Game of Thrones Seasons 7, Sang Pemuas Dahaga Serial Televisi Terbaik - MLDSPOT
  • Movie
  • Game of Thrones Seasons 7, Sang Pemuas Dahaga Serial Televisi Terbaik

Game of Thrones Seasons 7, Sang Pemuas Dahaga Serial Televisi Terbaik

Thu, 20 July 2017

Ketika pertama kali ditayangkan pada tahun 2011, nggak ada yang menduga kalau serial televisi Game of Thrones (GoT) akan menjadi serial televisi favorit. Rating dari GoT langsung menanjak ketika memasuki seasons 2 di tahun 2012. Setelah itu setiap seasons GoT ditunggu oleh banyak orang, drama karakter sampai adegan kontroversialnya selalu dibicarakan di media online. Setelah “menghidupkan” Jon Snow di season 6, bisa jadi fenomena GoT semakin meningkat tajam.

Kali ini para penggemar GoT nggak sabar untuk melihat bagaimana perang yang terjadi antar Kingdoms. Tayang pada tanggal 18 Juli 2017 kemarin, Game of Thrones Seasons 7 yang berjudul Dragonstone ditonton sekitar 10 juta orang di Amerika Serikat.

 

Cerita Pembuka yang Menarik

Serial televisi Game of Thrones Seasons 7 ini bisa jadi merupakan seasons paling sukses jika dilihat dari jumlah tayangan. Ini dikarenakan promosi yang gila-gilaan dari HBO. Mulai dari trailer sampai ditariknya Ed Sheeran sebagai pemeran pendukung juga dianggap sebagai taktik marketing yang apik.

Pada cerita pertama, karakter-karakter penting mulai muncul. Arya Stark kembali ke tanah kelahirannya untuk mencari keadilan. Jon Snow yang sudah mendapatkan gelar King of North ini menggunakan kekuasaannya dengan cara mengampuni kesalahan para pewaris kerajaan. Sedangkan sang cantik Daenerys Targayen ini kembali ke rumahnya di Westeros bersama pasukan dan mengajak semua pasukannya untuk bersiap-siap.

 

Rekor Game of Thrones

Jika berbicara mengenai Game of Thrones, selalu memecahkan rekor. Para pemeran utama seperti Emilia Clarke, Kit Harlington dan Peter Dinklage ini mendapatkan bayaran 1,1 juta dolar per episodenya. Nggak sampai di situ, GoT juga mendapatkan puluhan penghargaan seperti Primetime Award dan Golden Globe. Jumlah penonton perdana kemarin yang mencapai 10 juta penonton juga memecahkan rekor GoT sebelumnya yang mencapai 8,8 juta penonton.

Diprediksi, episode sisa GoT ini juga akan menarik ratusan ribu penonton baru di seluruh dunia. Apakah lo termasuk penggila dari GoT Urbaners?

 

Source: theindependent.com

Videografi dan Sinematografi: Ternyata Nggak Sama, Bro!

Thu, 04 March 2021
Videografi

Dalam memproduksi sebuah film emang nggak bisa terhindar dari teknik-teknik yang membuat film itu sendiri hidup. Baik dalam pengambilan gambar, cara menggunakan alatnya, sampai teknik ke dalam bagaimana film itu dikemas.

Dalam sebuah film, nggak cuma ada sinematografi – tapi juga ada videografi. Sinematografi dan videografi emang sering disalah artikan ataupun dianggap sama, tapi yang perlu lo ketahui – kedua hal ini berbeda, bro!

Beberapa minggu lalu MLDSPOT udah sempat ngebahas mengenai sinematografi dan teknik yang perlu diketahui, nah tapi sebenarnya apa sih makna sinematografi dalam film sebenarnya? Dan apakah benar berbeda dengan videografi?

Dari pada bertanya-tanya sendiri dan penasaran, lebih baik langsung aja simak artikel selengkapnya di bawah ini.

Pahami Arti Sinematografi

Videografi

Credit image – Creative Planet Network

Sebelum masuk ke dalam sinematografi itu sendiri, lebih baik luruskan dulu pemahaman lo mengenai film dan video – sinematografi lebih sering digunakan untuk istilah dalam film, sebenarnya video pun bisa, tapi hanya video yang memiliki jalan cerita atau makna yang ingin disampaikan. Jadi, nggak semua video bisa dilihat sinematografinya ya!

Dari segi penilaian, sinematografi emang identik dengan pengambilan kamera. Tapi dalam hal ini bukan cuma bagaimana kamera mengambil sebuah gambar, tapi juga pemaknaan yang diberikan dalam sebuah gambar ketika diambil dan berkaitan dengan scene dari sebuah film atau video.

Nggak cuma kamera aja, efek dari film dan video, lighting, hingga color palette yang digunakan dalam film pun akan menjadi makna berbeda dalam sinematografi. Salah satu hal yang paling terlihat dalam sebuah sinematografi adalah bagaimana para penonton bisa memahami film yang ditontonnya yang dibalut dalam sebuah sinematografi yang baik sebagai penunjangnya.

Lalu, Apa Videografi Sendiri?

Nah kalau selama ini lo merasa sinematografi adalah teknik gimana cara mengambil sebuah gambar yang baik, tanpa shaking, dan lain sebagainya – hal itulah yang disebut dengan videografi.

Videografi hanya sekedar gimana sebuah film dan video diambil, gimana menarik perhatian penonton dari setiap scene-nya dari sebuah gambar. Hal ini nggak kalah penting dari sinematografi – cuma untuk kegunaan, videografi hanya mementingkan estetika aja.

Seorang videografer dalam membuat film atau video dengan videografi yang baik adalah dengan membuat gambar yang diambil menjadi lebih nyata. Pernah nggak sih – lo nonton sebuah film atau video, saking bagusnya lo berasa ada di suasana film itu?

Kalau pernah, itu artinya lo sudah pernah merasakan menonton film atau video yang videografinya bagus.

Jadi, Bedanya Apa?

Videografi

Credit image - FStoppers

Setelah membaca kedua hal yang ternyata berbeda ini, pasti lo sudah memahami kalau sinematografi lebih berfokus pada pengambilan gambar yang juga berpengaruh pada bagaimana sebuah pesan dalam film atau video disampaikan, berbeda dengan videografi yang memfokuskan estetika dalam pengambilan gambar.

Ibaratnya – sinematografi memberikan gambaran bahwa sebuah film dapat terlihat menjadi sebuah cerita, videografi memberikan gambaran bagaimana sebuah film dikemas dan membuat visual semenarik mungkin.

Meskipun kedua hal ini berbeda, tapi yang harus lo ketahui adalah – bahwa kedua hal ini berjalan secara beririsan, alias nggak bisa jalan sendiri-sendiri. Sebuah film atau video nggak akan maksimal hasilnya kalau hanya menerapkan sinematografi aja tanpa ada videografi yang matang, begitu juga sebaliknya.

Jadi, setelah membaca ini – pastikan ketika menonton sebuah film atau video dengan pengemasan visual yang bagus dan jalan cerita yang menarik, itu adalah hasil dari kesinambungan antara sinematografi dan videografi.

 

Feature image – Olerte Maure