• Music News
  • Podcast BKR Brothers, Bawa Topik Urban dengan Kemasan Menarik

Podcast BKR Brothers, Bawa Topik Urban dengan Kemasan Menarik

Mon, 24 August 2020
Topik-topik yang dibawakan BKR Brothers ringan tapi relate di pendengar, ini yang bikin BKR Brothers dipantengin terus Bro!

Kalau podcaster pada umumnya membawakan topik yang sedang viral, BKR Brothers justru melakukan kebalikannya. Buat Molen Kasetra, Bobby Mandela, dan Ryo Wicaksono, topik yang seru dan memikat kaum urban justru yang bisa didengarkan kapan saja.

“Kami suka topik yang timeless. Yang kalau didengerin hari ini atau enam bulan lagi, bahkan dua tahun mendatang juga masih relevan,” kata Ryo mewakili teman-temannya. Nggak heran, sekarang banyak banget sobat urban menjadi pendengar setia podcast BKR Brothers. Sejak Juni 2019 sampai saat ini, BKR Brothers sudah merilis 64 episode podcast dengan topik yang beragam dan seru. Simak petualangan trio ini meramaikan dunia podcast di Indonesia!

 

Konsep Serius tapi Santai

Salah satu mimpi BKR Brothers adalah ingin take podcast di luar negeri!

Podcast BKR Brothers awalnya terbentuk karena Tio dari Box2Box mengajak Ryo untuk membuat podcast. Ryo memang sudah tertarik bikin podcast sejak lama dengan Molen, tapi masih sebatas wacana. Molen juga waktu itu masih sekolah di Singapura, dan jadilah Ryo mengajak Bobby sebagai rekannya.

Lucunya, Ryo dan Bobby sedari awal telah membuat daftar lengkap berisi topik dan bintang tamu yang hendak diundang, termasuk salah satunya adalah Molen. Tapi, setelah menjadi bintang tamu, Molen malah akhirnya bergabung menjadi salah satu podcaster sampai sekarang.

FYI Bro, podcast BKR Brothers ini dulunya dinamai Podcast Boker. “Boker” sendiri adalah kependekan dari: Bobby Ketemu Ryo. Setelah jalan sampai belasan episode, mereka ditawari pekerjaan live podcast di satu festival di Bali. Namun, nama podcast menjadi isu buat klien karena dianggap mengandung asusila.

“Ya udah demi percuanan, saat itu kami ganti nama jadi BKR Brothers. Pulang dari Bali ternyata kami jadi mikirin lagi soal nama, dari sisi komersialisasi ke depannya. Di akhir tahun 2019, kami pun resmi ganti nama menjadi podcast BKR Brothers,” jelas Ryo.

Trio BKR Brothers yang tumbuh dari dunia radio ini menjalankan podcast-nya dengan santai tapi serius. Nggak ada pembagian peran yang spesifik. Obrolan di podcast pun sebenarnya juga menggambarkan obrolan Ryo dan kawan-kawan dalam kehidupan sehari-sehari.

Hanya saja, untuk menjaga durasi dan konsentrasi supaya obrolan nggak ngalur-ngidul, mereka juga memiliki pointers sendiri. “Brainstorming-nya biasa via WhatsApp aja kalau nggak sempat ketemu. Kami suka cerita kegiatan atau apa yang baru nih dari masing-masing kami, dari situ biasanya ketemu bahan untuk topik podcast,” tambah Ryo.

 

Topik Urban yang Everlasting

Salah satu topik favoritnya pendengar adalah ketika BKR Brothers saling buka aib masing-masing!

Bicara soal topik, gimana ceritanya BKR Brothers bisa produktif berkarya hingga lebih dari 60 episode? Nggak seperti podcast-podcast lain yang ada di pasaran, mereka justru berprinsip untuk menghindari pembahasan tentang topik viral, hanya demi memanfaatkan momentum. Menurut Ryo, tema yang diminati oleh pendengar adalah topik-topik yang relate dengan kehidupan sehari-hari, jadi nggak mesti melulu viral.

“Bahkan terkadang kami suka buka-bukaan aib sendiri dan ternyata pendengar senang. Misalnya di episode ‘White Lies’, akhirnya para pendengar jadi tahu kalau Ryo pernah hampir dimasukin penjara sama bokapnya. Kami juga ngomongin topik yang di-request pendengar. Kami di BKR Brothers mengapresiasi dan senang sekali jika bisa berinteraksi dengan para fans,” papar Ryo.

Perkembangan dunia podcast Indonesia sejauh ini sudah sangat melesat. Dan ini dinilai BKR Brothers sebagai sesuatu yang positif. Pendengar kini memiliki semakin banyak pilihan podcast yang sesuai dengan kebutuhannya, mulai dari yang serius sampai yang ’receh’ sekalipun.

BKR Brothers semakin terpacu mengeluarkan lebih banyak episode dengan topik menarik

Tentunya variasi dari podcast ini membuat BKR Brothers semakin terpacu untuk menyajikan topik-topik yang beda dari yang lain. Sampai saat ini, dari 64 episode yang sudah tayang, mereka mengaku ada tiga episode yang paling banyak didengarkan, yaitu “Pertemuan Kiki Ucup dengan Rhoma Irama”, “Danilla: New Manager, Who Dis?”, dan episode pertama podcast BKR Brothers.

“Semua episode yang kami bikin berkesan sih buat kami pribadi, tapi mungkin ada beberapa episode yang dampaknya besar secara engagement, padahal topiknya sederhana. Contohnya, kami pernah ngomongin pengalaman sunat dari sutradara Angga Sasongko,” cerita Ryo. Selain sunat, tema sederhana tapi menarik lainnya adalah ketika BKR Brothers membahas mobil-mobil dengan stiker neon yang biasa ada di mobil-mobil low cost dan mengklaim kalau mereka itu anak klub mobil. 

“Akhirnya kami mengambil kesimpulan, untuk didengarkan pendengar nggak perlu tema yang viral. Sederhana saja, tapi mengena dan relate dengan kehidupan sehari-hari. Membumilah, begitu,” tambah Ryo lagi.

 

Podcast Vs Radio

Podcast lagi hits banget tapi justru itu podcaster harus lebih kreatif dan punya karakter!

Sekilas pandang, konsep podcast mirip banget sama radio. Tapi, sebagai orang-orang yang tumbuh di industri radio, Ryo, Bobby, dan Molen menjelaskan beberapa perbedaannya. Salah satunya, pendengar radio cenderung lebih pasif, mereka tidak bisa menentukan atau menyampaikan usulan topik untuk dibahas oleh penyiar.

Sementara itu, sifat podcast lebih on-demand dan sangat mudah dipersonalisasi. Sebagai pendengar, lo bisa pilih topik yang lo sukai, dan bisa diulang berkali-kali karena sudah berbentuk rekaman. Topik-topik yang dibahas di podcast juga lebih fleksibel, karena sang kreator bebas menentukan topik dan durasi obrolan.

Karena topik yang sangat bebas, sebagai podcaster, mereka pun merasa bertanggung jawab akan semua omongan yang direkam. Mereka nggak mau asal bicara, harus memberikan data yang valid juga. Walaupun nggak ada tanggung jawab menjaga nama sebuah perusahaan, tapi mereka harus menjaga nama baik dari podcast BKR Brothers itu sendiri. Slogan yang diusung oleh Ryo, Bobby, dan Molen adalah: “We respect your right to be offended, therefore please respect our right to offend you”.

“Nah, balik lagi ngomongin tren podcast, kalau kami melihatnya situasi pandemi saat ini bikin orang-orang banyak mendengarkan podcast. Makanya kita harus aware sama sekitar dan lebih kritis, soalnya dari sekitar kita saja, sebenarnya ada banyak hal yang bisa dikembangin menjadi topik yang seru. Pastinya podcaster itu harus unik sih, dan punya karakter,” terang Ryo lagi.

Nah, buat lo yang nggak mau ketinggalan podcast BKR Brothers edisi terbaru, cek selalu update-nya di @BKRBrothers.

Berikut playlist inspiratif dari BKR Brothers: 

 

Rich Brian: DOA - Suasana Baru Dari Rapper Andalan?

Fri, 18 September 2020
Cerita dibalik video musik Rich Brian DOA

Ada suasana segar yang dibawa oleh Rich Brian di album terbarunya, 1999 – di lagu DOA. Beatnya yang dinamis, Brian seperti membawa energi baru di mana para penikmatnya, mungkin dibuat terkejut dengan musik di lagu ini. Lo sudah dengar belum bro?

Dari beberapa lagu yang termasuk di dalam album 1999, DOA menjadi salah satu lagu favoritnya. Dilansir dari tirto – DOA adalah sebuah singkatan dari Dead On Arrival. Brian menceritakan kalau lagu ini adalah tentang persaingan dengan seseorang yang memiliki peluang nol di tempat pertama.

Kalau dari segi musik, melodi yang ada di dalam lagu DOA mengingatkannya kepada salah satu grup kesukaannya, yaitu Gorillaz. Lagu ini adalah lagu yang Brian nyanyikan ketika iya merasa mesti lebih baik daripada sebelumnya secara umum.

 

DOA Jadi Energi Tersendiri Dari Brian

rich brian DOA

Credit Image: cultr.com

Mungkin kalau rapper lain bisa saja meminta mobil Lamborghini, Ferrari atau mobil sport lainnya – tapi Brian? Oh my god – dia malah pilih Civic baru. Ini cukup jadi pembeda antara Brian dan rapper lainnya.

Di dalam video musik DOA, diperlihatkan kalau Brian menghabiskan waktunya berada dengan mobilnya. Baik saat dalam perjalanan dan saat mobilnya mogok juga. Tingkah dari Brian sendiri juga menyesuaikan dengan beat dari DOA ini sendiri.

Sehingga di video musik DOA kali ini, Brian terlihat lebih ‘pecicilan’ daripada video musik lainnya. Tidak apa, sih – justru hal ini jadi penyegar dan pembeda serta warna tersendiri dari Brian untuk video musik DOA ini.

Jika ditelisik dari musiknya sendiri, Brian menceritakan kalau DOA berasal dari sesi jamming dirinya, Jacob Ray, dan Diamond Pistols, lalu dengan random Louis Bell juga datang. Brian mengaku ia menjadi penggemar musiknya walau sudah mengenalnya lama dan pada hari itu ia bekerja untuknya.

Selain DOA, di dalam album 1999, setidaknya ada beberapa lagu andalan lainnya seperti ‘Don’t Care’, ‘Love in My Pocket’, ‘Long Run’, ‘When You Come Home’, dan ‘Sins’. Nah selain DOA, ‘Sins’ juga jadi lagu andalan Brian.

Dalam pengerjaan album ini, sebagian besar materi di sini diproduksi sendiri oleh Brian. Namun tetap ada yang ia kerjakan bersama dengan Bekon & The Donuts, Diamond Pistols dan Louis Bell. Dari album 1999, ada video musik yang cukup menarik perhatian, yaitu video musik dari Love in My Pocket.

Brian menceritakan kalau video musik ini jadi favoritnya sementara ini. Video musik dari Love in My Pocket menceritakan tentang bagaimana mencoba menjadi sempurna tidak akan berhasil di sebagian besar waktu.

Bro, apakah lo tahu album 1999 ini adalah album ke berapa dari Brian? Tahun 2019 lalu, Brian merilis albumnya yang berjudul The Sailor, 2018 Head in the Clouds dan ditahun yang sama juga yaitu Amen. Ketenaran Brian berangkat ketika ia mengeluarkan single Dat $tick dan langsung direkrut oleh label 88Rising.

Wah bagaimana nih bro? Dari segala penjelasan di atas – apakah lo sendiri sudah menonton dan menikmati video musik DOA dari Rich Brian? Kalau belum, langsung saja gas dan nonton di sini ya bro!

 

Feature Image – whiteboardjournal.com