Inspiring People
Selasa, 08 Juni 2021

Aditya Suharmoko: Wartawan yang Banting Setir Jadi “Tukang Jahit”

  • Share
  • fb-share
Aditya Suharmoko: Wartawan yang Banting Setir Jadi “Tukang Jahit”

Pernah nonton film yang karakter utamanya lagi bikin setelan jas di tailor? Detail banget, kan, semuanya supaya jas itu bukan cuma sekadar muat aja, tapi ngepas di badan dan membuat siluet badan lo makin tegas. Masalahnya, enggak semua toko atau penjahit bisa mengikuti kemauan dan kebutuhan pelanggannya sedetail mungkin.

Butuh pemahaman, attention to detail yang tinggi, dan komunikasi maksimal dari penjahit supaya bisa bikin baju yang bikin lo kelihatan makin dandy. Hal ini lah yang jadi concern Inspiring People kali ini, Aditya Suharmoko. Adit membuka bisnis jasa jahit semi-bespoke nya A&E Tailor di 2016.

Menariknya, sebelum terjun ke dunia tailoring, Adit sempat berprofesi sebagai wartawan ekonomi selama lima tahun. Ketertarikan Adit untuk terjun ke dunia tailoring bisa dibilang sangat personal dan coincidental.

Berawal dari Adit yang mau menikah dan bikin jas di salah satu tailor, tapi ngerasa enggak puas sama servis dan hasilnya. Enggak lama setelah menikah di tahun 2012, Adit memutuskan buat resign sebagai wartawan dan ikut istrinya yang saat itu mendapatkan beasiswa ke London, Inggris.

Selama tinggal di London, Adit dikenalin langsung sama budaya di sana yang familiar sama penggunaan suit buat kegiatan sehari-hari. Obsesi Adit dengan jas pun dimulai di situ. Adit sering banget jalan-jalan mengunjungi salah satu jalan di pusat kota London bernama Savile Row, yang memang surganya penjahit jas.

Walaupun udah punya obsesi terpendam sama jas, Adit nggak langsung begitu aja memutuskan buat membuka bisnis jahit. Setelah pulang ke Indonesia, pelan-pelan ia mulai melihat ada celah untuk masuk dan berkecimpung di dunia tailoring.

Buat Adit, banting setir untuk membuka bisnis jasa penjahitan bukanlah keputusan yang mudah. Soalnya, Adit sempat nggak dapet dukungan dari istri dan kerabatnya. Apalagi dengan kondisi Adit yang saat itu belum punya modal dan keahlian di bidang jahit.

Sampai di sekitar tahun 2014, Adit mulai melakukan riset dengan mengunjungi banyak tukang jahit untuk mendapatkan informasi cara membuat jas. Salah satu challenge yang dihadapi Adit saat mau buka bisnis jahit adalah ia merasa kesulitan buat nyari penjahit yang mau bekerja dengan telaten dan mencapai kualitas tinggi yang diinginkan.

Adit pun nggak pernah mengikuti kelas jahit atau mendesain baju sama sekali, melainkan hanya mengandalkan hobi menggambarnya. Skill yang dimiliki oleh Adit sekarang berasal dari dirinya yang mempelajari teknik-teknik secara otodidak, dan belajar dengan master tailor yang bekerja di A&E Tailor.

Pemilihan Nama yang Personal dan Dekat di Hati

Aditya Suharmoko

Ada beberapa coincidence dibalik nama A&E Tailor. Banyak yang menganggap ‘A&E’ berasal dari inisial Adit dan istrinya. Emang bener, tapi bukan cuma itu yang mewakili nama tersebut.

Pas di London, Adit sering mengunjungi Unit Gawat Darurat (UGD) karena kondisi istrinya yang saat itu sedang hamil. Di London, UGD di sana dinamakan ‘Accident and Emergency’, sehingga kalau disingkat jadi ‘A&E’.

Selain itu, ada band favorit Adit yang salah satu albumnya bertajuk ‘Songs in A&E’, yang juga dilatarbelakangi oleh personil band nya yang juga lama terdampar di UGD. Saat itu Adit juga merasa keputusannya untuk membuat bisnis jahit ini juga merupakan sesuatu yang unexpected dan sebuah ketidaksengajaan, mirip dengan ‘Accident & Emergency’.

Waktu pertama buka A&E Tailor berstatus traveling tailor dimana Adit mengunjungi para customers. Namun, untuk efisiensi, Adit akhirnya memutuskan buat membuka toko di tahun 2019.

Soft Tailoring Lewat Sistem Jahit Semi-Bespoke

Aditya Suharmoko

Dari awal, Adit memang lebih condong untuk membuat jas dengan model soft tailoring. Setelan jas soft tailoring adalah jas yang nggak kaku sehingga nyaman dipakai, tapi tetap terlihat klasik, rapi dan clean.

Sistem jahit yang ditawarkan sama A&E Tailor adalah sistem jahit semi-bespoke. Adit nggak mau sembarangan menyebut bisnisnya ini dengan bisnis jahit bespoke. Soalnya, untuk bisa menyebut jas ‘bespoke’, harus ada seenggaknya 50 jam pengerjaan pakai tangan. Adit dan A&E Tailor nggak sampai ke standar itu karena masih ada beberapa pekerjaan yang dibantu sama mesin.

Proses pengerjaan jasnya pun memakan waktu sekitar 1,5-2 bulan. Setidaknya, customer akan melakukan lima kali pertemuan sama Adit. Dari mulai diskusi desain dan pemilihan bahan, measurement, raw fitting, forward fitting, sampai final fitting.

Setiap setelan jas semi-bespoke pun dibuat dengan pola yang didesain khusus dari nol buat masing-masing pelanggan. Teknik canvassing yang umum digunakan oleh Adit ada dua; full canvas dan half canvas.

Untuk bahannya sendiri, Adit mengandalkan dua supplier; lokal dan impor. Diantara banyaknya pilihan bahan yang ditawarkan, bahan wool jadi mayoritas bahan yang jadi incaran customer A&E Tailor.

Kalau lo mau tahu lebih banyak tentang cerita perjalanan Adit membangun A&E Tailor dan servis apa aja yang ditawarkan, jangan lupa nonton MLDSPOT TV Season 7 Episode 9, “Classic Classy” di YouTube channel MLDSPOT TV. Sekalianm subscribe juga YouTube channel MLDSPOT TV, dan follow Instagram @mldspot buat lihat konten-konten inspiratif lainnya. Get yourself inspired by MLDSPOT!

Comments
Ardi Widisetiawan
Hargai pilihan beliau
Epul Saepuloh
Thanks artikelnya