Home Profile Ivan Bestari, Olah Limbah Kaca Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi
Ivan Bestari, Olah Limbah Kaca Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi

Ivan Bestari, Olah Limbah Kaca Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi

Tuesday, May 14, 2019 - 14:52
Bagikan
Facebook Twitter Email

Urbaners, pernah nggak sih lo kepikiran tentang berbagai limbah yang dibuang percuma? Kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk me-recycle limbah ini ya?

Ivan Bestari, seorang pria asal Yogyakarta, punya gagasan seru, yaitu mengolah limbah kaca menjadi karya indah dengan nilai seni yang tinggi. Limbah kaca yang rentan pecah dan banyak ditemukan di lingkungan ia sulap menjadi barang pajang, perhiasan, hingga interior rumah yang keren. Begitu melihatnya, lo pasti nggak percaya kalau karya itu terbuat dari limbah, deh!
Penasaran gimana Ivan mengolah limbah kaca menjadi sebuah mahakarya seni? Apa teknik yang ia gunakan untuk berkreasi dengan bentuk-bentuk unik berbahan kaca? Yuk, simak ceritanya di sini, Urbaners!

 

Berawal Dari Ketidaksengajaan

Berawal Dari Ketidaksengajaan

Ketertarikan Ivan Bestari Minar Pradipta pada dunia seni kaca berawal dari ketidaksengajaan, yaitu ketika ia menjalani magang di sebuah CV glass blower di Yogyakarta. Ivan kemudian memutuskan untuk menekuni dunia glass art, aliran seni yang belum lazim ditemukan di Indonesia saat itu. Di tangan kreatifnya, limbah dari berbagai produk kaca dapat dikreasikan menjadi kerajinan tangan unik dan perhiasan yang memiliki nilai seni tinggi. Biasanya, ia mendapatkan limbah kaca dalam berbagai bentuk, entah itu cermin, botol, hingga kaca patri.

Secara umum, ada dua teknik yang dapat dilakukan untuk mengolah kaca, yaitu hot working dan cold working. Hot working adalah teknik pengolahan kaca dengan menggunakan api, dimana prosesnya hampir sama dengan mengolah logam panas seperti besi. Sementara itu, teknik cold working adalah membentuk material tanpa menggunakan api, misalnya dengan mengukir, mengamplas, atau menggiling hingga menjadi bentuk yang diinginkan.

“Dalam kesehariannya, gue paling sering menggunakan teknik flame working. Awalnya, kaca dilunakkan terlebih dahulu menggunakan api dengan suhu 800-1000 derajat. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kerajinan kaca adalah soda lime glass, silika dan batu gamping. Proses flame working akan membentuk objek kaca menjadi bentuk 3D dan proses ini hanya dapat dilakukan melalui medium kaca,” tutur Ivan di studio workshop miliknya yang terletak di Jalan Ngadimulyo, Yogyakarta.

Berawal Dari Ketidaksengajaan

Meski dapat dibentuk dan diolah menjadi kerajinan tangan yang terlihat mewah, material kaca juga punya beberapa kelemahan, Urbaners. Seperti yang mungkin lo tahu, sifat kaca sangatlah rentan, terutama terhadap perubahan susu mendadak. Hal ini jadi kendala utama dalam proses pengerjaan. Ivan harus hati-hati banget menaikkan suhu secara bertahap, karena kalau terlalu drastis, maka kaca bisa langsung retak atau pecah.

 

Memproduksi dan Memasarkan Produk Seni Kaca

Proses pengerjaan kerajinan kaca butuh waktu yang berbeda, tergantung dari ukuran material. Ivan mengaku, ada barang-barang kecil yang bisa dikerjakan dalam waktu 5 menit, tapi ada juga yang membutuhkan waktu hingga 20 jam. Semua tergantung pada bentuk, ukuran, dan kerumitan dari hasil jadi yang ia inginkan.

Saat ini, produk yang paling banyak ia produksi untuk branding Kata Kaca adalah aksesoris dan art work. Dengan keunikan bentuk dan warna kaca, art work Ivan terlihat cakep menghuni interior rumah lho, Urbaners!

“Gue menyasar target market mulai dari middle low hingga middle up. Promosi yang dilakukan saat ini adalah dengan sistem titip jual di concept shop. Tapi, salah satu kendala dalam penjualan adalah karena pengetahuan masyarakat Indonesia tentang glass art masih minim banget. Mereka belum terlalu familiar dengan produk kerajinan kaca. Beberapa ada juga yang nggak bisa bedain mana kerajinan kaca, kerajinan batu, dan kerajinan kristal,” tutur pria lulusan Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana ini.

 

Ingin Populerkan Kerajinan Kaca di Indonesia 

Harus diakui kalau kerajinan kaca belum terlalu populer di Indonesia. Sangat sedikit sejarah tentang kaca yang dijadikan sebagai sebuah produk peradaban dalam negeri. Padahal, di beberapa negara seperti Amerika Serikat, glass art adalah kerajinan tangan yang memiliki nilai jual tinggi.

Ingin Populerkan Kerajinan Kaca di Indonesia 

Untuk mempopulerkan limbah kaca dan mengembangkan pemasaran kerajinan kaca, Ivan sering melakukan berbagai workshop pelatihan membuat produk dari limbah kaca. “Sejauh ini, banyak yang tertarik untuk ikutan workshop, tapi nggak banyak yang mau menekuni dan serius pada bidang ini. Soalnya, proses pengerjaan kerajinan kaca terbilang cukup rumit. Dibutuhkan sikap teliti dan ulet untuk menghasilkan karya seni dari limbah kaca,” kata Ivan.

Bagaimanapun, ia berharap kalau di masa depan, semakin banyak orang Indonesia yang terinspirasi untuk terjun ke dunia glass art. Dengan begitu, Indonesia bisa memiliki karya seni yang dapat dipamerkan ke luar negeri, nggak melulu menjadi konsumen produk impor.

 

Layani Pemesanan Custom

Layani Pemesanan Custom

Saat ini, Ivan banyak mengerjakan commission work berupa perhiasan anting dan liontin. Harga yang dipatok pun beragam, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, tergantung dari ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan karya. Pria yang hobi bermain teater ini pernah mengikuti sejumlah pameran di dalam dan luar negeri, mulai dari Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Singapura, hingga Rusia, untuk mengenalkan karya kerajinan limbah kaca miliknya.

Selain pesanan perhiasan berbahan dasar kaca, pesanan lain yang juga banyak diminati adalah hiasan kerajinan kaca yang dipajang di interior rumah.

----

Nah Urbaners, ternyata ada banyak cara kan untuk mengurangi limbah yang ada di lingkungan sekitar kita? Seperti yang dilakukan oleh Ivan. Ia memilih untuk mengolah kembali limbah kaca menjadi sebuah mahakarya yang bernilai tinggi.

Jangan takut untuk berkreasi dengan barang-barang di sekitar lo, ya! Siapa tahu lo bakal dapet inspirasi baru untuk mewujudkan bumi yang lebih sustainable, Urbaners!