• News
  • Max Mandias: Dari Chef hingga Jadi Ahli Nutrisi

Max Mandias: Dari Chef hingga Jadi Ahli Nutrisi

Sun, 29 September 2019
Dulunya mau jadi kaya raya, sekarang passion-nya adalah sebagai edukator di bidang makanan sehat!

Max Mandias, sosok di balik Burgreens nggak pernah menyangka sebelumnya, kalau dia bakal jadi ahli nutrisi. “Gue dulu mikir-nya bakal jadi akuntan seumur hidup dan mau kaya,” demikian pengakuan Max.

Jalan hidup orang memang nggak ada yang tahu, Urbaners. Berawal dari keinginan untuk menjadi sehat secara fisik dan emosional, ia yang dulunya menekuni dunia ekonomi keuangan kini malah putar arah 180 derajat menjadi healthy food educator, dan punya cita-cita membangun sanctuary untuk hewan dan tumbuhan langka. Simak perubahan drastis Max dan kisah inspiratifnya di sini!

 

Dari 89 kg ke 74 kg

Dulu ‘pemakan segala’ kini Max hanya mengonsumsi makanan nabati dan merasakan perubahan fisik dan emosional yang sangat positif

Kalau lo penasaran awal mula Max menjadi pelopor makanan sehat seperti sekarang, itu semua bermula dari pengalaman pribadinya. Sejak 2006-2013, Max menetap di Belanda dan sempat bekerja sebagai Data Analyst. Selama 1,5 tahun bekerja, Max mengalami gejala depresi, insomnia dan beberapa penyakit yang terkait dengan kondisi fisik. Di momen itu, Max mencari tahu bagaimana mengobati kondisi kesehatannya. Dan dari pencarian yang dilakukannya, ternyata pola makan berhubungan erat dengan isu kesehatan.

Max mulai menjalani pola makan berbasis nabati utuh selama tiga bulan, dan berat badannya turun dari 89 kg ke 74 kg. Nah, ketika keinginan untuk sehat ini muncul, Max nggak begitu concern dengan yang namanya rasa dan penampilan, karena keinginan sesungguhnya adalah sehat.

Kemudian, keinginan untuk melakoni ini secara konsisten pun muncul. Pada akhirnya, inilah yang menjadikan cikal bakal berdirinya Burgreens. Apalagi ditambah dengan pengalaman kerja di salah satu restoran sehat di Amsterdam-Alchemist Garden, mengukuhkan keinginan Max untuk mendirikan restoran sehatnya sendiri.

“Gue volunteer selama lima bulan dan menyadari kalau seorang alchemist bukan hanya soal makanan sehat, tetapi juga bagaimana makanan bisa mempengaruhi kesehatan. Ada banyak orang yang mengalami isu kesehatan seperti kanker, diabetes, bahkan divonis hidupnya bakal nggak lama lagi akhirnya mengalami peningkatan kualitas kesehatan karena perubahan pola makan,” jelas Max antusias. Singkat cerita, bersama partner-nya Helga Angelina, keduanya merintis Burgreens dan menciptakan menu makanan sehat dengan rasa dan bentuk yang bikin orang menyenangi sayur dan buah.

 

Bukan Perjalanan yang Mudah

Tidak hanya edukasi makanan sehat ke masyarakat yang susah, edukasi ke tim juga punya tantangan tersendiri

Menginjak usia ke-enam tahun ini, Burgreens sudah merambah delapan lokasi, salah satunya di Kota Bandung. Melihat pencapaian Max, mungkin lo menilai bahwa jalan karirnya terasa mulus-mulus aja. Padahal, Urbaners, Max juga menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan merintis Burgreens hingga sekarang.

Misalnya saja, di awal mula Max merintis Burgreens, kala itu tren makanan sehat belum booming seperti sekarang. Banyak orang yang nggak menarik mencicipi makanan sehat karena rasanya belum tentu enak. Namun, dengan modal yang minim, Max dan partner memberanikan diri mengumpulkan semua tabungan dari kerja di restoran sampai kantoran dan totalitas membesarkan Burgreens.

Keterbatasan finansial membuat keduanya mengerjakan segala sesuatunya sendiri, dan ini dilakukan selama kurang lebih dua tahunan. Banyak yang dikorbankan mulai dari me time, waktu bersama keluarga, sampai ke hubungan sosial.  Niat Max membangun restoran sehat juga diragukan teman-temannya. Pada akhirnya, ini membuat Max memutuskan untuk meninggalkan teman-teman yang nggak suportif tersebut.

“Gue dan Helga butuh motivasi dan lingkaran sosial baru yang bisa memberikan kita semangat untuk menjalankan usaha ini,” cetus Max. Dan ternyata, memang ini bukan sesuatu yang mudah. Mereka sempat ber-partner dari tujuh orang tapi akhirnya satu persatu pergi meninggalkan mereka berdua lagi.

Itu masih masalah kolaborasi, belum lagi turn over karyawan yang tinggi, membuat Max kewalahan. Apalagi karyawan yang ditanganinya adalah usia millennial yang dinilainya gampang give up. “Butuh penanganan yang lembut dan pengertian supaya mereka jadi semangat. Dan itu menghabiskan investasi waktu yang nggak singkat,” cerita Max.

Belum lagi kebocoran di kasir, pergantian SOP di sana sini, bolak-balik ganti standar operasional. Ini butuh waktu dan tenaga yang nggak main-main. Sampai sekarang diakui Max, hal ini masih menjadi tantangan berat buat Burgreens. Tapi, Max selalu menganggap tantangan ini sebagai hal yang wajar dalam membangun bisnis ke skala yang lebih besar.

 

Mengembangkan 10 Menu sampai 150 Menu

Sebelum memberikan presentasi, Max punya kebiasaan memahami apa yang mau disampaikan supaya bentuk materi bisa lebih simpel dan mudah dicerna oleh publik

Kreativitas Max bisa lo lihat dari pengembangan menu Burgreens yang unik. Dari awalnya hanya 10 menu, sekarang sudah terdapat 150 menu di Burgreens. Namun, agar konsumen nggak bingung, hanya ada 80-100 menu saja yang dijual di outlet. Max mengaku bahwa inspirasi dalam membuat menu itu beragam, mulai dari usulan tim internal sampai petualangan pribadi. Bahkan, ia pernah menciptakan versi menu sehat dari bakmie atau steak, saking kangennya!

Dari dulu, Max belajar memasak secara otodidak. Selain pengalamannya kerja di restoran sehat, tinggal di Thailand, Indonesia, dan China, pengalaman tinggal di student house dan berkumpul dengan teman-teman dari negara lain semisal Ukraina, Perancis, Rusia, Spanyol, sedikit banyak mengasah kemampuannya mengolah cita rasa makanan.

“Gue jadi ingat nih, pas masih tinggal di student house, masakan gue yang paling disukai temen-temen itu tempe kecap dan brokoli jamur. Mereka sampai ngantre dan kadang ngetok pintu kamar untuk dimasakin, terus gue dikasih 5 Euro,” kenang Max.

Ngomongin soal profesinya yang sekarang merambah ke nutrisionis, Max cerita kalau ini adalah perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu dan menjawab kebutuhan customer. Menginjak tahun ke-4 Burgreens, banyak sekali customer yang memiliki isu kesehatan yang nggak hanya tertarik ngobrolin soal makanan sehat tetapi juga mekanisme makanan sehat itu seperti apa.

“Panggilan” inilah yang akhirnya membuat Max memutuskan untuk mengambil kursus plant-based nutrition di Cornell University. Diakui Max, semenjak mengambil kursus nutrisi tersebut dia lebih percaya diri ngobrol soal isu kesehatan terkait pola makan, karena apa yang dibicarakannya memang bisa dibuktikan dengan hasil riset dan jurnal ilmiah.

Sebelum menutup percakapan, Max mengaku kalau dia nggak menyangka akan menjadi seorang ahli nutrisi. “I just want to be happy, dan menjadi kaya, actually,” katanya jujur mengungkapkan cita-citanya dulu. Namun sekarang, cita-citanya berubah. Keinginannya adalah memberikan inspirasi tentang pola makan yang sehat ke lebih banyak orang. Karena itulah, ia berharap kedepannya bisa mengembangkan Burgreens ke negara-negara Asia Pasifik lain, seperti Malaysia, Thailand, dan Australia.

Arti Terselubung dari Produk Maskeren

Tue, 14 July 2020

Instead of spreading the virus, we better spreading the inspiration. Inilah pesan yang terdapat pada project Maskeren. Masker hasil Kolaborasi dari MLDSPOT & Monstore yang tidak hanya membuat lo lebih stylish tetapi juga membangun percikan semangat produk lokal untuk tetap berkarya. Setelah melewati proses yang cukup panjang, akhirnya MLDSPOT & Monstore memilih typography untuk desain Maskeren ini. Kira-kira apa alasannya ya, Bro?

 

Spirit Kolaborasi yang Sama

Kolaborasi bukanlah sesuatu yang asing bagi MLDSPOT maupun Monstore. Kedua brand ini memang gemar merangkul sesama produk lokal untuk bahu membahu menghasilkan sesuatu yang baru. Menariknya lagi, kolaborasi ini dibentuk guna memberi semangat anak-anak muda untuk tetap aktif namun bertanggung jawab pada diri sendiri serta lingkungan sekitar.

 

Sebuah Statement dari MLDSPOT & Monstore

Awal proses kolaborasi ini tidak mudah, Bro! Baik MLDSPOT maupun Monstore memiliki brand identity yang kuat, bagaimana menggabungkan keduanya menjadi satu desain yang menarik tanpa menghilangkan identitas masing-masing. Monstore terbiasa dengan desain yang complex & detail, sedangkan MLDSPOT yang simple & clean. Seperti pertemuan di tengah, konsep Maskeren berbeda dari masker yang lainnya. Desain yang dipilih pun merupakan perkawinan keduanya dan melihat kegemaran anak muda akan statement kuat, sehingga lebih mengena bagi siapa pun yang membacanya. Akhirnya, terpilih konsep typography sebagai “direct message” yang cukup to the point.

 

Charity Melalui Kolaborasi

Alasan lain kolaborasi ini terbentuk adalah tujuan dari Maskeren itu sendiri. Seperti yang lo ketahui, setiap pembelian satu masker sama seperti lo menyumbang tiga kali lipat dari harga tersebut untuk masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 melalui campaign Indonesia Melawan Corona di Kitabisa.com. Bagi Monstore dan MLDSPOT, sekecil apa pun selama tujuannya baik, hasilnya pasti juga akan baik. Harapannya, dengan kolaborasi ini mampu memberikan semangat lebih untuk para brand lokal agar terus aktif dan menghasilkan produk berkualitas. Yuk, teruskan semangat untuk berdonasi di tengah pandemi ini, Bro!