Yuk Kenalan sama Sevenchords - MLDSPOT

Yuk Kenalan sama Sevenchords

Thu, 04 October 2018
Yuk Kenalan sama Sevenchords

Teknologi sekarang memang bikin banyak orang bisa menciptakan musik mereka sendiri. Jadi nggak heran kalo banyak musisi yang lahir lewat jalur indie. Salah satunya adalah Sevenchords yang tenar lewat situs berbagi musik, SoundCloud. Udah kenal belum sama band ini? Yuk kepoin soal mereka di sini.

 

Ngamen Di Kampus-kampus

Berdiri tahun 2011, Sevenchords mengawali karir bermusik dari panggung-panggung kecil. Kebanyakan job mereka di awal adalah ngamen di acara-acara kampus. Ternyata respon yang mereka dapat positif, banyak yang suka warna musik Sevenchords. Berbekal rasa percaya diri, mereka kemudian coba-coba buat bikin karya sendiri.

Single pertama yang murni dari tangan Sevenchords adalah “Lagu Tidur”. Lagu ini juga mendapatkan respon positif. Bahkan, single tersebut nggak cuma didengerin orang-orang yang sering nonton mereka manggung.

 

Besar Lewat SoundCloud

Besar Lewat SoundCloud

“Lagu Tidur” yang jadi andalan Sevenchords ini ternyata bisa didengerin gratis. Alasannya, single ini upload ke situs berbagi musik, SoundCloud. Sampai sekarang, “Lagu Tidur” bahkan sudah diputar lebih dari 300 ribu kali. Setelah kesuksesan itu, Sevenchords makin mantap buat bikin karya yang lebih besar lagi.

Akhirnya di bulan November tahun 2016 lalu, mereka menelurkan sebuah mini album yang dikasih judul Sevenchords – Extended Play. Album ini punya tujuh lagu termasuk dua versi “Lagu Tidur” yang diaransemen ulang sama Gardika Gigih. Buat EP ini, mereka mengandalkan lagu “Masih Ada Hati”.

 

Rekaman Di Kamar Mandi

Rekaman Di Kamar Mandi

Ternyata proses pembuatan Sevenchords – Extended Play juga unik. Buat lagu “Masih Ada Hati” (MAH) yang jadi andalan, mereka nggak rekaman di studio. Lagu ini justru direkam di rumah sang gitaris, Aldi Rubini. Prosesnya nggak gampang karena alat rekaman di sana terbatas dan ada suara bising yang mengganggu.

Akhirnya, Tiesa Kinanti sang vokalis harus rela rekaman di kamar mandi. Meski mereka sempat pesimis sama hasilnya, ternyata suara yang ditangkap juga lebih jelas. Atmosfer kamar mandi yang khas malah bikin nada-nada ringan di MAH jadi makin enak didengar. Penasaran? Lo bisa dengerin lagu-lagu mereka lewat iTunes, Spotify, sampai Deezer,  

Skena musik Indonesia memang makin berwarna, mulai dari jenis musisinya, sampai jenis genre yang dibawain. Nah kalo buat Sevenchords ini gimana nih Urbaners?

 

 

Source: pamityang2an.com

Perjalanan Joey Alexander dari Grammy sampai Sekarang

Sat, 27 February 2021
Joey Alexander

Di tahun 2016 & 2017 lalu, Indonesia sempat digemparkan dengan nama Joey Alexander – well, siapa yang nggak kenal dengan pianist muda yang berhasil masuk nominasi Grammy Awards di usianya yang masih sangat belia saat itu?

Dua tahun berturut-turut berhasil masuk nominasi Grammy Awards di umur 13 tahun, Joey Alexander berhasil membawa bangga nama Indonesia ke kancah internasional dengan single debutnya yaitu My Favorite Thing.

Setelah 5 tahun berlalu, gimana kabar Joex Alexander sekarang ya, bro? beranjak menjadi seorang remaja, pastinya udah banyak banget perkembangannya. Denger-denger, Joey juga udah ngerilis 5 album loh!

Di artikel ini, MLDSPOT bakalan mengulik gimana kabar Joey Alexander setelah 5 tahun berlalu dari Grammy Awards dan gimana kesehariannya sekarang. Langung aja selengkapnya simak di bawah ini ya!

Grammy Awards: Bukti Pribadi Joey Rendah Hati

Joey Alexander

Credit image – Liputan6

Di 2016 hingga 2017 lalu, keberhasilan namanya dalam menjadi nominasi di Grammy Awards emang menjadi titik balik dari karir seorang Joey Alexander. Gimana nggak – di usia yang belum genap 13 tahun saat itu, Joey berhasil menjadi musisi termuda yang masuk ke dalam nominasi kategori Jazz dan meraih nominasi dua sekaligus – pertama dari Indonesia!

Joey sendiri mengaku, momen masuk sebagai nominasi dengan pencapaiannya ini – ia nggak berharap banyak untuk menang. Ketika dinominasikan untuk pertama kali, pastinya Joey kaget dan nggak nyangka sama sekali. Tapi ketika pada hari pengumuman dan ternyata nggak menang – Joey nggak berkecil hati, karena baginya inilah hal yang harus dikembangkan olehnya untuk menciptakan karya yang lebih baik lagi.

Dengan keberhasilannya ini, Joey mengatakan bahwa keberhasilannya dalam meraih Grammy Awards ini bukanlah hal yang mudah. Namun ia bersyukur memiliki lingkungan yang supportif – baik menang atau kalah, itu semua hanya menjadi bagian dalam hidupnya untuk menjadi lebih baik dan berkembang.

Musik Jazz bagi Joey Alexander

Awal mula perjalanan musik Joey dimulai dari kecintaan ayahnya dalam bermusik – meskipun nggak secara profesional. Namun sejak bersama ayahnya, kecintaan Joey akan musik pun menjadi tumbuh. Menurut Joey, ketika ia memainkan musik ia merasakan sesuatu yang menyenangkan dalam dirinya tumbuh.

Memulai perjalanan bermusiknya di Bali, Joey mengaku nggak nyangka kalau hidupnya akan menjadi berada dalam lingkup musik – apalagi di genre Jazz. Musik Jazz sendiri bagi Joey punya kekuatan sendiri yang nggak dimiliki oleh genre musik lainnya.

Bagi Joey, musik Jazz seakan punya bahasa tersendiri dalam musik yang bisa menyampaikan pesan serta menyatukan orang yang berbeda dari seluruh dunia – Jazz udah whole different level deh buat Joey!

Dari Bali hingga New York

Joey Alexander

Credit image – Spotify

Seperti yang diketahui, Joey melebarkan sayapnya lebih besar di negeri paman sam – tepatnya New York, dibandingkan di tanah kelahirannya sendiri. Meskipun begitu, Joey tetap Bali spesial tersendiri di dalam hatinya.

Bali dan New York sama-sama membawa inspirasi bagi Joey dalam bermusik, namun kedua tempat ini memiliki sisi yang berbeda dalam diri Joey dalam menciptakan musik. Hal ini dibuktikan dengan 5 album yang telah dirilis oleh Joey.

4 album dengan berbahasa Inggris dan 1 album dengan bahasa Indonesia ini sebenarnya tidak memiliki makna yang spesifik. Karena pada dasarnya dalam menamakan album Joey berdasarkan komposisi asli dari album Live-nya.

Album terakhir Joey – Warna, dibuat untuk menceritakan kepribadian, suara, dan gaya seorang pemusik yang bermain dengannya. Di album terbarunya ini Joey juga mencoba gaya musik dan komposisi yang berbeda. Seakan ingin memberikan warna baru, di album ini Joey mencoba menghadirkan nuansa ‘lokal’ dalam albumnya.

Karier bermusik Joey emang udah nggak perlu diragukan lagi. Bukan cuma Grammy Awards aja, bahkan Joey juga pernah menjadi TED Speaker dalam acara TedX Talk, bro!

Di usia muda dan pencapaian yang dimilikinya ini jadi kisah inspiratif banget buat dikulik ya. Dari Joey kita juga belajar – nggak perlu berpikir panjang untuk mencoba hal baru, yang penting – mulai aja dulu!

 

Feature image - NPR