• Food
  • Perkenalkan, Inilah Fans Pizza Paling Gila di Dunia

Perkenalkan, Inilah Fans Pizza Paling Gila di Dunia

Tue, 01 November 2016

If you think you love pizza, you may want to think again. Kecintaan lo terhadap pizza sepertinya nggak bakal bisa mengalahkan Scott Wiener, seorang pria berusia 34 tahun yang menamai dirinya sebagai “penggemar pizza profesional”. Scott nggak cuma suka makan pizza, ia juga ikut memahami setiap pizza yang dimakannya, mulai dari bahan, cara memanggang, dan lain-lain.

 

Tahu Segala Hal tentang Pizza

Sepertinya sebutan yang diberikan Scott terhadap dirinya sendiri memang nggak berlebihan. Ia merupakan pemegang Guinness World Record untuk koleksi kotak pizza terbanyak di dunia, penulis buku berjudul Viva La Pizza, salah satu juri Amerika untuk acara World Pizza Cup di Italia, serta pemilik dari Scott’s Pizza Tours dan organisasi non-profit bernama Slice Out Hunger. Intinya, Scott memandang pizza melalui cara yang nggak dilakukan oleh orang lain.

Saat memakan pizza, Scott bakal tahu keju jenis apa yang digunakan di atasnya, terbuat dari apa adonan rotinya, bahkan hingga proses pemanggangannya. Menariknya, ketika ditanya oleh Mashable.com tentang pizza favoritnya, Scott justru mengaku nggak memiliki satu pun. Baik crust tipis maupun tebal, keju tawar maupun mozzarella, ia menyukai semuanya. Bagi Scott, setiap pizza memiliki “keindahan” tersendiri sehingga nggak bisa dipilih mana yang terbaik.

 

Adakan Tour Pizza

Semua berawal ketika Scott mengumpulkan teman-temannya untuk mengunjungi beberapa tempat pizza dalam sehari. Setiap perjalanan hanya bisa menampung empat orang karena keterbatasan mobil. Akhirnya, suatu hari Scott menyewa bus untuk merayakan ulang tahunnya. Ia mengajak 26 teman dan keluarganya untuk menjelajah tempat-tempat pizza. Enam bulan kemudian, Scott berhasil mengubah hal tersebut menjadi bisnis bernama Scott’s Pizza Tours.

Hanya dalam waktu enam tahun sejak pertama kali diluncurkan, bisnisnya tersebut berhasil mengadakan 2.200 tur dengan lebih dari 34.000 peserta. Lo bakal diajak berkunjung ke beberapa penjual pizza. Sambil makan, Scott menjelaskan tentang cara pembuatan dan bahan-bahan yang digunakan. Ia juga nggak lupa memberi tahu kepada para peserta bahwa nggak ada rasa yang “salah” dari suatu pizza. Setiap orang punya selera masing-masing. Kalau lo suka, maka pizza itu memang cocok buat lo.

 

Pasti bakal asik lagi kalau suatu hari nanti Scott ikut membuat produk pizzanya sendiri, baik dalam bentuk restoran ataupun food truck. Di Indonesia belum ada nih pecinta pizza seperti Scott. Lo mau mengikuti jejaknya, Urbaners?

 

 

Sources: Mashable.com, Scottspizzatours.com

Filosofi Sosok Muhammad Aga dalam Meracik Secangkir Kopi

Tue, 07 July 2020
Muhammad Aga sedang memegang secangkir kopi

Kopi sudah jadi minuman wajib orang Indonesia. Mungkin lo juga salah satu tipe orang yang nggak bisa senyum sebelum menenggak secangkir kopi di pagi hari. Dalam dunia kopi, nama Muhammad Aga sudah nggak asing lagi di telinga, apalagi di mata. Nggak heran Bro, Aga sendiri sudah lama berkiprah sebagai barista dan pernah membintangi film “Filosofi Kopi”. Ayo kenalan dengan Muhammad Aga dan tentang filosofinya dalam mencintai kopi #MumpungLagiDirumah.

 

Dari Musik ke Biji Kopi

Muhammad Aga mengenakan setelan jas hitam dengan topi hitam

Siapa yang sangka kalau barista unggulan Indonesia ini lulusan jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta? Sebelum akhirnya jatuh cinta dengan dunia barista, Aga benar-benar fokus dalam mengembangkan karir band Rockabilly miliknya, bahkan sudah beberapa kali manggung di luar Jakarta. Justru dari komitmennya dalam menghidupi band tersebut, Aga akhirnya bekerja paruh waktu sebagai barista di Dante Coffee Kelapa Gading.

Sepanjang tahun 2009 hingga 2012, Aga semakin mendalami teknik meracik kopi. Dimulai dengan belajar secara otodidak lewat internet, komunitas, dan workshop. Walau sekarang sibuk mengelola kedai kopi S.M.I.T.H dan Harapan Djaya, tetap saja Aga masih suka jamming session dengan teman-temanya, Bro.

 

Pentingnya Koneksi

Muhammad Aga sedang melakukan latte art dengan teknik pouring

Kalau lo bingung bagaimana caranya seorang barista bisa jadi eksis seperti Aga dan sampai masuk ke layar lebar, jawabannya adalah koneksi. Menurut Aga, kopi menghubungkannya dengan orang-orang influential yang berjasa dalam perjalanan karirnya.

Seperti pertemuannya dengan Hendri Kurniawan di sebuah kontes barista, di mana Hendri tertarik dengan kopi racikan Aga dan menjadi mentornya. “Doi adalah teman sharing gue dan yang merekomendasikan berbagai kafe ke gue. Makanya gue bisa sering pindah-pindah.”

Dari koneksinya dengan Hendri, Aga juga dipertemukan dengan Angga Dwimas Sasongko dan ikut bergabung ke proyek Filosofi Kopi. Terkesan nggak nyambung, tetapi perannya di Filosofi Kopi melambungkan nama Aga dan mempermulus karirnya. “Ujung-ujungnya proses bikin usaha sendiri bakal lebih mudah karena kenalan gue udah banyak.”

 

Mengharumkan Nama Indonesia di Jenjang Internasional

Muhammad Aga memegang piala dan seritifikat untuk partisipasinya dalam World Barista Championship 2018

Salah satu kehebatan Aga adalah prestasinya yang sudah berhasil menjadi juara berbagai kompetisi barista. Bermula sejak tahun 2012 ketika Aga menjadi juara satu Latte Art Throwdown Competition. Lanjut dengan Indonesian Barista Competition 2013 dengan posisi kelima dan memulai kiprah internasionalnya melalui ASEAN Barista Competition di posisi ketujuh.

Sampai di tahun 2018, Aga dipilih menjadi finalis dari Indonesia untuk maju dalam kompetisi World Barista Championship di Amsterdam. Bukan sekadar menyeduh kopi saja, Aga juga harus mempersiapkan setiap bahan yang dibutuhkan untuk meracik espresso, cappuccino, dan signature beverages.

Walau gagal untuk masuk ke semifinal, tetapi prestasi Aga masih sangat membanggakan untuk bisa memperlihatkan kemampuannya sebagai barista dan menunjukkan cita rasa luar biasa dari biji kopi lokal. “Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya dapat pengalamannya, dapat ilmunya, dapat temannya, dapat banyak hal, lah.”

 

Lebih dari Secangkir Kopi

Muhammad Aga mengenakan kemeja putih sedang menuangkan kopi ke gelas

Teknik saja nggak cukup untuk bisa meracik secangkir kopi yang nikmat. Filosofi kopi dari Aga adalah untuk mengenal hingga ke akarnya. Seperti kebiasaan travelling Aga ke kebun kopi, di Indonesia dan luar negeri, sambil berbincang dengan petani kopi di sana. Dengan begitu, Aga bisa melihat permasalahan yang ada dan memberikan input-nya kepada petani kopi agar bisa memproduksi biji kopi seperti yang ia mau.

“Kopi itu, value-nya banyak, ya. Saya kenal banyak orang juga dari kopi, saya hidup dari situ.” Jadi, next time lo ngopi bareng, coba resapi pahitnya kopi dengan manisnya koneksi bersama teman-teman lo. It’s not just a cup of coffee!

 

 

 

Sources: Cleo, Kumparan, Genmuda.