Trending
Sabtu, 03 Agustus 2019

Jual Buku Sastra: Menemukan Buku Asyik dan Pertemanan di Jual Buku Sastra

  • Share
  • fb-share
Jual Buku Sastra: Menemukan Buku Asyik dan Pertemanan di Jual Buku Sastra

Kehadiran toko-toko buku online sekarang udah sering dijumpai. Lo tinggal pilih buku mana aja yang lo inginkan. Berbeda ceritanya di awal tahun 2000-an, saat Twitter masih baru dikenal dan dunia online baru-baru happening. Jual Buku Sastra bisa dibilang salah satu pionir toko buku sastra online di Indonesia.

Kenapa dibilang pionir? Soalnya, di tahun Jual Buku Sastra rilis, masih belum banyak toko buku online berdiri. Nyari literatur yang nggak ada di toko buku mainstream? Lo mungkin bisa menemukannya di Jual Buku Sastra. Jual Buku Sastra juga sering mengadakan event-event sastra dan kesempatan buat lo bertemu dengan teman-teman baru yang “berisi”. Simak selengkapnya di sini, urbaners!

 

Toko Buku Homey di Wijilan

Kalau lo melirik ke belakang di era tahun 2000-an, keberadaan toko buku online bisa dihitung dengan jari! Dirintis sejak 2007 dan baru permanen membuka toko buku online di 2011, Jual Buku Sastra berfokus pada penjualan buku-buku dari penerbit indie.

Suka buku dan sering traveling ke Yogyakarta? Sayang banget kalau lo nggak kenalan dengan yang namanya Jual Buku Sastra. Berlokasi di Jalan Wijilan Gang Semangat, tempat ini kerap jadi spot nongkrong-nya penggemar sastra, baik yang menetap di Yogyakarta ataupun pecinta literatur lain dari luar kota.

Tumpukan-tumpukan buku yang hakiki, Urbaners!

Memasuki rumah yang didominasi warna hijau-biru tersebut, lo akan disapa oleh tumpukan buku-buku yang diatur rapi di rak-rak panjang tiga tingkat. Aroma buku langsung menyeruak dan mendadak lo bakal merasa kembali ke “rumah”.

Nggak jarang teman-teman (termasuk pembaca dari luar dan dalam kota Yogyakarta) menginap dan tidur di lantai beralaskan tikar dengan himpitan buku-buku. Indrian Koto dan Mutia Sukma adalah dua penulis yang berada di balik keceriaan Jual Buku Sastra.

“Dulu di 2007, gue dan partner sering bikin acara diskusi buku dan launching buku sastra. Sebagian teman-teman penulis menitip bukunya untuk dijualkan. Dari satu-dua penerbit, kami akhirnya mengoleksi puluhan mitra penerbit dan penulis,” cerita Indrian Koto.

 

Dari Offline ke Online

Nah, dari koleksi awal yang puluhan akhirnya bertambah jadi ratusan. Karena stok makin menumpuk, akhirnya Indrian Koto dan Mutia Sukma memutuskan untuk mem-posting di blog, kemudian di FB dan Twitter, lalu IG. “Jadi, awalnya gue jualan offline, baru kemudian online,” tambahnya.

Ngomongin soal tantangan, menurut finalis Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 ini, menawarkan buku indie yang karyanya bagus tapi penulisnya nggak dikenal banyak orang merupakan tantangan sendiri. Sistem kerjanya adalah Indrian merekomendasikan buku yang dianggapnya layak dan perlu dibaca banyak orang. Ini jugalah yang menjadi cara kurasi untuk sebagian besar buku yang dijual di Jual Buku Sastra.

Indrian Koto (kiri) dan para penulis, pembaca di Jual Buku Sastra

“Kalau dulu kan penjualan online belum seramai sekarang, jadi gue dan partner berusaha mencari pelanggan di luar kawan-kawan sesama penulis. Karena awalnya ini merupakan kerja sampingan di luar aktivitas sebagai mahasiswa dan menulis, jadi nggak terlalu terasa beratnya. Sekarang sedikit lebih berat ketika kami memutuskan menjadikan Jual Buku Sastra sebagai pekerjaan permanen,” tambah Indrian.

 

Kiat Mengikat Pembeli

Ada begitu banyak toko buku online sekarang ini, pastinya untuk bisa bertahan, Jual Buku Sastra mempunyai strategi yang oke. “Gue berusaha memperlakukan pembeli sebagai rekan dan kawan. Kami berdiskusi soal buku dan persoalan kesusasteraan. Kami membuka ruang untuk dikunjungi kawan-kawan untuk melihat buku, membaca, membeli, atau sekadar ngobrol,” papar Indrian.

Comments
Agung Sutrisno
penjualan online belum seramai sekarang
SRI YAYA ASTUTI
Kiat Mengikat Pembeli