Diana Krall, Sang Ratu Jazz Dunia

Fri, 03 June 2016

Coba lo buka akun Spotify atau YouTube, lalu search lagu Diana Krall. Lo coba putar lagu Diana Krall di malam hari, ketika semua orang sudah tertidur. Pikiran lo bakal melayang-layang, terbawa dengan suara merdu Diana Krall dan juga alunan piano dari jemari Diana yang menari-nari. Lagu-lagu legenda semacam Alone Again, The Look of Love ataupun Let’s Fall in Love sudah pasti akan menjadi lagu romantis dalam jangka waktu 30 atau bahkan 50 tahun ke depan. Siapa sebenarnya Diana Krall?

 

Tipe penyanyi yang hanya dikenal lagunya

Pemain jazz biasanya hanya dikenal lagunya saja, hal inilah yang dialami oleh Diana krall. Sejak bermusik sejak tahun 1993, Diana Krall sudah menggeluti dunia piano. Ayahnya yang mahir berpiano dan ibunya yang ikut paduan suara di gereja membuat Diana Krall hidup di lingkungan musik. Diana sudah mahir bermain piano sejak umur 4 tahun dan sudah bernyanyi di restoran-restoran sejak umur 15. Diana kemudian melanjutkan kuliah di Berklee College of Music dan setelah lulus dirinya baru pindah ke Amerika Serikat.

 

Kembali ke Kanada dan membuat album pertama

Selama 5 tahun Diana Krall meniti karir di Amerika Serikat. Dia manggung dari satu teater ke teater lain. Dia juga menjadi pengiring beberapa penyanyi indie. Tetapi itu ternyata nggak membuat Diana puas. Pada umur 29 dirinya memutuskan untuk kembali ke Kanada dan membuat album. Debut albumnya berjudul Stepping Out (1993) langsung disambung dengan Only Trust Your Heart (1995). Pada album ketiganya yang berjudul All for You: A Dedication to the Nat King Cole Trio (1996), langsung membawa nama Diana Krall melambung. Album tersebut dinominasikan sebagai pemenang Grammy sebagai Best Jazz Vocal Album. Walaupun nggak menang, itulah yang menjadikan inspirasi Diana dalam bermusik.

 

Total dari 12 album yang dikeluarkan oleh Diana Krall. Kerennya lagi, Diana sudah 5 kali mendapatkan piala Grammy. Sekarang Diana Krall sudah dinobatkan sebagai ratu jazz pada dekade 2000an.

 

 

 

Source : www.thestar.com, www.tickethub.co

Hidup untuk Hari Ini, Refleksi Diri Hindia dalam Karya-Karyanya

Thu, 13 August 2020
Potret Baskara Putra dengan kaos putih bertuliskan Hindia dan kacamata

Vokalis band .Feast, Daniel Baskara Putra, atau juga dikenal dengan nama panggung Hindia telah cukup banyak mengeluarkan karya, mulai dari beragam proyek kolaborasi bersama musisi lainnya hingga mengeluarkan debut album. Baru-baru ini, Hindia kembali mengeluarkan single terbarunya berjudul “Setengah Tahun Ini” yang merupakan catatan narasi mengenai pandangannya dalam hidup selama pandemi COVID-19.

 

Arti Nama Hindia Baginya

Baskara Putra atau Hindia mengenakan kemeja coklat sedang ada di atas panggung

Nama Hindia ini dipilih bukan karena iseng atau sekadar mau bergaya keren di tengah banyaknya penyanyi indie Indonesia. Pasalnya, ada banyak pemikiran yang tertuang dalam pemilihan nama panggung tersebut.

Baskara mengungkapkan bahwa ide nama panggung Hindia sendiri tertanam sejak usia sekolah, tepatnya ketika field trip dan melihat tulisan “Hindia Belanda” di bawah sebuah lukisan. Muncul angan-angan untuk memasukkan diri ke dalam sejarah Indonesia dengan penggunaan nama Hindia.

Kalau sebelumnya lo akan melihat rentetan kisah penjajahan Belanda terhadap Indonesia saat mengetik “Hindia” di Google, Baskara berharap generasi selanjutnya malah akan menemukan sosok penyanyi Indonesia bernama Hindia dengan karya-karya bahasa Indonesia yang dipersembahkan untuk orang Indonesia juga.

Selebihnya, nama Hindia ini juga ditujukan untuk memisahkan persona diri ketika ada di atas panggung dengan di luar panggung. Nama Hindia kini memiliki makna tersendiri bagi Baskara, yakni layaknya samudera yang membasuh banyak orang agar mendapat kebahagiaan di tengah proses mencapai tujuan. Di dalamnya juga ada kesan androgynous dan familiar.

 

Menutup Debut Album dengan “Setengah Tahun Ini”

Baskara Putra atau Hindia dengan kedua tangan terangkat mengenakan jaket putih

Debut album bertajuk “Menari dengan Bayangan” sudah direncanakan dengan matang oleh Hindia. Sudah menjadi keinginannya untuk memiliki tambahan track ke-16 atau ke-17 dalam album ini. Sebelumnya, lagu “Evaluasi” menjadi penutup manis dari debut album yang dijadikan narasi hidup ini, namun Hindia berkata bahwa ternyata hidup nggak melulu sesuai rencana manusia.

Adanya pandemi ini menyebabkan Hindia harus memutar otak dalam melengkapi debut albumnya sesuai dengan keinginannya dulu. Walau pandemi adalah tantangan baginya dalam bermusik, tetapi juga berperan sebagai inspirasi. Akhirnya, dimulailah proses menulis lagu Setengah Tahun Ini yang jadi refleksi dirinya selama karantina di tengah pandemi 6 bulan belakangan ini.

Mau nggak mau, pandemi mengubah persepsi Hindia mengenai album dan hidup pribadinya. Ia mengungkap bahwa sebelum pandemi, manusia seringkali fokus ke masa depan dan menyesali yang ada di masa lalu. Namun pandemi membuatnya tersadar bahwa ia harus hidup untuk hari ini, nggak harus memusingkan masa depan secara berlebihan

 

Nggak Siap untuk Jadi Terkenal

Baskara Putra atau Hindia mengenakan pakaian serba hitam ada di atas panggung

Baik dalam karirnya bersama .Feast atau proyek solo sebagai Hindia, nyatanya Baskara mengungkap ketakutannya menjadi seorang public figure. Hindia sendiri ia buat untuk menuangkan pikiran dan kreativitasnya, menjadikan pengalaman pribadi serta interaksi individu sebagai sumber utama. Sedangkan .Feast yang arahnya lebih ke rock adalah tempat ia menuangkan opini dan kritik berdasarkan pengalamannya dalam hidup bermasyarakat.

“Kehilangan privasi itu berat, berat banget. Rasanya seperti diperhatikan terus dan seakan gue nggak bisa mengekspresikan apa pun tanpa hal itu jadi konsumsi publik,” ungkap Baskara. Kondisi mental dari Baskara yang seringkali terserang anxiety juga menantangnya ketika ada penggemar yang secara sadar maupun nggak sadar menjajah lahan privasinya.

Meski begitu, Baskara tetap termotivasi untuk membantu lo dan pendengar lainnya meluapkan emosi bersama lagu-lagu Hindia.

 

 

 

Sources: Popbela, Siasat Partikelir, Republika