Home Hobby 3 Buku Fenomenal Pramoedya Ananta Toer
3 Buku Fenomenal Pramoedya Ananta Toer

3 Buku Fenomenal Pramoedya Ananta Toer

Monday, June 4, 2018 - 10:49
Bagikan
Facebook Twitter Email

Pramoedya Ananta Toer ditahan lebih dari 14 tahun tanpa diadili. Pram, panggilan akrabnya, menghabiskan 10 tahun di Pulau Buru tanpa informasi dan kehidupan yang layak. Masa 10 tahun penahanan di Pulau Buru ternyata nggak membuat Pram berhenti berkarya. Setiap hari, Pram mendongengkan sebuah cerita kepada teman-temannya di Pulau Buru. Cerita tersebut akhirnya dibukukan oleh Pram dengan karya sastra luar biasa, Tetralogi Pulau Buru.

Selain Tetralogi Pulau Buru, ada juga puluhan karya lain dari Pram yang sangat menarik untuk diikuti. Dalam artikel kali ini, kita akan mencoba membahas 4 buku fenomenal karya Pramoedya Ananta Toer.

 

Tetralogi Pulau Buru

Ketika buku pertama dan kedua Tetralogi Pulau Buru, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa keluar tahun 1980 dan 1981, Jaksa Agung langsung melarang penerbitan kedua buku ini. Nggak cuma itu, buku ketiga dan keempat Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988) juga dilarang saat itu juga. Tetralogi Pulau Buru ini mengisahkan Minke, fantasi Pram mengenai sosok Tirto Adhi Soerjo, seorang pemuda Indonesia yang pertama kali menerbitkan surat kabar nasional pertama berbahasa Melayu (Indonesia).

Buku pertama Bumi Manusia sekarang sedang digarap filmnya oleh Hanung Bramantyo dengan Iqbaal Ramadhan sebagai sosok Minke. Sangat patut ditunggu karena di Bumi Manusia, Minke sedang mencari jati diri.

 

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Ketika berada di Pulau Buru dan diizinkan untuk menulis, Pram selalu menuliskan surat yang ingin diberikan kepada putrinya. Sayangnya, surat tersebut nggak bisa keluar dan nggak pernah tersampaikan. Dari tulisan-tulisan itulah, buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu muncul tahun 1995. Di buku tersebut, Pram menuliskan bagaimana keluh kesah dan pandangan Pram mengenai kehidupan di Pulau Buru.

 

Arus Balik

Karya terakhir yang fenomenal dari Pram adalah Arus Balik. Novel yang berkisah tentang arus balik tentang kehancuran Kerajaan Majapahit ini menggambarkan dengan jelas bagaimana masyarakat Indonesia yang menjilat, feodal, dan konflik lain-lainnya. Di sini juga dijelaskan bagaimana pergantian dari budaya Hindu-Buddha berubah menjadi Islam.

Ketiga novel di atas menjadi bacaan wajib bagi lo yang ingin mengenal Pram lebih dekat. Dengan penggambaran yang baik, Pram bisa membawa masa lalu ke masa sekarang dengan sangat jelas.

 

Source: tirto.id