Ada momen yang nggak bisa dilawan: uang jajan ditabung buat beli majalah, bukan buat jajan. Itu situasi yang familiar banget dulu dan Majalah Hai seringnya jadi alasan utama.
Buat anak muda era 2000-an, majalah itu lebih dari sekadar kertas doang. Dia semacam panduan gaya, peta pertemanan, dan sumber gosip bareng yang sah.
Buka satu edisi, rasanya kayak ngobrol sama temen yang selalu tahu musik dan gaya lo. Ada foto band, daftar lagu yang mesti didengar, tips ngedate, sampai kolom fashion yang kadang greget. Setiap halaman seringnya kasih topik buat dibahas waktu nongkrong.
Di sekolah, ada ritual tukar majalah. Yang kelar baca, rutin dipinjem. Yang bawa edisi baru, langsung jadi pusat perhatian. Punya edisi langka? Level sosial lo naik. Intinya, Majalah Hai itu semacam kitab kecil yang ngebentuk identitas anak sekolah.
Hiasan Kamar, Bukti Identitas
Poster yang diselipin gratis itu selalu dapat tempat spesial di dinding kamar. Kamar langsung berubah jadi galeri: pintu penuh poster, papan tulis penuh coretan lirik. Poster jadi tanda pernyataan sikap. Lo nempel poster itu buat nunjukin, “Eh, ini selera gue.”
Menempel poster ada ritualnya. Selotip di pojok, paku kecil di dinding, atau bahkan digantung pake tali. Poster juga kadang dipake nutup bekas noda atau jadi latar foto bareng temen. Praktis dan sentimental.
Majalah Hai juga punya rubrik Surat pembaca yang menarik. Orang-orang nulis soal cinta yang awkward, persahabatan yang retak, atau kejadian konyol. Baca kolom itu tuh kayak nonton sinetron tapi versi nyata. Kadang mewek, kadang ngakak bareng.
Yang bikin asik, surat-surat itu terasa sangat nyata. Lo bisa langsung bilang, “Wah itu gue banget.” Jawaban redaksi? Biasanya selow, nggak sok tahu, lebih ke temen yang ngasih saran santai. Rubrik itu jadi ruang buat remaja galau kayak lo dulu untuk bicara dan didengar.
Rutinitas Nunggu Edisi Baru
Sebelum semua serba feed dan story, ada waktu tunggu edisi baru. Lo tau kapan majalah rilis. Lo jalan ke toko buku, pilih sampul yang menggoda, terus baca sambil di angkot pulang. Ada kegembiraan nyata di situ, bukan cuma scroll yang lewat.
Media cetak ngasih ritme. Isi nggak langsung tenggelam oleh update. Ada ruang yang bisa disimpan, dilipat, dan dipajang. Sekarang, kalau nemu majalah lama atau poster lusuh di lemari, rasanya kayak mesin waktu. Jadi bukti lo pernah punya dunia kecil yang asyik.
Sederhana sih: kertas, gambar, tulisan. Tapi dampaknya? Gede. Majalah dan poster ngajarin lo soal selera, soal komunitas, dan gimana jadi remaja yang punya cerita. Mereka nempel di memori bukan lewat notifikasi, tapi lewat benda yang bisa lo pegang.
Kalau lo masih nyimpen edisi lama atau poster koyak di pojok kamar, jangan lewatkan. Simpen baik-baik. Itu bukan sampah. Itu potongan waktu yang pernah ngasih lo soundtrack, curhat, dan alasan buat nempel hal-hal kecil di dinding mimpi lo.
Siapa di sini yang masih koleksi majalah itu?



Comments