Home Scoop Menaklukan Jogjakarta yang Dingin dengan Cerita

Menaklukan Jogjakarta yang Dingin dengan Cerita

Friday, April 26, 2019 - 16:29
Bagikan
Facebook Twitter Email

MLDSPOT Intimate Sound berlanjut di Jogjakarta pada Rabu, 24 April 2019. Selepas pertunjukan di Surabaya, rombongan langsung bertolak menuju Jogjakarta. Perjalanan menggunakan bus yang didesain khusus memerlukan waktu sekitar empat setengah jam.

Tiba subuh adalah trik yang digunakan untuk mendapatkan waktu istirahat yang maksimal dan merasakan kesegaran ketika bangun di pagi hari. Istilahnya, supaya sekalian capeknya.

Di Jogjakarta, venue MLDSPOT Intimate Sound adalah Langgeng Art Foundation (LAF). Tempat ini sudah sering dijadikan ruang pertunjukan, kendati fungsi asalnya adalah sebuah galeri seni. Yang menarik, kali ini, bukan lobi tengah outdoor yang digunakan seperti biasanya, tapi ruang pamer atas di lantai dua yang dijadikan tempat pertunjukan.

Seperti tidak ada keriaan apapun yang bisa ditangkap di luar gedung pertunjukan. Suaranya kedap dan syahdu, persis seperti apa yang terjadi di dalam area pertunjukan tempat Monita Tahalea, Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga unjuk gigi. 

MLDSPOT Intimate Sound

Mereka memainkan repertoir yang sama, yang sudah disusun sedemikian rupa supaya bisa membentuk alur yang enak untuk mereka yang menyaksikan dari bangku penonton.

Karakter penonton yang senang mengamati detail-detail pertunjukan terjadi. Perlu waktu agak lama untuk bisa merasakan energi yang dikirim oleh mereka. Momen menyanyi bersama di lagu Hai, yang sengaja dipasang di sesi awal pertunjukan, menjadi kejadian pertama di mana kehadiran penonton terasa nyata.

Cerita-cerita di sejumlah jeda lagu juga menjadi warna spesial yang tidak bisa didapatkan di panggung-panggung biasa yang dimainkan tiga orang muda berkategori musical genius ini. Jika Monita yang memang biasa menjadi bintang fasih bercerita, itu biasa. Tapi kesempatan bermain intim seperti ini, juga memberi ruang bagi Aga dan Gerald untuk bercerita tentang dapur produksi musik yang biasa mereka operasikan dalam berkarya.

Aga, misalnya. Di satu bagian, ketika lagu Thrown Words akan dimainkan, ia bercerita panjang tentang awal pertemuan musiknya dengan Riza Arshad, musisi besar Indonesia yang meninggal dunia tahun 2016 yang lalu. Ia mengaku mengenal dan tertarik main jazz setelah mendengarkan Trance Mission, album milik Simak Dialog band Riza yang di kemudian hari juga mencatat Aga sebagai salah satu personilnya.

Katanya, setengah mencairkan suasana, “Setelah happy-happy sama lagunya Momon –panggilan akrab Monita— dan Gerald, sekarang giliran yang suram, yaitu lagu gue.”

Penonton tertawa kecil dan kemudian mengalirlah komposisi Thrown Words yang didedikasikan khusus untuk Riza Arshad. Jika tidak main di show yang intim, mungkin pengalaman seperti ini tidak pernah bisa diceritakan pada penonton dan dibawa pulang dalam kompartemen kenangan yang bisa diingat. Persis kata Monita di bagian akhir pertunjukan, “Semoga kalian membawa memori dari malam ini dan bisa cerita sama anak-cucu di kemudian hari bahwa pernah menyaksikan tur ini.”