Home Scoop Tanya Jawab untuk Album Kedua Teddy Adhitya, Question Mark

Tanya Jawab untuk Album Kedua Teddy Adhitya, Question Mark

Sunday, September 29, 2019 - 17:30
Bagikan
Facebook Twitter Email

Setelah membawa pulang penghargaan di Breakthrough Artist of the Year dalam NET 4.0 tahun 2018, memenangkan piala Pendatang Baru Terbaik dalam AMI Awards 2017, serta masuk sebagai nominasi Male Singer of the Year dalam Indonesian Choice Awards NET 5.0, kini Teddy Adhitya kembali dengan album kedua yang nggak kalah seru dari album pertamanya.

Berbeda dengan album pertama yang dikerjakan full di studio, Teddy Adhitya memilih daerah pegunungan untuk mendapatkan inspirasi dan memberikan warna yang berbeda dalam albumnya kali ini. Bersama TED Records, Teddy berkeliling di tiga daerah pegunungan di Bali, yaitu Singaraja, Maribaya, dan Tabanan! Di tiga tempat itu Teddy bersama tim menyewa villa untuk merekam lagu dan mengkombinasikannya dengan suara-suara alam di sana.

Dalam album Question Mark ((?)) ini, Teddy Adhitya banyak memasukkan unsur alam

Resmi diluncurkan pada 17 Agustus 2019, album yang diberi judul Question Mark ((?)) ini sempat diperdengarkan lewat hearing session di Earhouse, Pamulang, pada Selasa malam, 20 Agustus 2019. Dibuka dengan penampilan Endah n Rhesa, 10 lagu Teddy Adhitya di album Question Mark ((?)) ini diperkenalkan.

Penasaran dengan album yang dibuat di pegunungan ini? Yuk, simak tanya jawab selengkapnya mengenai album kedua Teddy Adhitya yang berjudul Question Mark ((?)) berikut ini!

 

Apa saja yang membedakan album Question Mark ((?)) dengan album pertama Teddy yang berjudul Nothing is Real?

Yang paling fundamental adalah fase kehidupan yang berbeda. Cerita dan pesannya jauh berbeda. Proses pengerjaan albumnya pun nggak sama. Album Nothing Is Real dikerjain full di studio. Question Mark ((?)) dikerjain full di kabin di daerah pegunungan.

 

Apa filosofi di balik nama Question Mark ((?))

Awalnya Question Mark ((?)) ini hanya ide-ide yang banyak muncul di banyak gambar dan sketch gue di era Nothing Is Real. Seiring berjalannya waktu, gue merasa pertanyaan-pertanyaan yang datang ke hidup gue dengan tanggung jawab yang bertambah besar, begitu pula “Question Mark” nya.

Bahkan, kita suka nggak sadar kalau tanda tanya adalah hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Contoh, sebelum tidur, “besok bangun jam berapa, ya ((?))”, “besok ada kerjaan atau janji apa ya ((?))”. Terus, pas bangun tidur juga yang pertama muncul di kepala biasanya, “Jam berapa nih ((?))”, “Siap-siap jam berapa ya ((?)),” dan seterusnya. Album ini pun akhirnya menjadi media gue untuk terus mencari jawaban atas pertanyaan yang bermunculan di dalam fase hidup gue. Bahkan, sampai “Kenapa gue harus dilahirkan di dunia ini, tugas gue apa ((?))” dan seterusnya.

So generally, buat gue, life is full of Question Marks that we need to answer.

Melalui album ini, Teddy juga mengungkapkan berbagai pertanyaan yang hadir dalam hidupnya

 

Apa tantangan terbesar dalam menyelesaikan album kedua ini?

Tantangan paling besar dalam pembuatan album ini adalah emosi. Karena isi dan cerita album ini gue banyak refleksi ke dalam. Banyak moment yang mengharuskan gue mengisolasi diri untuk mendengar pesan apa yang sebenernya ingin disampaikan dari lagu-lagu ini, memilah yang mana yang suara hati gue, dan yang mana yang suara ego gue. Perang di dalam diri gue yang jadi tantangan paling berat.

 

Lagu-lagu di album Question Mark ini kan cukup unik, terkesan saling nyambung dan berkaitan. Nah, apa sih yang menjadi inspirasi Teddy dalam menulis lagu di album ini hingga menjadi satu kesatuan lagu yang saling berkaitan?

Masih sama seperti album pertama, gue menganggap album seperti buku cerita. Masing-masing lagu mewakili ceritanya secara keseluruhan. Saling berkesinambungan.

Dan dalam setiap album, gue selalu menceritakan fase-fase nya secara berurutan.

Bagi Teddy, album ini juga mengajarinya untuk ikhlas dan berserah diri

 

Apa yang sebenarnya ingin Teddy Adhitya sampaikan melalui album kedua ini?

Buat gue pribadi, album ini mengajarkan gue untuk ikhlas dan berserah. Semua udah ada skenarionya. Krisis apapun, kesenangan atau kesedihan apa pun, semua terjadi karena alasan. Menerima siklus kehidupan dan belajar mengerti peran. Tapi, itu pun semua kembali lagi kepada yang mendengarkan. Siapa pun bisa mengartikan apa pun terhadap sebuah karya.

Secara teknis, yang ingin gue sampaikan adalah membuat karya atau album itu nggak harus di studio. Di mana pun tempatnya selama terasa nyaman untuk menuangkan rasa dan cerita, that’s all I need.

 

Single di album pertama Teddy sudah banyak meraih prestasi di dunia musik. Nah, untuk album kedua ini apa harapan terbesarnya?

None. I did my best to tell my story through this album, now It’s time for me to let them go and let them grow. Tapi, yang pasti gue berharap album ini bisa berdampak positif untuk siapapun yang mendengarkan.

Album Question Mark ((?)) tersedia dalam bentuk fisik maupun digital

Nah, buat lo yang penasaran dengan album terbaru Teddy Adhitya, album ini sudah tersedia di berbagai platform layanan musik dan video, termasuk di official YouTube Teddy Adhitya. Buat para penikmat musik bentuk fisik, akan ada paket eksklusif dengan jumlah terbatas juga, lho! Jangan sampai ketinggalan, ya!