Trending
Minggu, 10 Maret 2019

Komunitas Taman Suropati Chamber: Bermusik Tanpa Batas

  • Share
  • fb-share
Komunitas Taman Suropati Chamber: Bermusik Tanpa Batas

Kawasan Taman Suropati yang terletak di Menteng, Jakarta Pusat, nggak pernah kehabisan pengunjung, apalagi di akhir pekan. Mulai dari matahari terbit sampai tengah malam, selalu ada pengunjung baik yang cuma sekedar duduk-duduk, main bareng keluarga, atau komunitas yang melakukan aktivitas bareng. Salah satu yang menarik perhatian adalah sekumpulan orang dengan beragam usia yang duduk di kursi berwarna hijau terang sambil bermain biola. Mereka menamakan diri: Taman Suropati Chamber.

Di tepi taman, Mas Ages, mentor sekaligus pendiri Taman Suropati Chamber ini duduk sambil bermain biola dan mengawasi peserta yang sedang berlatih bersama mentor lainnya. Pria yang bernama lengkap Agustinus Esti Sugeng Dwiharso ini kemudian menceritakan mengenai komunitas yang dibinanya. Simak obrolan hangat dengan Mas Ages berikut, yuk!

 

Beri Kesempatan Anak Indonesia untuk Belajar Musik

Selalu rutin berlatih dan menghiasi taman dengan musik setiap minggu dari pagi hingga siang

Keberadaan komunitas Taman Suropati Chambers tidak bisa terlepas dari peran penting Mas Ages selaku pendirinya. Ia memulai komunitas ini karena ingin membuka kesempatan buat orang-orang yang ingin belajar musik dari berbagai usia.

Motivasi yang mulia ini ternyata didasari dari pengalamannya yang kesulitan ketika ingin belajar musik dulu. “Saya punya ketertarikan yang besar untuk belajar musik, tapi sayangnya keadaan tidak mendukung,” kata Mas Ages. Akhirnya, Mas Ages harus bolak-balik buat latihan bahkan membantu menggilas padi supaya bisa bergabung dengan sanggar yang didirikan oleh seorang petani di daerahnya. Wah, spirit kerja keras ini bisa banget lo tiru, Urbaners!

Setelah selesai dengan Sekolah Pendidikan Guru yang diikutinya, Mas Ages pun datang ke Jakarta dan bekerja sebagai guru. Walau begitu, waktunya masih lebih banyak dihabiskan buat nerusin hobi musiknya. Nah, dari hobi main musik inilah ia kemudian bisa membayar orang untuk menerangkan proses main biola.

Proses sulit seperti ini membuat Mas Ages berpikir kalau anak Indonesia nggak boleh merasakan susahnya belajar sesuatu yang mereka mau. “Sayang banget kalau talenta musik generasi muda Indonesia disia-siakan, hanya karena mereka nggak bisa menembus mahalnya harga les di tempat bergengsi, yang bisa mencapai ratusan ribu,” kata Mas Ages.

 

Peserta dan Metode Pembelajaran

Percaya musik itu untuk semua, Taman Suropati Chamber terbuka bagi semuanya semenjak berdiri

Karena didirikan dengan spirit komunitas, Taman Suropati Chamber sendiri awalnya memang dibuka sebebas-bebasnya untuk peserta yang mau ikutan. Pesertanya datang dari berbagai usia, dari anak-anak, remaja, sampai ada juga yang sudah dewasa. Jumlah pesertanya memang nggak menentu, pernah sampai 150 orang, namun seringnya berkisar sekitar 50-60 orang.

Untuk bisa mengakomodasi peserta yang beragam ini, sudah pasti harus ada metode pembelajaran khusus. Untuk peserta remaja, Mas Ages dan timnya selalu menyiapkan materi pembelajaran sebaik mungkin dan menyesuaikan materi dengan tingkat kemampuan masing-masing individu.

Tapi, khusus buat mereka yang sudah dewasa, dengan interest yang nggak menentu dan bisa kapan saja berubah, makanya diberikan kebebasan dengan metode mana suka. Lagu-lagu yang dimainkan juga beragam, tetapi tentu saja ini jadi momen yang dimanfaatkan buat mengenalkan lagu-lagu Indonesia. Biar budaya yang ada nggak hilang tanpa jejak, Urbaners!

 

Alasan di Balik Pilihan Biola

Diiringi piano dari Mas Ages, orkestra Taman Suropati Chamber semakin terdengar merdu

Urbaners, bukan hal yang gampang lho untuk membuat harmoni musik bersama orang-orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Oleh karena itu, Taman Suropati Chamber juga memilih biola sebagai instrumen musik utama yang dimainkan. Buat Mas Ages sendiri yang bisa memainkan berbagai jenis alat musik, pilihan biola ini dianggap menarik karena ada banyak teknik permainan yang bisa dilakukan. Terlebih, karena gelar biola sebagai “King of Instruments” dan perannya untuk “Leading The Orchestra”.

Selain itu, alat musik biola dapat dimainkan sendiri atau beramai-ramai. “Kalau violin memang diperuntukkan untuk kelompok,” katanya. Dalam perjalanannya, Taman Suropati Chamber memang sudah bermain bersama-sama di berbagai tempat, misalnya mengisi acara di berbagai kedutaan dan juga acara televisi. Salah satu pertunjukan yang dilakukan juga bertepatan dengan Hari Musik Nasional pada 9 Maret 2019 lalu.

 

Harapan untuk Musik Indonesia

Tidak hanya mewarnai hidup, komunitas Taman Suropati Chamber punya visi kalau musik bisa membantu anggotanya meningkatkan hasil penghidupan

Keberadaan budaya musik di suatu negara jadi salah satu indikator kewarasan negara tersebut, begitu kata Mas Ages. Di Indonesia sendiri, keakraban antara musik dan manusia masih luar biasa dan terus ada di berbagai kegiatan, bahkan berbagai komunitas musik. Bukan cuma mengisi kehidupan sehari-hari, musik juga menjadi salah satu cara yang nantinya bisa menghasilkan penghidupan yang lebih baik. Alumni Taman Suropati Chamber sudah ada yang membuktikannya, misalnya dengan menjadi guru orkestra dan music arranger.

 

Gimana, tertarik buat ikutan serunya Minggu pagi dengan main biola, Urbaners? Langsung aja datang setiap Minggu pagi pukul 10.00 WIB di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, ya!

 

Comments
Agung Sutrisno
Keberadaan budaya musik di suatu negara
RACHMAN EFFENDI
Asyik sekali yaaa