• News
  • Fran Noto: Pria Petualang yang Suka Membuat Kue

Fran Noto: Pria Petualang yang Suka Membuat Kue

Fri, 28 December 2018
Hobi jalan-jalan dan memotret membuat Fran akhirnya menekuni fotografi

“Hidup memang keras makanya harus digebuk!”

Seperti itulah kesan yang bakal lo dapatkan saat ngobrol dengan Fran Noto. Bisa jadi karena profesinya sebagai “otak” sekaligus tour guide di provider traveling Piknik Nusantara, fotografer jurnalis dari 2009-2017, sampai akhirnya menjadi wirausahawan di bidang wedding organizer  dan kuliner menuntut diri untuk “cair”.

Usaha @nyicipkue miliknya memang masih terbilang baru setahunan, namun customer sudah cukup intens memesan pastry  di sini. Fran dan tim hampir menerima pesanan sekira 30-an box per minggu dan sudah ada di dua lokasi, yaitu Jakarta dan Surabaya. “Menjadi karyawan itu proses dimana gue bisa belajar banyak dan ngedapetin motivasi menuju posisi di atas karyawan,” demikian pengakuan Fran. Simak cerita perjalanan hidup arek Suroboyo ini di sini, yuk!

Banyaklah ketemu customer yang rese tapi enjoy aja dan jadikan pembelajaran buat ke depannya lebih baik,” komentar Fran

 

“Gue Pernah Merasa Berada di Bawah”

Ketika ditanyakan apa yang memotivasi Fran untuk menjadi wirausaha, mantan jurnalis Tempo ini bercerita kalau hidupnya pernah berada di bawah banget. Itu terjadi ketika ayahnya meninggal, saat dia baru masuk bangku kuliah.

Salah satu pencapaian, memijak Gunung Everest

Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Fran harus menggantikan posisi ayahnya menjadi tulang punggung keluarga. Sempat meninggalkan bangku kuliahnya, alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya ini menghabiskan satu tahun bekerja sebagai buruh kasar pabrik di usianya yang ke 19.

“Kira-kira uang udah cukup, gue lanjut lagi kuliah dan belajar fotografi di Jakarta sembari nyambi kerja sebagai fotografer dan desainer grafis,” ujar laki-laki berkacamata ini. Ketika ditanyakan, siapa sosok yang menginspirasinya, tanpa ragu Fran menjawab Bob Sadino.

“Orangnya sederhana, sedikit nyeleneh tapi pasti dan jelas,” demikian komentar Fran mengenai sosok Bob Sadino. Selain itu, tentu saja keinginan untuk membahagiakan keluarga dan menjadi mandiri serta berdikari memecut dirinya untuk tidak jemu bersemangat.

 

Dari Jalan-jalan ke Bikin Kue

Coba-coba akhirnya diseriusin, begitulah kisah sampai akhirnya Fran menekuni bisnis kue

Kalau dulu urusan dapur identik dengan perempuan, sekarang udah nggak lagi Urbaners! Sudah banyak chef laki-laki yang sukses membuat menu-menu makanan ajaib dan nendang di lidah, salah satunya adalah Fran.

Fran mempelajari ilmu masak-memasak secara otodidak yang pada akhirnya dikembangkan menjadi bisnis. Pun, ternyata kegemarannya memasak ini bermula dari kegiatan rutin naik gunung yang dilakoninya secara pribadi ataupun saat membawa rombongan trip. “Saya suka masak di gunung, feel-nya beda. Dari masak-masak di gunung, jadi suka masak di rumah, eh pas traveling ke Australia, beli produk susu dan  keju, pacar gue nantangin, ‘Yang coba deh bikin kue pake bahan-bahan import ini’,” cerita Fran.

Salah satu pastry andalan bikinan Fran adalah Quiche Bayam

Ternyata keisengan ini berlanjut saat ia balik ke Jakarta di mana Fran mencoba membuat kue yang tipenya sama dengan bahan lokal. Memadupadankan resep akun social media food influencer mancanegara dan asli Indonesia, Fran menemukan rasa yang pas; creamy, lumer dengan tekstur yang renyah di luar namun lembut di dalam.

Dari iseng-iseng jadi diseriusin, itulah kisah awal bisnis kuliner Fran.

Dari sinilah insting wirausaha Fran bermain. Butuh tiga sampai empat kali testing untuk Fran menemukan rumusan rasa yang cocok di lidah dengan harga yang bersahabat. Komentar dan masukan dari teman-temannya yang sebelumnya sudah bekerja di ranah makanan dan kue juga sangat membantunya dalam merampungkan resep.

 

“Hidup Bukan Cuma Modal Passion Bro!”

Sekarang ini Fran menjalankan tiga usaha; pariwisata, patisserie, dan jasa fotografi event. Namun diakui Fran, bidang yang paling disenanginya adalah pariwisata. Menurut laki-laki berzodiak Gemini ini, menjalankan Piknik Nusantara menuntunnya pada ide-ide baru yang bisa dikembangkan menjadi lebih serius.

Apalagi memang Piknik Nusantara terbentuk karena kegemarannya jalan-jalan. Pengalamannya di dunia jurnalistik membuka koneksi Fran di berbagai daerah. Sudah berdiri sejak Juli 2015, Piknik Nusantara sudah mengakomodir perjalanan ke lebih kurang 33 destinasi di seluruh Indonesia. 

Pun, ketika ditanyakan bidang usaha mana yang paling menantang, tegas Fran menjawab bidang usaha pariwisata. “Gue dan teman-teman pernah beberapa kali mengalami peserta tour yang sakit keras atau kecelakaan pas lagi jalan. Panik sih, cuma ya itu semua pengalaman baik dan buruknya jadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pelayanan kedepannya,” cerita Fran.

Sebenarnya, kalau ditilik-tilik, hampir semua lini ada pengalaman nggak enaknya. Ternyata dalam bidang jasa fotografi juga, Fran pernah tidak dibayar klien karena sang klien kehabisan dana setelah event. “Ya sudahlah, mau bilang apa lagi ya, diambil hikmahnya aja!” komentarnya.

Nggak pernah meninggalkan kamera kemanapun pergi berpelesir

Mengomentari quotes yang seringkali lo dengar: kerjakan apa yang disenangi atau kerja dengan passion, Fran mengaku nggak begitu setuju dengan pernyataan tersebut. Baginya, passion aja nggak cukup sebagai modal kesuksesan, terutama dalam hal berwirausaha.

Skill, kemauan belajar yang tinggi, konsisten dan menjaga hubungan baik adalah hal yang perlu diperhatikan untuk mendukung passion menjadi sebuah cita-cita yang lo inginkan,” cetus Fran. 

Selain itu, dalam memilih wirausaha sebaiknya lo paham dulu apa yang mau dikerjakan dan bagaimana prospeknya. Jadilah “koki-nya” dulu, sebelum akhirnya mengajarkan ke tim, apa yang membuat lo cinta dan menyukai bidang tersebut, “Sama satu lagi sih, be yourself!” tutup Fran.

Pemuda Sinarmas: 15 Menit Pertama Masa Krusial untuk Silent Koplo

Thu, 05 March 2020
Pemuda Sinarmas sedang berada dibelakang DJ booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selama tiga hari pagelaran Jakarta International Java Jazz Festival 2020, ada satu tempat yang menyajikan penampilan paling berbeda. Lokasi yang terletak di sisi luar ini bernama MLDSPOT Art and Sound Experience. Sebuah tempat yang menawarkan pengalaman baru menikmati musik dengan “diam-diam” di saat panggung satu dan yang lainnya bersaut-sautan dengan dentuman musik bervolume keras.

Player yang menyajikan musik Silent Koplo ini adalah Pemuda Sinarmas. Ia mengaku baru pertama kali melakukan penampilan dengan cara Silent Koplo. Untungnya Ajis, begitu ia akrab disapa, mendapatkan tempat bermain yang mendukung dan membangun mood pengunjung jadi lebih nyaman menikmat musik Silent Koplo.

Namun environment lokasi Art and Sound ini akan menjadi sia-sia bila Ajis gagal menyajikan playlist yang kurang asik. “Vibenya pas di booth ini orang datang dan pergi, gua harus ngatur playlist, datang pertama vibenya harus koplo santai dulu,kata Ajis saat ditemui usai penampilannya di hari ketiga.

Bagi Ajis tantangan main untuk Silent Koplo adalah harus menyiasati playlist dengan tepat agar orang tetap stay dengan headset-nya. “Kuncinya gua buat nyaman diri gua sendiri dengan playlist, ngebangun mood pelan-pelan. Sejam sih cukup. Yang krusial itu 15 menit pertama, ketika mainin 2-3 lagu, dan lagu pertama itu paling krusial. Untungnya gua ga main sm DJ lain, jadi ga perlu perhatiin dia bawain lagu apa, ini bisa ngebangun mood gua sendiri. Gimmick awal gua tetap sajikan musik yang punya kultur jazz, ini tantangan baru buat gua dan bisa berhasil 90%,ujar Ajis.

Pengunjung Java Jazz Festival 2020 menggunakan headphone di booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selain itu, hal yang terpenting adalah ia harus merespon flow audience yang datang, “karena di Java Jazz Festival gua harus buat mereka nyaman dengan musik-musik yang punya kultur Jazz juga, untungnya gua punya databased kaset Beatles yang dangdut, dari tahun sekitar 80-an. Kalau langsung bpm (tempo musik ) tinggi mereka pasti langsung kabur, beat santai yang punya alunan saksofon dan dentuman kendang itu bisa bikin pengunjung stay, setelah itu baru gua naikin bpm dengan playlist yang funky sesuai booth ini,” kata Ajis yang pernah datang ke acara Silent Disco.

 

BUKAN DJ IDEALIS

Belakangan koplo memang menjadi musik yang paling diminati untuk pengalaman seru-seruan bersama teman bernyanyi dan berjoget bersama. Namun Ajis punya pandangan lain.

“Koplo ini hanya tren aja, gua dulu mainin disko ketika itu gua masukin funky kota dan koplo, lalu saat ini boom koplo. Tantangannya bagaimana kita terus memutarkan roda tren itu. Gua menyadari bahwa bermain musik di elektronik sebisa mungkin bisa disesuaikan dengan tren,”

Sebelum bermain koplo dan disko, dahulu Ajis memulai karier Pemuda Sinarmas dengan memainkan lagu-lagu reggae sampai akhirnya ia kesulitan mencari kasetnya.

Ga selamanya kuping orang kuat dengan musik koplo, bakal jengah pasti.

Gua menyadari bukan DJ yang idealis, gua masukin beragam genre malah di performance gua, tujuannya untuk kasih tau kalau musik Indonesia itu tuh banyak banget. Gua nggak mau terpaku dengan satu genre dan satu identitas kalau Ajis itu DJ anu. Kadang gua mainin etnik juga, lagu Sunda, Banyuwangi, sampai Sumatera. Biar ga stuck dan bisa berkembang,” ujar Ajis.

4 orang pemuda menggunakan headphone di MLDSPOT Art & Sound Experience

Dalam kesempatan yang sama, Ajis meramalkan nantinya orang-orang pasca kelelahan telinganya dengan musik koplo akan balik ke genre house dan RNB, “RNB ga bakal mati. Disko selalu ada dan stabil. Kalau kople belum tentu, waktu gua main di Surabaya gua dilarang mainin koplo. Karena koplo itu udah kulturnya di sana dan mungkin mereka bosen. Tapi sekarang sedang jadi tren di ibu kota,” tutup Ajis.