Gundala Siap Bersaing di Toronto International Film Festival 2019 - MLDSPOT
  • Movie
  • Gundala Siap Bersaing di Toronto International Film Festival 2019

Gundala Siap Bersaing di Toronto International Film Festival 2019

Thu, 29 August 2019
Gundala Siap Bersaing di Toronto International Film Festival 2019

Satu lagi film karya anak bangsa yang sukses menorehkan prestasinya di ajang internasional. Kali ini giliran film superhero Gundala Putra Petir karya Joko Anwar yang diadaptasi dari komik dengan judul sama, sukses masuk dalam Toronto International Film Festival (TIFF) 2019. Bagaimana perjalanan Gundala hingga meraih nominasi di TIFF 2019?

 

Satu-Satunya Film Asia Tenggara

Film besutan Joko Anwar ini memang layak untuk mendapatkan apresiasi tertinggi, Urbaners. Pasalnya, Gundala nggak cuma sekadar mewakili film Indonesia dalam gelaran TIFF 2019, melainkan menjadi satu-satunya film Asia Tenggara yang tayang di acara tersebut. Joko Anwar sendiri menilai jika masuknya film Gundala di TIFF 2019 membuktikan bahwa film anak bangsa juga nggak kalah dalam hal kualitas, sehingga mampu bersaing di tataran internasional.

Hal senada juga diamini oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf. Menurutnya, Gundala mampu menjadi cikal bakal sebuah film superhero yang diambil dari tokoh lokal dan dibuat dengan teknologi perfilman masa kini.

 

Siap Bersaing dengan Film Hollywood

Siap Bersaing dengan Film Hollywood

 
Dalam TIFF 2019, Gundala masuk kategori Midnight Madness. Di sini Gundala akan bersaing dengan beberapa film terbaik dari Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Inggris, dan Spanyol. Bahkan digadang-gadang Gundala bakal bersaing ketat dengan film besar Hollywood. Salah satunya adalah film besutan sutradara Todd Philips, Joker.

Melalui akun Twitter resmi TIFF 2019, disebutkan pula kalau masuknya Gundala yang diadaptasi dari komik sangat exhilarating atau dengan kata lain menggembirakan. Cuitan di akun tersebut pun sempat diapresiasi oleh berbagai kalangan, termasuk oleh ajang penghargaan film bergengsi, Golden Globes.

 

Tayang pada September 2019

Film Gundala rencananya akan dirilis secara serentak di Indonesia pada 29 Agustus 2019. Untuk pemutaran Gundala sendiri di ajang TIFF 2019 akan diselenggarakan pada bulan September 2019. Pemutaran Gundala dalam TIFF 2019 yang digelar pada tanggal 5-15 September 2019 tersebut digelar pada program Midnight Madness. Gundala akan diputar bersama dengan film terbaru besutan Nicholas Cage dan dengan satu film karya sutradara ternama Takashi Miike.

Tayang pada September 2019

Kabarnya, selain berjuang di ajang TIFF 2019, Gundala juga akan berjuang keras di ajang film internasional lainnya. Salah satunya adalah People’s Choice Awards. Gundala memang film superhero yang unik, Urbaners. Kabarnya, semua karakter di film Gundala nggak ada yang benar-benar baik atau benar-benar jahat.

 

 

Source: Tirto.id, CNN Indonesia

Sebelum Nonton Yang Baru: Ini 5 Film Pertama Produksi Indonesia Pada Masanya

Mon, 12 April 2021
FIlm Indonesia Terbaru

Sebelum bisa menikmati industri hiburan hingga saat ini, berdekade-dekade ke belakang Indonesia sempat mengalami masa sulit untuk mengembangkan industri ini. Untuk menonton televisi atau sekedar produksi musik, semua butuh perjuangannya sendiri.

Emang sih produksi industri hiburan zaman dulu nggak sekuat sekarang, tapi uniknya film-film masa zaman dulu ini banyak menceritakan soal patriotik, perang kemerdekaan, dan juga percintaan klasik di masa penjajahan. Tentunya, campur tangan kolonial masih ada di sana.

Melihat perkembangan soal film nasional boleh dibilang tumbuh pesat dengan hadirnya sutradara-sutradara besar Indonesia saat ini serta pemain Indonesia yang memiliki karakter yang kuat, akhirnya film Indonesia bisa berdiri secara mandiri dengan kualitas yang bisa dianggap sangat baik.

Penasaran sama film Indonesia yang pertama kali di produksi? Langsung aja simak 5 film pertama yang diproduksi di Indonesia di bawah ini!

Loetoeng Kasaroeng (1926)

FIlm Indonesia Terbaru

Credit image – Hai Grid

Film pertama yang ada di Indonesia ini bernama Loetoeng Kasaroeng yang dirilis pada tahun 1926. Film yang diangkat dari legenda masyarakat dari Parahyangan, yang sering ditampilkan dalam seni pantun Sunda. Film yang diproduksi saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda ini saat itu masih masuk ke era film bisu dan hitam putih.

Film yang ditayangkan di bioskop hanya berupa gambar bergerak tanpa ada suara sama sekali ini dirilis pada 1926 oleh NV Java Film Company, dengan dua sutradara asal Belanda – G Kruger dan L Heuveldrop. Meski disutradarai oleh orang Belanda, para pemain film atau aktor dan aktrisnya diambil orang pribumi dan jadi film pertama di Indonesia!

Eulis Atjih (1927)

FIlm Indonesia Terbaru

Credit image – Pop Bela

Setelah Loetoeng Kasaroeng, Java Film Co. kembali memproduksi film kedua mereka setelah satu tahun berikutnya dengan judul Eulis Atjih. Film yang disutradarai oleh G. Krugers ini merupakan film adaptasi pertama Indonesia yang diangkat dari novel karya Joehana. Pada tahun 1927, film yang dibintangi oleh aktor Indonesia Arsad dan Soekria ini sangat sukses di Hindia Belanda.

Film yang bercerita mengenai seorang pria Indonesia yang meninggalkan istrinya yang bernama Eulis Atjih dan anaknya demi berpesta. Dari sifatnya itu, keluarga mereka jatuh miskin dan membuat Eulis harus ikut bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi sayangnya, saat dibawa ke pasar luar negeri, film ini kurang diminati.

Lily Van Java (1928)

FIlm Indonesia Terbaru

Credit image – Jadi Berita

Melihat kesuksesan dua film perdana yang diproduksi di Indonesia dengan sutradara asal Belanda, seorang asli Tionghoa di Indonesia bernama Lily Van Java – yang dikenal juga dengan nama Melatie Van Java yang rilis pada tahun 1928.

Lily Van Java awalnya akan diproduksi oleh rumah produksi South Sea Film dengan sutradara asal Amerika, Len Roos. Namun, karena satu dan lain hal, Lily Van Java akhirnya jatuh ke tangan sutradara Nelson Wong. Di bawah naungan rumah produksi Wong's Halimoen Film, Lily Van Java jadi film panjang pertama yang diproduksi – meskipun filmnya nggak terlalu sukses.

Berkisah tentang perjodohan, Lily Van Java bercerita tentang seorang perempuan yang terlahir dari keluarga kaya dan terpaksa meninggalkan kekasihnya yang sangat ia cintai demi menikah dengan laki-laki pilihan keluarganya.

Resia Boroboedoer (1928)

FIlm Indonesia Terbaru

Credit image – JalanTikus

Resia Boroboedoer atau yang memiliki arti Secret of Borobudur ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Young Pei Fen (Olive Young), yang pergi ke Jawa untuk mencari guci berisikan abu Buddha Gautama peninggalan sang ayah, Young Lun Fah. Guci tersebut berada di Candi Borobudur. Saat mencari guci tersebut, banyak halangan yang dihadapi Young Pei Fen. Termasuk, serangan ilmu hitam dari orang yang membencinya.

Resia Boroboedoer dianggap sebagai film yang buruk karena menampilkan hal yang nggak masuk akal. Penikmat film pada masa itu mempertanyakan – bagaimana caranya seorang Tionghoa yang berbahasa Mandarin bisa tinggal di Sumatra dan tiba-tiba ada di Pulau Jawa untuk mencari guci.

Setangan Berloemoer Darah (1928)

FIlm Indonesia Terbaru

Credit image – Wikipedia

Setangan Berloemoer Darah menjadi film adaptasi novel kedua setelah Eulis Atjih. Film bisu dengan gambar hitam putih ini diproduksi dan disutradari oleh Tan Boen Soan, wartawan Soeara Semarang. Film yang diangkat dari novel karya Tjoe Hong Bok ini menjadi film Indonesia pertama yang menyisipkan adegan laga.

Setangan Berloemoer Darah bercerita tentang pemuda bernama Tan Hian Beng yang berusaha mencari pembunuh ayahnya untuk balas dendam. Dendam yang dibawa dari kecil, membuat Tan Hian Beng menjadi sosok berdarah dingin.

Itulah 5 film pertama di Indonesia yang diproduksi sebelum akhirnya menjadi film Indonesia yang berkembang hingga saat ini. Apakah lo tertarik nonton film bisu, bro?

 

Feature image – Medium