• Music News
  • Adra Karim dan Sederet Pengalaman Internasional

Adra Karim dan Sederet Pengalaman Internasional

Tue, 23 June 2020
Adra Karim sedang memainkan Grand Piano sambil mengenakan headphone

Azfansara Karim atau yang biasa dikenal dengan nama Adra Karim merupakan seorang keyboardist dalam band Tomorrow People Ensemble, sekaligus juga aktif bermusik bersama band Getah, Potret, dan musisi Andien. Menggeluti genre jazz, Adra Karim punya segudang pengalaman yang membuatnya dikenal sebagai satu dari segelintir pemain Hammond organ. Simak perjalanan karir dan kebiasaan bermusik #MumpungLagiDirumah sang musisi, dosen, arranger, dan komposer yang satu ini

 

Berawal dari Musik Klasik, Merambah Jazz

Adra Karim nggak langsung menggeluti genre jazz. Semuanya bermula dari pengalamannya saat les piano klasik. Setelah mahir bermain piano, Adra pun belajar cara memainkan lagu-lagu pop untuk bisa melakukan jam session bersama teman-temannya. Dari aktivitas nge-band bersama teman SMA, Adra akhirnya diperkenalkan dengan genre acid jazz yang berakar dari genre jazz.

“Sejak itu, ketika di akhir SMA saya mulai mencari-cari guru untuk mengajar saya bermain jazz. Waktu kuliah saya ikut workshop-workshop jazz,” ujar Adra ketika mengingat awal mula ia memutuskan untuk fokus pada genre jazz. Adra juga menyebutkan bahwa ia sempat bekerja dulu seusai kuliah, kemudian berhenti untuk sekolah musik di Belanda.

Sekarang, Adra tergabung dalam band jazz Tomorrow People Ensemble dan aktif juga bersama band Tuslah dan Her Coat of Arms. Dalam bermusik, Adra tetap setia dengan instrumen piano dan keyboard. Nggak hanya manggung di festival jazz lokal saja, tetapi Adra juga disibukkan dengan kegiatan manggung di panggung internasional, seperti tur bersama Her Coat of Arms di Spanyol, Festival Blue Note dan Festival Jalan Kanazawa di Jepang bersama Tomorrow People Ensemble.

 

Cinta Mendarah Daging pada Hammond

Tampilan tuts Hammond organ lengkap dengan perangkatnya

Secara spesifik, Adra mengambil jurusan Jazz Organ dan menjadikan Hammond organ sebagai alat musik utamanya saat duduk di bangku kuliah di ArtEZ Academy of Music dan Prince Claus Conservatorium di Belanda. Selain memang karena menyukai instrumen ini, Adra juga mengaku nggak menemukan pengajar serta alat untuk belajar main Hammond sebelumnya.

Terinspirasi dari legenda Jimmy Smith dan James Taylor Quartet, Adra berkomitmen untuk memasukkan Hammond organ ke dalam karya musiknya bersama Tomorrow People Ensemble. Menurutnya, Hammond memang memiliki suara yang khas, tetapi cukup versatile dan terdengar keren bila dimainkan dalam genre jazz.

Setelah membaca buku mengenai Hammond organ, sebuah kado dari Ricky Lionardi, Adra semakin mantap untuk menekuni Hammond organ di Belanda. Adra menyebutkan juga jadi sangat tertarik untuk membentuk organ trio.

Bahkan, Adra juga tetap aktif memainkan Hammond kesayangannya #MumpungLagiDirumah. Adra juga ikut kolaborasi dalam MLDSPOT Instaclass: Learn to Play Like Adra Karim di Mei lalu untuk sambil mengajarkan teknik bermain Hammond, bercerita seputar jazz, dan jam session bersama audiens.

 

Meleburkan Jazz dengan Musik Tradisional

Adra Karim yang mengenakan kaos polos sedang menekan tuts keyboard

Adra sendiri pernah menggelar concerto jazz Hammond organ di Spanyol, bekerja sama dengan Andreas Arianto untuk komposisi musik. Memang bukan hal yang biasa, tetapi Adra mengaku bahwa para audiens senang dengan sajian musik yang ia kemas dengan apik bersama alunan organ khas ini. Adra juga menggabungkan jazz dengan musik tradisional Bali, dua hal yang sempat ia jadikan sebagai topik thesis.

Motivasi Adra untuk memasukkan elemen musik tradisional Bali semakin kuat, mengingat pamor musik tradisional Indonesia yang semakin menurun sejak tahun 80-an. Menurut Adra, Indonesia cukup unik karena musik-musik populer Tanah Air kental dengan gaya musik Barat, bahkan nggak sama sekali terdengar ciri khas budaya Indonesia.

 

 

 

Sources: Cadaazz, Whiteboard Journal, The Jakarta Post.

Rich Brian: DOA - Suasana Baru Dari Rapper Andalan?

Fri, 18 September 2020
Cerita dibalik video musik Rich Brian DOA

Ada suasana segar yang dibawa oleh Rich Brian di album terbarunya, 1999 – di lagu DOA. Beatnya yang dinamis, Brian seperti membawa energi baru di mana para penikmatnya, mungkin dibuat terkejut dengan musik di lagu ini. Lo sudah dengar belum bro?

Dari beberapa lagu yang termasuk di dalam album 1999, DOA menjadi salah satu lagu favoritnya. Dilansir dari tirto – DOA adalah sebuah singkatan dari Dead On Arrival. Brian menceritakan kalau lagu ini adalah tentang persaingan dengan seseorang yang memiliki peluang nol di tempat pertama.

Kalau dari segi musik, melodi yang ada di dalam lagu DOA mengingatkannya kepada salah satu grup kesukaannya, yaitu Gorillaz. Lagu ini adalah lagu yang Brian nyanyikan ketika iya merasa mesti lebih baik daripada sebelumnya secara umum.

 

DOA Jadi Energi Tersendiri Dari Brian

rich brian DOA

Credit Image: cultr.com

Mungkin kalau rapper lain bisa saja meminta mobil Lamborghini, Ferrari atau mobil sport lainnya – tapi Brian? Oh my god – dia malah pilih Civic baru. Ini cukup jadi pembeda antara Brian dan rapper lainnya.

Di dalam video musik DOA, diperlihatkan kalau Brian menghabiskan waktunya berada dengan mobilnya. Baik saat dalam perjalanan dan saat mobilnya mogok juga. Tingkah dari Brian sendiri juga menyesuaikan dengan beat dari DOA ini sendiri.

Sehingga di video musik DOA kali ini, Brian terlihat lebih ‘pecicilan’ daripada video musik lainnya. Tidak apa, sih – justru hal ini jadi penyegar dan pembeda serta warna tersendiri dari Brian untuk video musik DOA ini.

Jika ditelisik dari musiknya sendiri, Brian menceritakan kalau DOA berasal dari sesi jamming dirinya, Jacob Ray, dan Diamond Pistols, lalu dengan random Louis Bell juga datang. Brian mengaku ia menjadi penggemar musiknya walau sudah mengenalnya lama dan pada hari itu ia bekerja untuknya.

Selain DOA, di dalam album 1999, setidaknya ada beberapa lagu andalan lainnya seperti ‘Don’t Care’, ‘Love in My Pocket’, ‘Long Run’, ‘When You Come Home’, dan ‘Sins’. Nah selain DOA, ‘Sins’ juga jadi lagu andalan Brian.

Dalam pengerjaan album ini, sebagian besar materi di sini diproduksi sendiri oleh Brian. Namun tetap ada yang ia kerjakan bersama dengan Bekon & The Donuts, Diamond Pistols dan Louis Bell. Dari album 1999, ada video musik yang cukup menarik perhatian, yaitu video musik dari Love in My Pocket.

Brian menceritakan kalau video musik ini jadi favoritnya sementara ini. Video musik dari Love in My Pocket menceritakan tentang bagaimana mencoba menjadi sempurna tidak akan berhasil di sebagian besar waktu.

Bro, apakah lo tahu album 1999 ini adalah album ke berapa dari Brian? Tahun 2019 lalu, Brian merilis albumnya yang berjudul The Sailor, 2018 Head in the Clouds dan ditahun yang sama juga yaitu Amen. Ketenaran Brian berangkat ketika ia mengeluarkan single Dat $tick dan langsung direkrut oleh label 88Rising.

Wah bagaimana nih bro? Dari segala penjelasan di atas – apakah lo sendiri sudah menonton dan menikmati video musik DOA dari Rich Brian? Kalau belum, langsung saja gas dan nonton di sini ya bro!

 

Feature Image – whiteboardjournal.com