Sumber: Instagram @porisvault
Kalau belakangan timeline lo isinya lagu-lagu dangdut tapi beat-nya hip-hop, terus ref-nya dipakai joget di TikTok, tenang, lo gak sendirian.
Gen Z lagi rame-rame kena demam Hipdut. Dari tongkrongan, headset di KRL, sampai speaker warung kopi, genrenya muter terus. Namanya juga musik campur-campur yang nagih, sekali nyantol susah lepas.
Nama Poris pun sering ikut kebawa tiap Hipdut dibahas. Tapi sebenarnya, gimana sih ceritanya genre ini bisa meledak dan siapa yang bikin Hipdut akhirnya dikenal luas?
Viral Dulu, Baru Diklaim Genre
Hipdut itu lahir bukan dari ruang teori musik yang ribet. Dia tumbuh dari algoritma. Dari lagu-lagu yang awalnya cuma pengen fun, terus keangkat karena viral.
Dalam banyak pembahasan, termasuk artikel Detik, Hipdut mulai benar-benar dikenal luas setelah lagu “Garam & Madu (Sakit Dadaku)” dari Tenxi, Naykilla, dan Jemsii meledak di TikTok. Di titik itu, istilah Hipdut mulai dipakai secara masif. Orang-orang baru sadar, “Oh, ini dangdut tapi rap. Ini hip-hop tapi goyang.”
Di sinilah pentingnya posisi Poris. Bukan sebagai pencetus awal, tapi sebagai figur yang muncul di fase berikutnya. Poris ikut ngeramein, ngebesarin, dan bikin Hipdut makin sering muncul di radar Gen Z. Jadi perannya signifikan, cuma beda tahap.
Hip-Hop Dan Dangdut Nongkrong Bareng
Kalau dipikir-pikir, Hipdut itu masuk akal banget. Hip-hop yang urban dan global ketemu dangdut yang lokal dan merakyat. Dua dunia yang dulu sering dipisahin, sekarang duduk satu meja.
Beat-nya familiar buat anak muda, tapi rasa dangdutnya bikin beda. Ada kendang, ada groove yang bikin badan refleks gerak. Musiknya gak minta dipahami, cukup dirasain. Dan buat Gen Z yang doyan eksplor, ini surga kecil.
Kenapa Gen Z Auto Ketagihan?
Jawabannya simpel: Hipdut relevan sama cara Gen Z menikmati musik hari ini.
Pertama, karena pendek dan catchy. Cocok buat TikTok, reels, dan scroll cepat. Kedua, karena gak sok serius. Lagu Hipdut jarang jual pretensi, tapi tetap punya identitas lokal yang kuat. Ketiga, karena ini musik Indonesia yang gak minder sama pengaruh global.
Hipdut kayak bilang, “Gue modern, tapi gue gak ninggalin akar.”
Dan mungkin itu kenapa genre ini gampang banget diterima. Dia gak maksa jadi trendsetter, tapi pelan-pelan jadi kebiasaan.
Pada akhirnya, Hipdut bukan cuma soal siapa yang pertama. Tapi siapa yang bikin genre ini terus hidup, muter, dan relevan di telinga anak muda. Dan selama Gen Z masih butuh musik buat goyang sambil ketawa, Hipdut kayaknya belum mau turun dari panggung.




Comments