Pernah nggak sih lagi nongkrong, terus obrolan tiba-tiba belok ke musik. Ada yang nyeletuk, “Oh, dia dengerinnya ini? Pantes.” Sekilas bercanda, tapi kok kayak ada makna lain. Dari situ, pertanyaan klasik muncul: Emang iya, selera musik bisa nentuin status sosial?
Di satu sisi, musik itu urusan personal. Tapi di sisi lain, kok rasanya sering banget dipakai buat nebak-nebak kelas, lingkungan, bahkan gaya hidup orang. Nah, sebelum keburu ngecap siapa-siapa, mending kita bedah pelan-pelan.
Bahasa “Gaul” Paling Jujur
Selera musik sering jadi pintu masuk buat ngenalin diri. Tanpa CV, tanpa basa-basi. Dari playlist aja, orang bisa nebak lo nongkrongnya di mana, kerja di bidang apa, atau sering ketemu siapa. Musik jadi semacam bahasa gaul yang diam-diam jujur.
Dengerin jazz, misalnya, sering diasosiasiin sama coffee shop mahal dan obrolan “berat”. Sementara dangdut atau koplo kerap ditempelin label rakyat. Padahal, ya itu cuma konstruksi sosial yang keburu diwarisin aja. Musiknya nggak salah apa-apa, manusianya yang kebiasaan ngelabelin.
Ini Soal Akses, Bukan Kelas
Kalau ditarik lebih jauh, selera musik sering kebentuk dari akses. Lingkungan rumah, pergaulan, internet, sampai algoritma platform streaming punya peran besar. Orang yang tumbuh di lingkungan tertentu ya wajar kalau akrab sama genre tertentu juga.
Masalahnya, akses sering disalahartikan sebagai status. Padahal bisa jadi, orang dengerin musik “elit” karena kebetulan lingkungannya ke situ. Bukan karena dompetnya tebel. Atau sebaliknya, ada juga yang seleranya “populer” tapi justru lintas kelas banget.
Label Sosial Datang Dari Orang, Bukan Musiknya
Yang bikin ribet itu bukan musiknya, tapi tafsir sosialnya. Musik cuma bunyi, emosi, dan cerita. Begitu masuk ke ruang sosial, baru deh muncul asumsi, stereotip, dan kadang penghakiman halus.
Di titik ini, selera musik lebih sering dipakai buat pembeda identitas ketimbang penentu status. Jadi bukan musik yang bikin status sosial, tapi cara kita memaknai dan menggunakannya di lingkungan sosial.
Akhirnya, selera musik mungkin bisa ngasih “clue” tentang latar belakang atau pergaulan seseorang. Tapi buat nentuin status sosial? Terlalu maksa. Musik itu buat dinikmati, bukan buat dijadiin alat ukur. Jadi ya santai aja. Dengerin apa yang lo suka, nikmatin momennya, dan biarin musik jadi teman nongkrong, bukan kartu identitas.



No one has commented yet. Be the first to comment on this article!