Inspiring People
Selasa, 27 April 2021

Photobook Album ‘2020’ White Shoes, Kokoh Berdiri di Tengah Pandemi dan Arus Digital

  • Share

Lo semua pasti setuju kalo tahun 2020 itu bukan tahun yang menyenangkan untuk siapapun. Situasi pandemi sukses bikin semuanya ngedown di awal dekade ini. Nggak cuma jadi bencana untuk kesehatan, pandemi ini juga menutup keran-keran aktivitas kita semua. Industri musik dan hiburan pun sempat tertutup juga. Di awal era new normal – timbul sebuah pertanyaan: Apakah para musisi Indonesia akan tetap bisa berkarya?

Jawabannya: Tentu saja bisa!

Beruntunglah kita semua telah ada di zaman dimana teknologi berperan besar dalam menunjang para insan kreatif untuk berkarya. Udah setahun lebih kita jadi semakin dekat dengan platform digital seperti Youtube, Spotify, Live IG hingga berbagai macam konser virtual yang diselenggarakan. Internet dan media sosial menjadi ladang yang semakin tidak terbatas untuk dieksplorasi para musisi. Merilis karya, mengadakan konser, hingga bertegur sapa dengan penggemar pun bisa dilakukan secara digital.

Di saat banyak musisi berusaha keras beradaptasi dengan dunia digital,  hal ini nggak berlaku buat Inspiring People White Shoes & The Couples Company. Unit indie pop asal Jakarta ini justru merilis album terbaru ‘2020’ dalam format fisik yang tidak biasa yaitu photobook. Terakhir merilis album penuh ‘Vakansi’ pada 2010, kembalinya Sari dkk. disambut dengan antusias oleh para penggemarnya.

Hal ini dibuktikan dengan album tersebut terjual habis dalam pre-order di bulan Desember kemarin. Format rilisan photobook ini menjadi daya tarik tersendiri dari album ‘2020’. Gimana nggak keren, style vintage dan retro ala White Shoes berpadu serasi dengan nuansa foto analog dalam photobook ini.

Ketika White Shoes “Difilmkan” Melalui Photobook

Pembuatan photobook ini dilatarbelakangi oleh kedekatan White Shoes dengan film-film Indonesia jadul tahun 60-70an. Unsur film ini telah banyak mempengaruhi mereka dari segi musik, visual, hingga fesyen yang ikonik banget. Dari situ muncul ide-ide untuk terus memasukan unsur film ke dalam album ‘2020’. Photobook ini pun menjadi medium yang sangat tepat.

Photobook ini terdiri dari dua buah CD, poster, postcard, stiker, dan foto-foto White Shoes di berbagai penjuru Jakarta yang diambil dan diarahkan oleh sang drummer, John Navid. Cover album ini menampilkan keenam personil yang berpose layaknya pemeran dan kru film. Sebelas lagu dalam album ini diumpamakan sebagai film, yang diwakilkan dengan foto dan sinopsisnya.

Sinopsis film ini ditulis oleh teman-teman dari White Shoes, yang diberikan sebuah lagu dan dibebaskan untuk menginterpretasikan lagu tersebut menjadi sebuah film. Salah satunya adalah Sal Priadi yang menulis sinopsis  film ‘Kodrat’ untuk lagu ‘Semalam’.

“Sejauh ini kan orang bikin film itu visual duluan, baru musiknya. Nah ini kita balik, musik nya udah ada, orang kita suruh dengerin dan menginterpretasikan seandainya lagu itu sebuah film, jadi film yang kayak gimana?” ujar gitaris Saleh Husein ketika menjelaskan proses kreatif photobook ‘2020’.

Ketika berbicara soal rilisan fisik, White Shoes tidak pernah main-main. Sebagai sebuah band yang tidak merilis album setahun atau dua tahun sekali, rilisan fisik adalah unsur yang sangat penting. Untuk urusan fisik dan visual White Shoes ingin semuanya maksimal mulai dari konsep hingga produk jadi. Kehadiran format photobook ini juga bisa menjadi standar baru untuk rilisan fisik.

Bangkitkan Memori Kolektif Dengan Suasana Nostalgia Jakarta

Untuk mendapatkan kesan retro dan nostalgic yang diinginkan, pemilihan latar tempat dan suasana foto menjadi tahap yang krusial. Karena itu, John Navid sebagai fotografer sangat perfeksionis untuk urusan latar tempat dan suasana. Berbagai lokasi menarik di penjuru Jakarta Ia amati untuk mendapat hasil terbaik. Salah satu lokasi unik di photobook ini adalah Caramia Bakery, sebuah cafe dan bakery kecil di Jakarta Pusat yang menjadi latar tempat untuk lagu ‘Sam dan Mul’.

Beberapa lokasi lainnya adalah Pasar Malam Cengkareng dan Hotel Harmoni. Semua lokasi yang dipilih adalah tempat-tempat yang jauh dari kesan populer apalagi “instagrammable”. White Shoes memang ingin mengambil suasana Jakarta jaman dulu, lengkap dengan segala debu dan remang-remangnya. Hal ini juga yang membuat karya visual mereka sangat berbeda dari yang lainnya.

Dalam album ‘2020’ ini White Shoes tidak ingin berpesan macam-macam. Mereka hanya ingin membangkitkan memori kolektif audiensnya soal Jakarta melalui segala macam visual yang ada. Selain itu White Shoes mau menunjukkan bahwa banyak tempat di Jakarta yang menarik untuk dikunjungi.

“Memori kolektif itu lu punya kenangan tersendiri ketika melihat angkot, atau suatu restoran, atau tempat dan adegan tertentu.” terang gitaris Yusmario Farabi.

Melalui sebuah rilisan fisik yang dikemas dengan manis dan elegan, White Shoes & The Couples Company berani mengambil langkah melawan arus digital. Photobook album ‘2020’ ini juga jadi penanda bahwa rilisan fisik bukanlah sekedar format, melainkan telah menjadi sebuah identitas.

Kalau mau tau lebih lanjut seputar White Shoes dan album ‘2020’, jangan lupa nonton MLDSPOT TV Season 7 Episode 4 ‘Comeback WSATCC’ di YouTube channel MLDSPOT TV. Subscribe juga YouTube channel MLDSPOT TV dan follow @mldspot di Instagram. Get yourself inspired by MLDSPOT

 

 

Comments

Kreatif dan inovatif
Kreatif ditengah pandemic good job