Home Profile Plastik Singkong Dari Bali yang Mendunia

Plastik Singkong Dari Bali yang Mendunia

Thursday, March 16, 2017 - 11:40
Bagikan
Facebook Twitter Email

Polemik sampah plastik yang menjadi permasalahan serius bagi alam ternyata mendorong inovasi. Seperti yang dilakukan Kevin Kumala, pemuda asal Bali dengan Avani Eco-plastik buatannya kini banyak dipakai di seluruh dunia.

Inovasi ini didapat Kevin yang terkejut melihat tumpukan sampah di pantai-pantai Bali pada 2009. Tak hanya di permukaan, plastik-plastik juga berada di bawah permukaan laut. Jelas mengganggu aktivitasnya sebagai penghobi surfing dan diving.

Jengah melihat kondisi ini, Kevin bersama tujuh rekannya mulai mengembangkan bioplastik ramah lingkungan yang sudah dimanfaatkan di Eropa. Kevin mencoba mencari bahan bioplastik yang berbeda dan lebih murah serta terjangkau masyarakat di Indonesia.

Selama 3 tahun, Kevin dan rekannya mencoba berbagai bahan mulai dari jagung, kedelai hingga rumput laut. Hingga akhirnya, singkong menjadi pilihan karena produksinya jauh lebih banyak dan murah. “Jumlah produksi singkong Indonesia pada data 2015 mencapai 24 juta ton per tahun, jadi kita enggak akan kehabisan. Apalagi kita hanya pakai ampas, diambil dari pati singkongnya.”

Rupanya, benda yang diciptakan bersama tujuh rekannya ini langsung mendunia. Hasil kreasinya mendapat peliputan dari sejumlah media asing seperti CNN, BBC dan beberapa media besar lainnya.

Namun, bioplastik ciptaan Kevin tak serta merta mengatasi permasalahan sampah di Bali dan Indonesia. Avani Eco Plastik justru lebih banyak dipesan negara asing. "80 Persen customer dari luar negeri, ekspor. Kebanyakan ke Australia," ungkapnya.

Tak hanya itu, kesadaran penggunaan plastik yang lebih ramah lingkungan di Indonesia juga masih rendah. Padahal sampah plasik sudah menjadi permasalahan serius di seluruh dunia. Indonesia, imbuhnya, justru kalah dari beberapa negara di Afrika yang malah melarang penggunaan plastik.

Di Indonesia sendiri sudah ada kebijakan untuk menggunakan plastik yang degradable atau hancur dengan sendirinya dalam dua tahun. Namun sayang, hal itu justru menyimpan bahaya yang tidak disadari, di mana sampah yang hancur hingga dua milimeter sekalipun bisa membunuh makhluk hidup, termasuk manusia.

"Mereka akan jadi pecahan sebesar 2 mm, 5 mm. Masuk ke tenggorokan, yang dimakan ikan, dan juga dimakan livestock kita, seperti sapi dan ayam. Kalau lihat plastik utuh pasti tidak akan tertarik, sedang plastik pecah lebih ribet lagi, karena hewan enggak akan tahu itu plastik, ujungnya seringkali ikan tiba-tiba terdampar di pesisir pantai karena makan kepingan plastik."

Untuk mengungkap plastiknya benar-benar aman, Kevin pernah meminum sendiri kantong plastik yang larut di dalam air atau hancur 90 hari di dalam tanah dan menjadi kompos bagi tanaman. Sesuatu yang tidak akan terjadi pada plastik degradable. "Ini juga aman dikonsumsi oleh hewan dan biota laut maka dari itu saya beranikan minum ini. Saya ingin katakan, 'hei manusia aja bisa minum aman."

 

 

Source: Merdeka.com