Trending

Bionic, Birdwatching Sambil Menyebarkan Misi Pelestarian Lingkungan

Mengamati burung sambil menikmati alam mungkin tampak sebagai hobi santai bagi banyak orang. Namun hal ini berbeda bagi Bionic, sekelompok pengamat burung yang memiliki home base di Jogja. Kelompok pengamat burung ini punya kegiatan yang nggak main-main, lho Urbaners! Bukan hanya mempelajari kehidupan burung secara ilmiah, mereka juga aktif dalam usaha pelestarian burung. Agar burung nggak punah, mereka juga bertekad melestarikan lingkungan sebagai habitat burung-burung yang konon kini banyak yang semakin langka dan sulit ditemui.

Wicak Pangestu sebagai Ketua Bionic menjelaskan kalau Bionic memang mengemban misi yang nggak sederhana. “Kami ingin nih melalui Bionic, bisa meningkatkan kepedulian banyak orang buat ikut perhatian menjaga kelestarian burung di alam. Kami juga ingin berperan dalam upaya konservasi burung dan habitatnya,” jelasnya lebih lanjut.

Agenda Rutin Bionic dengan Bionicers-nya

Birdwatching di Desa Sladi, Gunung Kidul

Misi yang nggak mudah tersebut menyatukan puluhan anggota tetap sejak Bionic berdiri 25 Desember 2004 silam. Bionicers, sebutan bagi anggota Bionic, tergolong solid meski jumlahnya nggak terlalu banyak. Meski masing-masing sibuk dengan kegiatannya, mereka punya agenda rutin untuk melakukan pengamatan burung, khususnya di Jogja.

Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan sebulan sekali adalah Mersi. Nama tersebut merupakan singkatan dari Mersani Peksi alias melihat burung dalam Bahasa Jawa halus. Selain itu, Bionic juga rutin melakukan pengamatan burung pantai dan burung raptor.

“Pengamatan burung raptor ini yang menarik. Biasanya kami harus mengetahui jadwal migrasinya untuk menentukan lokasi yang tepat agar burung sasaran kami itu bisa teramati. Seenggaknya, kami juga harus tahu soal ciri-ciri burung raptor atau burung pemangsa tersebut,” tutur Wicak.

Kalau untuk mengamati burung pantai, Bionic punya nama acaranya sendiri nih, Urbaners. Mereka menyebutnya Mobupi atau Monitoring Burung Pantai. Kegiatan tersebut rutin dilakukan Bionic mulai dari tahun 2007 hingga saat ini, terutama saat musim migrasi burung pantai yang umumnya berlangsung sekitar bulan September hingga April.

Ikut Melestarikan Satwa Langka dengan Kelompok Internasional

Pendataan burung liar di kawasan Jogja bersama kelompok pengamat burung Internasional

Nggak cuma membuat kegiatan sendiri, Bionic ternyata juga aktif bekerja sama dengan organisasi atau kelompok pengamat burung lain, bahkan di taraf internasional. Mereka mengaku rutin menjalin kerja sama dengan kelompok pengamat burung se-Asia untuk mendata spesies-spesies burung yang ada, sehingga bisa terdata ada jenis yang mulai langka atau jarang ditemukan. Kegiatan sensus burung ini dilakukan bersama-sama setiap bulan Januari. Data yang berhasil dikumpulkan kemudian digabungkan dengan data pengamatan di berbagai negara di Asia. Keren ya, Urbaners!

Bionic memang nggak main-main dengan usaha pelestariannya. Simak saja slogan mereka, “Kepedulian di Hari ini, Kelestarian di Masa Depan”. Untuk itu, anggota Bionic juga aktif melakukan hal lain untuk memastikan keanekaragaman burung di sekitar mereka tetap terjaga. Caranya adalah dengan melakukan penandaan burung liar menggunakan cincin atau label khusus. Tapi ingat Urbaners, kegiatan ini tentunya nggak boleh sembarangan dilakukan, ya. Harus ada izin dari Indonesia Bird Banding Society sebagai organisasi yang berwenang melakukan perekaman dan penandaan jenis burung liar yang ada di negara kita secara resmi.

Rencana Bionic agar Makin Eksis

Festival Migrasi Burung Pantai 2018

“Kami ingin semakin dikenal. Bukan sekadar untuk sok-sokan. Kalau makin banyak yang tahu, harapannya akan makin banyak juga yang ikut peduli dengan burung liar, dan juga dengan alam Indonesia,” ujar Wicak.

Cita-cita agar namanya makin bergaung menjadi tumpuan kegiatan-kegiatan selanjutnya yang akan diadakan oleh Bionic. Keinginan mereka untuk mempengaruhi lebih banyak orang agar melestarikan lingkungan diwujudkan dengan rencana pembuatan video dokumenter yang menarik tentang burung-burung liar yang teramati.

Nggak hanya menampilkan burung-burung liar, mereka juga ingin membuat video yang berisi cerita. Ada alur kisah yang bisa menggerakkan hati banyak orang untuk terlibat dalam usaha pelestarian lingkungan.

“Videonya nanti akan kental dengan budaya Jogja sebagai setting-nya. Jenis burung liar yang kami angkat juga merupakan spesies endemik atau cenderung hanya ditemukan di wilayah-wilayah Jogja saja,” kata Wicak.

Tahun ini, Bionic juga telah mengadakan event tahunan yang cukup besar, yakni Festival Migrasi Burung Pantai. Acara yang diadakan pada bulan Oktober ini terbuka untuk setiap orang, nggak hanya anggota Bionic. Mereka mengadakan festival tersebut untuk memfasilitasi pertemuan kelompok pengamat burung dari berbagai tempat dan lembaga. Peserta festival diajak mendatangi muara Sungai Progo dan mengamati burung-burung di kawasan tersebut.

“Di lokasi itu biasanya akan ada ratusan burung pantai yang siap dinikmati kecantikannya. Biasanya bakalan seru karena banyak peserta yang masih awam dengan dunia birdwatching, kan. Jadi kami akan pandu untuk mengendap-ngendap, merayap, pokoknya berbagai cara biar bisa dapet foto burung liar yang keren. Maklum, sifat burung-burung pantai biasanya cukup sensitif dengan lingkungannya,” jelas Wicak dengan semangat.

Menjelang akhir acara, setiap peserta diminta untuk menjawab 20 soal kuis tentang hasil pengamatan burung. Jawabannya pun didiskusikan bersama, sehingga bisa menambah pengetahuan peserta. Tak lupa juga dilakukan penobatan peserta terbaik pada acara itu. Pemenangnya pun mendapatkan hadiah menarik dari Bionic dan sponsor.

Gimana Urbaners? Tertarik buat gabung di kegiatan birdwatching-nya Bionic? Buat kamu yang penasaran dengan aktivitas mereka dan ingin cari tahu lebih lanjut, langsung saja kunjungi Instagram mereka di @bionic.uny!