Trending

Wawancara bersama Louise M. Sitanggang: Biduan dari Deredia yang Konsisten dengan Pin-up Girl Style

Deredia adalah band yang mengangkat unsur musik tahun 1950-an. Sang vokalis, Louise M. Sitanggang yang masuk belakangan semakin membentuk karakter sound dan appearance vintage mereka. Silakan simak album perdana bertajuk “Bunga & Miles” dan unggahan video-video di kanal resmi Youtube Deredia untuk melihat suguhan nuansa musik klasik nan kental nostalgia ini.

Louise adalah paket lengkap seorang seniman yang bertanggung jawab akan nuansa vintage-nya. Secara vokal, Ia layaknya biduan kiriman dari tahun 1950 untuk masa kini, antik dan berciri khas. Gaya berbusananya pun menyertainya, Ia konsisten bergaya ala pin-up –salah satu style fashion masa lampau– dan bertanggung jawab atas penampilannya, “It’s already become my passion, it’s not only my fashion”, ujarnya dengan mantap. Yuk, Urbaners kita berkenalan lebih jauh dengan Louise.

 

Bagaimana cerita perkenalan Louise dengan musik?

Jadi bokap gue itu memang seorang musisi, jadi zaman dia di Medan dulu itu jadi musisi awalnya, tapi sekarang dia meneruskan kerjaan dia di engineer. Nah, jadi dari kecil bokap gua ngajarin gua untuk belajar piano. Abis itu, perkenalan gua akhirnya pengen banget jadi penyanyi itu gara-gara gue nontonin film-filmnya Disney. Jadi gue bener-bener tumbuh besar dengan kartun-kartun dan musik-musik dari Disney dan itu impact-nya besar banget untuk hidup dan musikalitas gua.

Sebagai vokalis Deredia, lo juga sering mendegar musik lawas ya? Apa saja yang menjadi referensi?

Iya dong, selain dari musik-musik old Disney tadi ya, ada Ella Fitzgerald, kemudian makin ke sini “diracunin” Doris Day, kemudian ada Les Paul and Mary Ford, ini salah satu influence gue di Deredia ini. Ray Charles dan banyak lagi. tapi gua engga mematok musik gue cuman di vintage atau old music, gua makan segala macam aliran juga. Karena buat gua itu akan membentuk karakter gua, gua mau menjadi Louise. Gua sebagai penyanyi ingin menjadi Louise, dan itu dari segala macam musik yang gua suka, gua denger, melebur jadi satu, jadilah Louise Sitanggang.

 

Album Deredia - Bunga & Miles terbagi menjadi dua part/dua CD dan terdengar dua nuansa berbeda. Bagian 1 lebih “terang” dibanding bagian 2 yang “gelap”. Apakah ada alasan tertentu dari Louise yang juga sebagai penulis lirik?

Sebenernya kalo pembagian itu, kalo musik ini kita bikinnya bareng-bareng, jadi kalo secara musik keseluruhan gua rasa ngobrolnya harus bareng-bareng sama Deredia. Tapi gua bisa jawab  bagamaina akhirnya jadi dua CD itu. Jadi kita itu sistemnya kita bikin lagu itu, awalnya kita duduk bareng-bareng dulu, kemudian gue, itu pake bahasa “nyamuk” dulu, cuman nyanyi na na na na (memperagakan) engga jelas dulu, barulah setelah dapet melodinya, setelah jadi lagunya, barulah gue bikin lirik. Jadi bukan lirik dulu baru lagu. Nah, entah kenapa, waktu itu tuh gue merasa beberapa lagu kayaknya lebih cocok pake bahasa Indonesia, nah itulah jadi di CD pertama. Kemudian juga ada yang, wah ini cocoknya pake bahasa Inggris buat CD ke dua. Dan entah kenapa itu ternyata jadinya sewarna tuh. Yang bahasa Indonesia warnanya cukup sama, yang Inggris juga sewarna.

 

Jadi enggak intentional?

Jadi itu semua jadi dulu lagunya kemudian dikasih lirik, barulah kita setuju oke deh dibagi dua aja bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jadi pembagiannya secara bahasa aja.

 

Video-video #LIVEATKLAUS yang Deredia unggah di Youtube akan tetap konsisten dikerjakan?

Oh masih dong, kita rencananya setiap season bikin 7 video. Biasanya itu untuk pengantar ke sesuatu, ke rilisan selanjutnya, seperti album.

 

Enggak mengganggu proses pembuatan album?

Oh, no. enggak ko. Justru itu ya itu proses, bagian dari marketing, haha. Juga supaya kita tetap eksis di milenial, hahaha.

Bagaimana memutuskan lagu-lagu yang akan dicover oleh Deredia?

Syarat pertama itu adalah itu harus lagu-lagu tahun 1950 sampai ya early sixties-lah. Lagu 1970-an engga, oh, 1970 kita ada, tapi yang warnanya masih mirip dengan musik tahun itu. Seperti yang pas kita cover di lagu “Supercalifragilisticexpialidocious”. Itu kan musiknya warnanya kayak tahun-tahun sebelumnya, makanya masih kita bawain. Tapi prinsip awalnya itu lagu-lagunya tetap nyari yang tahun 1950-an. Kecuali mungkin yang sekarang ini, yang lagu daerah, nah ini kan macem-macem. Ada yang dibuatnya di bawah tahun 1950, kalo tahun-tahun segitu kita engga masalah. Tapi ada lagu-lagu daerah yang jadi hits tapi itu baru diciptain setelah tahun 1950-an. Karena kita ini sekarang temanya lagi bawain lagu-lagu daerah.

 

Apa yang spesial dari musik (pop) klasik ini bila dibandingkan dengan musik kontemporer?

Simple, meaningful but it’s also hard. “hard”nya itu apa, even nyanyiinnya itu mesti punya teknik tertentu. Dari sisi musik, tedengarnya itu simple tapi pas lo mainin itu, wah susah juga ya, haha. Catchy, enggak too much. Tapi catchy dan simple-nya ini engga kayak musik sekarang ya. Maksud gua “sekarang’’ apalagi yang akhir-akhir ini ya, yang cuma chordnya 3 atau 4 buah doang dan lo dari lagu pertama sampe sepuluh lagu lainnya itu lo bisa nyambungin dengvan lo mainin chord sama. Nah tahun itu (1950-an) itu engga kayak begitu musiknya buat gua. Simplicity dan lirik yang dalam, juga cara nyanyi dan cara bermusik yang penuh teknik, itu yang spesial banget sih menurut gue, pada tahun-tahun itu. Oh, iya, dan tahun itu engga ada edit-editan lho! Hey, girl! Salah dikit ya ulang lagi, hahaha. Itu bisa jadi panutan juga sih, berarti kan musisi-musisi tahun itu kualitasnya sangat baik.

 

Lo terlihat sangat konsisten dengan gaya vintage, lebih spesifik lagi pin-up girl style ini ya, bagaimana keadaan kultur pin-up girl style ini di Indonesia?

Gua enggak menemukan “masyarakat” gua banyak di sini [Indonesia]. “Masyarakat” gua di sini maksudnya yang bener-bener anak pin-up, pure pin-up. Itu dikit lho. Pin-up itu ibaratnya agama gua, hahaha. Ada indo pin-up girl, itu komunitas pin-up di Indonesia, tapi aktifnya cuman di acara Kustomfest (sebuah festival motor di Indonesia). Nah banyak nempelinnya ke situ, beda sama di luar negeri, di luar itu ya daily-nya begini, gua daily begini, sekarang aja tapi lg full make up. Gua hampir tiga tahun engga pake celana, haha, karena gua selalu pake rok terus. It’s already become my passion, it’s not only my fashion. Tapi gua belum bisa bilang diri gua pure pin up, mungkin gua bisa mengatakan diri gua modern pin up. Karena sampe ketemu orang yang memahami segala detail sejarahnya, once lo menyatakan diri lo pin up, kita akan liat detailnya, liat rambutnya, tasnya apa, sepatunya apa, gitu, ini masalah prinsip, hahaha.

 

Rencana rilisan terdekat Deredia?

Februari 2018 semoga jadi album baru, amin.