Musik Jazz Di Indonesia

Thu, 20 December 2018
Musik Jazz Di Indonesia

Sejarah musik jazz Indonesia mungkin nggak terlalu banyak yang tahu. Alasannya, genre musik yang satu ini masih dianggap sebagai sebuah musik kelas atas di Indonesia. Nggak seperti dangdut yang lebih “merakyat”, penikmat musik jazz tersegmentasi hanya untuk kalangan menengah ke atas tanah air. Nah, biar lo lebih kenal sama musik jazz, yuk cari tahu soal sejarahnya di artikel ini!

 

Datang dari Filipina

Siapa sangka, awal mula lahirnya musik jazz Indonesia justru dipengaruhi oleh pendatang dari Filipina. Imigran ini datang ke Indonesia sekitar tahun 1930-an untuk mencari pekerjaan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Musik jazz yang dibawa pendatang ini punya unsur latin yang kental. Alasannya nggak lain adalah karena jazz dari Filipina dipengaruhi bangsa Spanyol. Ritme seperti samba, rumba, dan juga boleros selalu mengisi irama jazz Filipina ini,

 

Berkembang Pesat karena Belanda

Musik jazz di Indonesia semakin berkembang di akhir masa pendudukan Belanda. Tepatnya pada tahun 1948. Di tahun ini, sekitar 60 musisi jazz asal Belanda datang ke Indonesia dan memperkenalkan jazz dari Eropa. Nggak cuma memperkenalkan musik jazz, para musisi Belanda ini juga membentuk sebuah grup simfoni.

Anggota grup simfoni tersebut bukan cuma orang-orang Belanda, tapi juga musisi lokal Indonesia. Dengan arahan dari Jose Cleber, musisi jazz Belanda, grup simfoni ini mulai dikenal dan jazz jadi makin dikenal di tanah air. Musisi seperti The Progressive Trio dan Iskandar’s Octet lahir pada masa ini.

 

Nggak Cuma di Jakarta

Nggak Cuma di Jakarta

Tahun 1955 jazz makin berkembang di Indonesia. Nama-nama besar jazz Indonesia muncul di tahun ini. Musisi yang dikenal sebagai “Bapak Jazz Indonesia”, Bill Saragih mulai meniti karir di tahun ini. Dengan Jazz Riders, Bill berhasil membuat jazz dilirik masyarakat Indonesia.

Perkembangan jazz ini ternyata nggak cuma ada di Jakarta. Di Surabaya, Jack Lesmana juga membentuk band jazz sendiri, Jack Lesmana Quartet. Ada juga nama-nama besar yang lahir dari Bandung, seperti Eddy Karamoy, Joop Talahahu, dan Benny Pablo. Dari nama-nama ini, Indonesia pun mulai masuk dalam peta jazz dunia.

 

Indonesia dalam Sejarah Musik Jazz Dunia

Indonesia dalam Sejarah Musik Jazz Dunia

Di tahun 1980-an, jumlah musisi jazz Indonesia terus bertambah. Ini karena anak-anak muda Indonesia mulai tertarik dengan genre ini. Beberapa nama yang muncul adalah Ireng Maulana, Elfa Secoria, Fariz RM, dan Luluk Purwanto.

Beranjak ke era 1990-an, jazz Indonesia mulai merambah ke kancah internasional. Musisi seperti Dewa Budjana dan Tohpati bahkan merilis album internasional lewat label Moonjune di New York. Nama Indonesia juga disorot kembali setelah Joey Alexander mendapat nominasi di ajang Grammy Awards.

Sejarah jazz di Indonesia emang nggak sekaya negara-negara barat, tapi lo masih bisa expect lebih ke musisi jazz tanah air. Jadi tetap support karya anak bangsa ya!

 

 

Source: indonesiaexpat, indojazzia

Marilyn Manson Siapkan Album Baru "We Are Chaos"

Tue, 04 August 2020
Marilyn Manson mengenakan topi koboi putih dengan setelan jas hitam di depan background hitam

Lama nggak terdengar di blantika musik, Marilyn Manson akhirnya merilis album terbaru bertajuk “We Are Chaos”. Musisi rock asal Amerika Serikat ini mengumumkan lewat media sosial bahwa album terbarunya bisa dinikmati tanggal 11 September via Loma Vista.

Bertepatan dengan memoriam tragedi menara kembar, tampaknya Marilyn Manson ingin menunjukkan sisi gelap kemanusiaan melalui album barunya.

 

Dirilisnya Single Utama dari Album

Tiga kepala Marilyn Manson yang mengenakan tampilan eye shadow hitam sambil menyeringai

Menyusul kesuksesan album “Heaven Upside Down” yang dirilis tahun 2017 lalu, Marilyn Manson mengumumkan tanggal rilis album terbarunya di hari Rabu (29/7) bersamaan dengan perilisan music video untuk single utamanya.

Berjudul sama dengan albumnya, We Are Chaos memasukkan adegan-adegan yang khas dengan gaya eksentrik Manson. Meski dipenuhi dengan metafora yang dark, secara mengejutkan Manson justru memainkan gaya akustik untuk single terbarunya ini.

Album ini diproduksi sebelum pandemi COVID-19 menyerang dunia. Namun, Manson mengungkapkan kalau albumnya justru berhasil merepresentasikan kondisi dunia terkini. “When I listen to ‘We Are Chaos’ now, it seems like just yesterday or as if the world repeated itself,” ujar Marilyn Manson.

 

Sebuah Kritik atas Kemanusiaan

Marilyn Manson di atas panggung memegang mikrofon sambil mengangkat tangannya

Tema-tema lagu yang selama ini dinyanyikan oleh Marilyn Manson memang selalu mengungkap sisi gelap dunia. Satu hal yang membuat album ini unik adalah cara Manson dalam menyampaikan opini dan perasaannya secara lebih “lembut,” yakni dengan fokus pada lirik ketimbang kerasnya instrumen musik yang digunakan.

We Are Chaos secara nyata menjadi cermin yang memperlihatkan segala keburukan dari kemanusiaan, di mana Manson mengatakan bahwa kemanusiaan adalah hal terburuk yang ada di kehidupan. Manson mengibaratkan jiwa manusia sebagai sebuah museum yang dipenuhi oleh ruangan, lemari, brankas, dan laci.

Shards and slivers of ghosts haunted my hands when I wrote most of these lyrics,” ungkap Manson. Nggak seperti penggarapan album-album sebelumnya, Manson memilih untuk menjinakkan sisi gila miliknya dan menunjukkan tampilan yang lebih dewasa untuk album We Are Chaos.

 

Tersedia dalam Beberapa Versi

Marilyn Manson dengan coat hitam dan kacamata berlensa hijau

Marilyn Manson menggaet Shooter Jennings, seorang produser musik pemenang Grammy, untuk bersama-sama menggarap albumnya. Manson mengungkapkan bahwa selama proses rekaman, tidak ada seorang pun yang boleh mendengarkan hasilnya sebelum seluruh lagu selesai diproduksi. Album We Are Chaos merupakan sebuah konsep album berisikan 10 lagu.

Dikabarkan juga kalau Manson menggandeng A$AP Ferg untuk berkolaborasi musik. Album ini akan tersedia dalam Side A dan Side B, masing-masing bisa didapatkan dalam wujud vinyl, CD, dan kaset dengan sistem pre-order. Nggak hanya itu, Manson juga menggunakan lukisan yang ia buat sendiri sebagai cover album We Are Chaos yang bisa lo beli secara eksklusif.

 

 

 

Sources: Rolling Stone, NME, Billboard