• News
  • Kesempurnaan Bukan Goal Eva Celia dalam Bermusik

Kesempurnaan Bukan Goal Eva Celia dalam Bermusik

Tue, 16 May 2017

Setiap kota memiliki pengalaman dan cerita yang berbeda-beda itu lah yang terjadi di Intimate Tour '3 Cerita 1 Ruang". Meskipun dari kota pertama memilki konsep yang sama, tetapi tidak membuat showcase mereka "seragam".

Seperti saat manggung di titik ke-5, tepatnya di Maja House, Bandung, para musisi memberikan sesuatu yang lebih “dalam” kepada para penonton. Seperti Kunto Aji yang bercerita tentang bertama kali ia menulis lagu untuk temannya yang sudah meninggal, atau Eva Celia yang bercerita pentingnya kejujuran dalam membuat sebuah karya. Suasana Bandung yang dingin seketika menjadi hangat karena keintiman para musisi dan penonton pada malam itu.

 

Lagu Pertama Kunto Aji bercerita tentang temannya yang meninggal

Pada malam itu, Maja House dipenuhi dengan musisi, ada Dira Sugandi, Elfa Zulham Warongan, dan Teddy Adhitya. Mereka datang secara khusus untuk mensupport Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw. Pada kesempatan tersebut, Dira Sugandi bertanya pada Kunto Aji tentang pertama kalinya membuat lagu full dan bagaimana prosesnya. Secara mengagetkan, ternyata cerita lagu pertama yang dibuat oleh Kunto Aji mengandung arti yang sangat dalam.

Kunto Aji pertama kali menulis satu lagu full saat ia masuk ke SMA, waktu itu ia mendapati temannya yang bernama Andhika meninggal dunia karena berkelahi dengan anak sekolah lain, saat itu Kunto Aji meluapkan rasa sedih dan kehilangannya dengan sebuah lagu, dan tak disangka salah seorang guru Bahasa Indonesia-nya menyukai lagu tersebut sehingga diproses lebih lanjut sampai akhirnya pernah disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI). Hal tersebut memicu seorang Kunto Aji untuk menulis lagu lebih banyak lagi.

Kunto Aji pun punya cara sendiri untuk menulis lagu, langkah pertama yang ia lakuan adalah menentukan tema besarnya, lalu lanjut ke sub tema tentang apa yang bisa diangkat mengenai hal tersebut, baru lah ia masuk ke proses lirik dan notasi. Nggak heran jika karya-karya Kunto Aji selalu menjadi hype, karena ia benar-benar memikirkan dengan matang dari segi musikalitas dan juga pasar.

 

Bagaimana Eva Celia menemukan jati diri nya pada dunia musik

Tidak hanya Kunto Aji, Eva Celia juga bercerita tentang bagaimana ia memutuskan untuk fokus hanya di dunia musik. Eva Celia sempat berada di posisi galau apa yang harus ia kerjakan dan lakukan. Ia selalu sengaja melakukan berbagai macam hal yang menjauhkan dirinya dari dunia musik, tetapi saat menjalaninya, selalu ada yang bertentangan di hati Eva Celia, dan membuatnya selalu kembali lagi ke dunia musik. Disitulah titik balik Eva Celia memutuskan untuk tidak menunda-nunda lagi untuk berkarya di dunia musik.

Dan Eva Celia memilih jalan independent untuk mewujudkan keinginannya, menurutnya, karena kita hidup di zaman yang bisa melakukan apapun sendiri, dengan segala kemudahan fasilitas, tidak sulit untuk menyalurkan karya tanpa bantuan pihak lain, yang dapat berakibat merubah idealisme dalam bermusik. Eva Celia juga bercerita bahwa penting untuk jujur dalam membuat karya, tentang apa yang dikeluarkan dari isi hati dan perasaannya. Ini bukan tentang kesempurnaan tetapi ke bagaimana membuat karya yang memang dicintai oleh diri sendiri.

Karena jika berbicara tentang sempurna, tidak akan ada habisnya, selalu ada yang bisa ditambah, dan tidak pernah selesai. Eva Celia mengaku lebih menyukai proses daripada hasil, ia lebih menikmati perkembangan musik dan juga dirinya ketimbang mencapai kesempurnaan. Ia juga memiliki mimpi ingin memiliki label nya sendiri untuk membantu para musisi menampilkan karya nya dengan caranya sendiri.

Diskusi Peluang Bisnis Kopi bareng Muhammad Aga #MumpungLagiDiRumah

Fri, 10 July 2020
Diskusi Peluang Bisnis Kopi bareng Muhammad Aga #MumpungLagiDiRumah

Kalau biasanya orang-orang memulai sesuatu dari passion, hal berbeda justru terjadi pada Muhammad Aga, barista profesional yang kini melebarkan sayap ke segala lini perkopian, hingga usaha roasting. Kesempatan dan koneksi menjadi dua faktor utama yang membuat pemilik coffee shop S.M.I.T.H ini bertemu dengan passion-nya yaitu kopi. Dari yang cuma sekadar mencari tambahan saku sampai akhirnya menjadi “teman hidup”.

Rabu (8/7) lalu, Muhammad Aga berbagi cerita mengenai perjalanan hidupnya di acara InstaClass @MLDSPOT #MumpungLagiDiRumah. Dipandu Reza Alkadri, obrolan kemarin terasa cair dan insightful. Buat lo yang nggak sempat nonton live, berikut rangkumannya!

 

Perjalanan Panjang Menuju Kopi

“Gue dulu bukan peminum kopi,” kata Aga membuka cerita. Keisengannya melamar menjadi pegawai di coffee shop nggak lain untuk menambah uang saku. Siapa duga, setelah diterima, pria yang dulu berprofesi sebagai musisi ini ditempatkan sebagai barista.

Rasa ingin tahu dan kesempatan yang terbuka lebar akan perkopian membuat Aga menekuni profesi barista. “Salah satu ketertarikan gue karena sempat iseng ikut kompetisi di sebuah cafe dan menang. Eh, kayaknya gampang nih!” celetuk Aga.

Kala itu, kompetisi pertama yang diikuti adalah latte art. Kemudian di kesempatan berbeda, pria di balik @telusurasa  ini mengikuti kompetisi lokal dan lagi-lagi, menang. “Gue agak jumawa sih dan menggampangkan. Di situ letak kesalahan gue sekaligus pembelajaran,” kenang Aga.

Akhirnya Aga mengambil langkah besar untuk benar-benar mempelajari seluk-beluk kopi dengan mengikuti pelatihan baik dalam maupun luar negeri. Langkah tersebut menurutnya memberikan dampak yang besar buat perjalanannya di dunia perkopian. “Gue banyak dapat ilmu tentang kopi dan ketemu orang-orang dengan ketertarikan yang sama. Di sini gue menjadi semakin paham, link itu penting, passion dan kesenangan saja nggak cukup. Butuh banyak faktor supaya kita bisa berhasil di sebuah industri,” kata Aga mantap.

 

Dari Coffee Shop ke Storyteller

Aga adalah sosok di balik S.M.I.T.H, kedai kopi kekinian yang mengusung konsep fair trade. Semakin mendalami kopi, eksplorasi Aga pun kian ‘menggila’. Misinya, nggak hanya mencoba jenis-jenis biji kopi di Indonesia yang menurutnya kaya banget, melainkan kolaborasi segala lini melalui pelbagai medium.

Bagaimana cara Aga mewujudkan mimpinya? Petualangan dimulai ketika ia mulai traveling keliling Indonesia. Ia bertemu dengan para petani kopi dan melakukan kolaborasi bareng. Ada juga petani yang langsung menghubunginya untuk mengirimkan sampel. “Gue selalu terbuka untuk segala kemungkinan, mari kita sama-sama membesarkan industri kopi Indonesia,” ungkapnya bersemangat.

Pertemuan Aga dengan para pelaku industri kopi memicunya untuk menceritakan pengalaman pengolahan kopi pada penikmatnya. “Makin ke sini gue ngerasa kalau segelas kopi nggak hanya sekedar minuman, ada cerita dibalik pembuatan kopi tersebut. Ini menarik sekaligus mengedukasi dan memberikan inspirasi buat semua yang beririsan dengan kopi,” tambahnya.

Untuk itulah Aga membangun @telusurasa guna merekam perjalanannya menemukan biji kopi terbaik di Indonesia. Aga mengabadikan kisah perjalanannya dalam bentuk story telling visual supaya lebih enak dimaknai oleh masyarakat Indonesia. “Gue rasa masyarakat kita itu adalah penikmat visual. Kenapa gue bilang begitu, karena kopi di Indonesia jadi meledak semenjak ada film, ‘kan? Menurut gue, harus semakin banyak media visual yang menceritakan perjalanan kopi Indonesia,” kata Aga lagi.

Diskusi Peluang Bisnis Kopi bareng Muhammad Aga #MumpungLagiDiRumah

Membaca Peluang Bisnis Kopi di Indonesia

Berangkat dari passion-nya dan melihat sebuah peluang, sampai saat ini Aga yang sempat main di film “Filosofi Kopi 2” ini terus melihat ragam peluang dan membaca kemungkinan-kemungkinan yang ada.

@harapandjaya adalah salah satu ekspansi dari passion Aga akan industri kopi. “Gue melihat tren es kopi susu, makanya bikin Harapan Djaya. Soalnya kalau digabung dengan S.M.I.T.H feel-nya nggak dapet,” jelas Aga.

Nggak hanya ruang untuk menikmati es kopi susu kekinian, Harapan Djaya ternyata juga menyediakan ruang sangrai kopi buat para pelaku industri kecil kopi. “Di sini gue melihat juga ada tren di Korea, di mana banyak pekerja kantorannya berjualan kopi di e-Commerce dan juga banyak tersedia co-roasting space. Gue mikir aja sih, gimana kalau ini dibuat di Indonesia?”

Prediksi Aga, benar adanya. Saat ini banyak anak-anak muda dan pelaku UKM kopi yang menggunakan roasting space yang dibangun Aga untuk menggoreng biji kopinya. Tidak Bahkan, Aga melihat industri kopi di Indonesia masih sangat menggeliat dan kita butuh wadah-wadah untuk melebarkan industri ini agar bisa maju bareng-bareng.

Berlangsung selama satu jam, obrolan bersama Muhammad Aga diakhiri dengan pengumuman pemenang kuis. Kali ini, pemenang yang beruntung adalah @sikarebet78, yang berhak mendapatkan voucher belaja Blibli.com senilai Rp2 juta.

Seru banget, ‘kan? Nggak cuma dapet insight menarik dari para profesional di bidangnya, lo juga bisa nambah ilmu #MumpungLagiDiRumah. Makanya, pantengin terus MLDSPOT setiap hari Rabu di sepanjang bulan Juli ini, Bro! Akan ada acara-acara menarik dan kuis berhadiah jutaan rupiah.

See you on the next InstaClass MLDSPOT!