti yang ia mau.

“Kopi itu, value-nya banyak, ya. Saya kenal banyak orang juga dari kopi, saya hidup dari situ.” Jadi, next time lo ngopi bareng, coba resapi pahitnya kopi dengan manisnya koneksi bersama teman-teman lo. It’s not just a cup of coffee!

 

 

 

Sources: Cleo, Kumparan, Genmuda.