• News
  • Ubud Village Jazz 2019 yang Jadi Ajang Pertukaran Kebudayaan

Ubud Village Jazz 2019 yang Jadi Ajang Pertukaran Kebudayaan

Tue, 27 August 2019
Ubud Village Jazz 2019 yang Jadi Ajang Pertukaran Kebudayaan

Sebagai sebuah festival internasional yang mengundang banyak sekali musisi dari luar negeri, Ubud Village Jazz Festival 2019 bisa dibilang punya relasi yang baik dengan sejumlah perwakilan negara asing yang ada di Indonesia. Relasi itu kemudian mempermudah proses kurasi yang membentuk program selama dua hari penuh.

Salah satu keunikannya adalah keterbukaan yang dimiliki oleh festival terhadap berbagai macam jenis musik yang ada. Tahun ini, kerjasama khusus dilakukan oleh Ubud Village Jazz Festival dengan beberapa kedutaan besar negara asing. Future Leaders Program dari Australia menghadirkan Caleb Fortuin and Bali Friends, Kedutaan Besar Austria mendatangkan Michaela Rabitsch & Robert Pawlik Quartet, Goethe Institut dari Jerman menyumbang Reza Askari Trio, Erik Verwey dari Belanda didukung oleh Kedutaan Besar Negeri Belanda dan IFI dari Prancis membuat Voyager 4, yang sedang tur Indonesia mampir di festival ini.

Cara kuratorial yang seperti ini, merupakan sebuah pendekatan yang unik. Koloborasi kepentingan antara misi kebudayaan negara tertentu difasilitasi lewat sebuah festival yang unik yang bisa menemukan berbagai macam talenta tersebut dengan publik baru yang tepat.

Ubud Village Jazz Festival 2019

Selain nama-nama yang sudah ditulis di atas, festival tahun ini juga menghadirkan band-band lain yang datang dari berbagai penjuru dunia mulai dari Russia, Amerika Serikat hingga sejumlah nama lain dari Australia.

Di Indonesia, sekedar catatan, pertukaran kebudayaan merupakan hal yang lazim terjadi. Selain mengimpor banyak pengalaman lewat band-band asing yang tur ke Indonesia. Seringkali juga terjadi hal yang sebaliknya di mana band-band Indonesia melawat ke sejumlah negara atas nama kebudayaan.

Tidak melulu soal seni tradisi, tapi perkembangannya yang mendapatkan kesempatan untuk unjuk gigi adalah mereka-mereka yang berkarya di wilayah seni kontemporer seperti musik jazz ini.

Ubud Village Jazz Festival 2019

Jika kelewatan, tidak apa, Ubud Village Jazz Festival akan kembali tahun 2020 mendatang. Tanggalnya pun sudah diumumkan, akan diselenggarakan pada 14-15 Agustus 2020. Keinternasionalan festival ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Tinggal disaksikan dengan mata kepala sendiri saja.

 

Melihat Lebih Luas Dunia Menyelam yang Tidak Hanya Itu-itu Saja

Wednesday, February 12, 2020 - 13:44
Dua penyelam sedang sweeping di bawah laut untuk mengumpulkan sampah

Tidak ada yang menandingi keindahan bawah laut Indonesia. Setuju nggak, Urbaners? Namun salah satu objek wisata utama tersebut juga mengundang efek negatif, yakni sampah. Tidak hanya di tepi pantai, tetapi juga dasar laut. Melihat kondisi tersebut, para divers di Indonesia tidak tinggal diam. Seperti Divers Clean Action yang kerap sweeping kebersihan bawah laut Indonesia. Inilah salah satu yang digali lebih dalam di MLDSPOT TV Season 5 Episode 13. Dengan tema "Beyond Diving". Lo akan menemukan banyak fakta dibalik olahraga selam tersebut. Ssst.. ada juga ulasan tentang mermaid cantik yang menekuni dunia freediving, lho!

 

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Divers Clean Action: Solusi Para Penyelam Akan Sampah Laut

Sampah merupakan salah satu masalah utama di Indonesia. Nggak hanya di darat, tetapi juga dasar laut. Menanggapi hal ini, para divers tidak mau berdiam diri. Seperti aksi nyata Divers Clean Action, sebuah LSM dan komunitas anak muda yang berfokus pada masalah sampah laut. Kepedulian mereka terhadap laut membuat diving nggak terbatas pada kegiatan hiburan dan olahraga saja.

Secara aktif, mereka mengajak warga lokal pesisir beserta masyarakat umum untuk memerangi sampah lautan. Kegiatan pembersihan rutin yang dilakukan juga tidak hanya satu tempat, Urbaners, Divers Clean Action juga menyeleksi 70 volunteers per tahunnya dengan memberikan dana untuk mengembangkan program pembersihan laut di daerah masing-masing. Organisasi satu ini juga rajin 'bersuara' diberbagai seminar, workshop & konferensi seperti Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2017, YSEALI Marine Debris Expedition 2018, dan Our Ocean Youth Leadership Summit 2018 untuk menyampaikan visi misi mereka ke masyarakat luas.

 

Nikita Fima: Freediving Mengajarkan untuk Melepaskan Yang Tidak Perlu

Nikita Fima menggunakan t-shirt merah mertuliskan "Freediving Society"

Mermaid doesn't exist! Sepertinya kalimat sudah tidak valid lagi. Karena Nikita Fima seorang freediver wanita Indonesia ini memiliki keseharian menjadi mermaid atau freediver. Wanita cantik satu ini tidak menyangka akan menghabiskan hidupnya under the sea. Sebelum fokus di freediving, Nikita sebenarnya sudah sempat mencoba peruntungan di berbagai bidang lainnya, tetapi ia mengaku, dunia freedive membuat hidupnya lebih simpel dan menantang secara bersamaan. Nikita mengakui kalau bukan hanya kesehatannya saja, tapi cara pandang hidupnya juga ikut berubah karena pengajaran dan teknik pernapasan freediving. Nikita juga kerap mengikuti kompetisi seperti Indonesia Apnea Competition (IAC) dan Sabang International Freedive. Ajang IAC menjadi yang paling berkesan baginya, soalnya kenekatannya kala itu justru membuatnya menyabet gelar juara untuk 6 kategori. Dan sekarang, ia menekuni dunia tersebut dengan menjadi professional mermaid di Jakarta Aquarium, Neo Soho Mall dan juga membuka Jakarta Mermaid School yang merupakan sekolah mermaid berlisensi pertama di Indonesia.