• News
  • Karya Seni Pop Serba Mie Instan

Karya Seni Pop Serba Mie Instan

Sat, 26 October 2019
Salah satu karya seni Alam Taslim di Arkadia Communal Space

Di era yang semakin dinamis, makin banyak cara untuk mengekspresikan seni dan kreativitas. Salah satunya yang dilakukan oleh seniman Alam Taslim. Berawal dari hobi membuat sketsa di warung mie instan, ia akhirnya melahirkan karya seni yang diberi nama Monster Igor Telor Ceplok dan Mangkok Ayam Jago. Bagaimana perjalanannya menciptakan sketsa unik dan kreatif yang serba mie instan? Yuk, simak ulasannya di sini, Urbaners!

 

Berawal dari Kejenuhan Rutinitas Kerja

Alam Taslim Ketika Melakukan Workshop Monster Igor di Fb Space KL

Bagi sebagian orang, jenuh dan kelelahan saat kerja malah bikin pikiran stres dan ruwet. Rasanya ingin istirahat dan rebahan di rumah. Tapi, hal ini nggak berlaku buat Alam Taslim. Tiap kali merasa jenuh dari rutinitas pekerjaan, pria kelahiran Surabaya ini langsung asyik berkutat dengan sketsa dan menggambar. Menggambar adalah ‘pelarian’ sekaligus cara Alam untuk mengasah terus kreativitasnya.

Siapa sangka, pelarian dari kejenuhan bekerja ini justru mengantarkan Alam pada hobi baru yang saat ini membuatnya terkenal. Awalnya, Alam gemar menghabiskan banyak waktu luang untuk membuat sketsa gambar dan mural di warung mie instan. Ia kemudian menamai tokoh mie instan ini sebagai Monster Igor. Monster Igor berwujud mie instan dengan telor ceplok dan topi yang terbuat dari mangkok ayam jago.

Monster Igor yang selalu tampil dengan mie instan, telor ceplok, dan mangkuk ayam

Igor mengaku banyak orang yang menanyakan latar belakangnya memilih obyek mie instan, telor, dan mangkok ayam jago sebagai jagoan karyanya. Ternyata, ia memiliki alasan yang meaningful. Nggak bisa dipungkiri, sampai saat ini, kehadiran mie instan sangat dekat dengan perjalanan hidup seluruh rakyat Indonesia. Konsumen dari berbagai kalangan, usia, dan strata sosial, semuanya gemar atau setidaknya pernah menyantap mie instan dalam hidupnya.

“Kadang ketika sudah dekat dengan sesuatu, kita cenderung menganggapnya sebagai hal yang wajar. Padahal, kita sendiri tahu kalau makanan ini nggak bisa dikategorikan sebagai makanan sehat. Buat saya menariknya adalah bagaimana konsumen beradaptasi dengan mengurangi porsi, frekuensi konsumsi, porsi mie instan, atau porsi bumbunya, hanya untuk tetap bisa menikmati makanan ini," tutur Alam.

Love and hate relationship inilah yang menginspirasi Alam untuk menciptakan Monster Igor. Monster Igor menjadi sosok yang adorable; dangerous but also loveable. Alam memiliki tagline tersendiri untuk menggambarkan Monster Igor, yaitu Deadlicious Monster. "Bagi saya, Igor adalah karakter yang bisa berkembang menjadi banyak hal, sehingga bisa menantang sisi kreativitas saya. Rasanya semacam dapet partner in crime di dunia imajinasi," ungkap cowok berkacamata ini.

 

Viral di Kalangan Millennial

Monster Igor Berkunjung ke Museum Toys

Setelah menghasilkan banyak sketsa Monster Igor, Alam kemudian membagikannya lewat akun Instagram khusus, yaitu @igorsatumangkok. Dari situlah, desain Monster Igor dalam berbagai medium makin diminati, terutama di antara kaum millennial yang memang hobi mengoleksi produk-produk unik seperti Monster Igor.

Awalnya, Alam hanya mendesain Monster Igor pada media kaos. Seiring berjalannya waktu, pelan-pelan Alam melebarkan desainnya ke medium lain seperti tas, cover laptop, sepatu, perhiasan, mainan, dan bahkan masuk ke ranah pameran dalam bentuk karya seni. Untuk setiap sketsa, Alam nggak pernah mematok waktu atau target khusus. Ia mengandalkan insting dan urgensi proyek-proyek yang datang. “Salah satu kesulitan utama pembuatan karya Monster Igor memang adalah keterbatasan waktu. Saya seringkali punya banyak ide yang muncul, tapi waktunya nggak cukup untuk mengeksekusi,” ungkapnya.

 

Belajar Seni Dari Kehidupan

IGORWL, salah satu karya ikonik Alam Taslim

Dunia seni yang ditekuni Alam memang bukan dunia baru karena Alam sendiri lahir dari keluarga seniman. Selain darah yang mengalir di keluarga, pria yang bercita-cita mengadakan pameran tunggal Monster Igor di Eropa ini juga menempuh pendidikan di desain produk industri dan bekerja di bidang advertising sebagai Art Director. Latar belakang kehidupan Alam yang dikelilingi dengan atmosfer kreatif inilah yang kemudian membekalinya untuk membesarkan Monster Igor sampai sekarang.

Selama berkarya, Alam sudah mengikuti berbagai pameran kesenian, seperti Galeri Indonesia Kaya-Jakarta tahun 2016, pameran tunggal Paviliun 28-Jakarta pada tahun 2017, showcase di Little Talks, Ubud tahun 2017, Ruang Seduh Jogja tahun 2018, That's Life Cafe, Jakarta, tahun 2018 dan beberapa pameran kolektif lainnya.

Saat ini, produk-produk Monster Igor dapat dijumpai di berbagai berkonsep local art, desain brand seperti Pasar-Pasaran di Seminyak Bali, Lemari Lila di Yogya, Nasi Goreng Diplomacy di Yogya, dan Tobucil di Bandung. Alam juga sering mengikuti pop up market untuk memperkenalkan produknya. Yang terbaru, Monster Igor akan muncul dalam bentuk merchandise eksklusif untuk Festival Makanan di Jakarta, pada akhir bulan Oktober. Jangan sampai ketinggalan mendapatkannya, Urbaners!

Melihat Lebih Luas Dunia Menyelam yang Tidak Hanya Itu-itu Saja

Wednesday, February 12, 2020 - 13:44
Dua penyelam sedang sweeping di bawah laut untuk mengumpulkan sampah

Tidak ada yang menandingi keindahan bawah laut Indonesia. Setuju nggak, Urbaners? Namun salah satu objek wisata utama tersebut juga mengundang efek negatif, yakni sampah. Tidak hanya di tepi pantai, tetapi juga dasar laut. Melihat kondisi tersebut, para divers di Indonesia tidak tinggal diam. Seperti Divers Clean Action yang kerap sweeping kebersihan bawah laut Indonesia. Inilah salah satu yang digali lebih dalam di MLDSPOT TV Season 5 Episode 13. Dengan tema "Beyond Diving". Lo akan menemukan banyak fakta dibalik olahraga selam tersebut. Ssst.. ada juga ulasan tentang mermaid cantik yang menekuni dunia freediving, lho!

 

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Sampah merupakan salah satu masalah utama di Indonesia. Nggak hanya di darat, tetapi juga dasar laut. Menanggapi hal ini, para divers tidak mau berdiam diri. Seperti aksi nyata Divers Clean Action, sebuah LSM dan komunitas anak muda yang berfokus pada masalah sampah laut. Kepedulian mereka terhadap laut membuat diving nggak terbatas pada kegiatan hiburan dan olahraga saja.

Secara aktif, mereka mengajak warga lokal pesisir beserta masyarakat umum untuk memerangi sampah lautan. Kegiatan pembersihan rutin yang dilakukan juga tidak hanya satu tempat, Urbaners, Divers Clean Action juga menyeleksi 70 volunteers per tahunnya dengan memberikan dana untuk mengembangkan program pembersihan laut di daerah masing-masing. Organisasi satu ini juga rajin 'bersuara' diberbagai seminar, workshop & konferensi seperti Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2017, YSEALI Marine Debris Expedition 2018, dan Our Ocean Youth Leadership Summit 2018 untuk menyampaikan visi misi mereka ke masyarakat luas.

 

Nikita Fima: Freediving Mengajarkan untuk Melepaskan Yang Tidak Perlu

Nikita Fima menggunakan t-shirt merah mertuliskan "Freediving Society"

Mermaid doesn't exist! Sepertinya kalimat sudah tidak valid lagi. Karena Nikita Fima seorang freediver wanita Indonesia ini memiliki keseharian menjadi mermaid atau freediver. Wanita cantik satu ini tidak menyangka akan menghabiskan hidupnya under the sea. Sebelum fokus di freediving, Nikita sebenarnya sudah sempat mencoba peruntungan di berbagai bidang lainnya, tetapi ia mengaku, dunia freedive membuat hidupnya lebih simpel dan menantang secara bersamaan. Nikita mengakui kalau bukan hanya kesehatannya saja, tapi cara pandang hidupnya juga ikut berubah karena pengajaran dan teknik pernapasan freediving. Nikita juga kerap mengikuti kompetisi seperti Indonesia Apnea Competition (IAC) dan Sabang International Freedive. Ajang IAC menjadi yang paling berkesan baginya, soalnya kenekatannya kala itu justru membuatnya menyabet gelar juara untuk 6 kategori. Dan sekarang, ia menekuni dunia tersebut dengan menjadi professional mermaid di Jakarta Aquarium, Neo Soho Mall dan juga membuka Jakarta Mermaid School yang merupakan sekolah mermaid berlisensi pertama di Indonesia.