• Buzz
  • Menu Favorit Bung Karno yang Sangat Merakyat

Menu Favorit Bung Karno yang Sangat Merakyat

Mon, 05 September 2016

Ada ratusan buku yang membahas proklamator sekaligus presiden Indonesia yang pertama, Sukarno. Salah satu buku yang paling berkesan adalah Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams dan buku Kesaksian tentang Bung Karno 1946-1967 karya Mangil. Cindy Adams adalah wartawan satu-satunya yang membuat biografi tentang Bung Karno dengan wawancara secara langsung. Kemudian Mangil adalah pengawal pribadi Bung Karno ketika menjabat presiden sampai beliau lengser. Dari kedua buku tersebut, dapat diambil bahwa menu favorit Bung Karno ternyata sangat sederhana dan merakyat. Bahkan Bung Karno jika tinggal di Istana Kepresidenan, beliau jarang makan menggunakan sendok dan garpu.

 

Dimulai dari sarapan beras jagung di pagi hari

Bung Karno selalu sarapan beras jagung jika di pagi hari. Kata beliau, jagung adalah melambangkan dunia tani Indonesia. Selain itu beras jagung membuat tubuh kuat jika dibandingkan dengan beras biasa, itu kata Bung Karno. Lalu setelah sarapan, Bung Karno biasanya hanya minum air putih dan teh hangat. Setelah itu baru Bung Karno minta dibuatkan segelas kopi tubruk. Resepnya pun sendiri, yaitu satu sendok kopi dan satu setengah sendok gula.

 

Sayur lodeh dan sayur asem

Kebiasaan makan Bung Karno ini cukup unik. Di pagi hari, biasanya kombinasi antar tahu tempe dan ikan asin harus ada di meja makan. Nasi diletakkan di mangkok kecil beserta sambalnya, Bung Karno akan makan dengan lahap menggunakan tangan. Nggak jarang pula Bung Karno memanggil semua ajudannya untuk sarapan atau makan siang/malam bersama. Jika Bung Karno sedang berada di luar, salah satu restoran favorit Bung Karno adalah Rumah Makan Tukong. Bung Karno selalu memasan nasi goreng favoritnya.

Bung Karno memang sangat cinta dengan Indonesia. Makannya nggak pernah aneh-aneh. Bahkan ketika selesai dilantik menjadi presiden Indonesia, Bung Karno memesan sate untuk perayaan.

Related Article

6 Tokoh Ini Dapat Gelar Pahlawan Nasional 2019

Friday, November 22, 2019 - 13:15
Presiden Joko Widodo berdiri di depan foto-foto para Pahlawan Nasional.

Dalam rangka Hari Pahlawan 2019 yang jatuh pada tanggal 10 November, Presiden Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada 6 tokoh. Hal ini dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 120 TK 2019 yang ditandatangani pada 7 November 2019. Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada ahli waris di Istana Negara, Jakarta Pusat.

 

Roehana Koeddoes

Sosok Roehana Koeddoes, memakai semacam bandana di kepala

Sepupu dari H. Agus Salim ini merupakan pendiri dari surat kabar Sunting Melayu. Sebelumnya, beliau menekuni bidang jurnalistik melalui surat kabar Poetri Hindia. Roehana Koeddoes memiliki keinginan agar wanita di daerahnya memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih. Itulah kenapa jajaran direksi dan penulis di Sunting Melayu berasal dari kaum wanita.

 

A.A. Maramis

A.A Maramis berpose formal dengan mengenakan jas dan dasi kupu-kupu.

Sebagai Menteri Keuangan Indonesia yang kedua, A.A. Maramis berperan penting dalam perkembangan dan percetakan uang kertas yang pertama di Indonesia. Tanda tangan beliau bahkan tertera pada uang kertas tersebut. Nggak cuma itu, pria kelahiran 20 Juni 1897 ini juga merupakan anggota dari Panitia Lima yang dibentuk oleh Soeharto, presiden kedua Indonesia, untuk mendokumentasikan rumusan Pancasila.

 

Sarjito

Sardjito mengenakan jas berwarna hitam

Pria asal Magetan ini sangat berjasa dalam menciptakan vaksin untuk kolera, typus, dan disentri. Sarjito juga cukup aktif dalam organisasi Budi Utomo di Jakarta. Bersama dengan dokter Sanusmo, Prof. Sutarman, dan dokter Pudjodarmohusodo, Sarjito mendirikan Fakultas Kedokteran Republik Indonesia di Solo dan Klaten pada 5 Maret 1946. Saat ini, fakultas tersebut telah berkembang dan menjadi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

K.H. Masjkur

Ilustrasi sosok K.H. Masjkur, yang mengenakan kacamata dan pakaian berwarna cokelat.

Perjuangan K.H. Masjkur dalam kemerdekaan Indonesia dilakukan beliau dengan bergabung menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA). Selain itu, beliau juga mengumpulkan pemuda Islam dalam laskar khusus untuk ikut turun seiring perobekan bendera di Hotel Yamato, Surabaya. Laskar ini jugalah yang turut melawan tentara Inggris yang marah setelah Mayor Jenderal Mallaby tewas.

 

Abdul Kahar Mudzakkir

Ilustrasi sosok Abdul Kahar Mudzakkir, sedang memakai kacamata dan pakaian berwarna abu-abu.

Sempat menempuh pendidikan di Kairo, Mesir, Abdul Kahar Mudzakkir turut mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah. Melalui tulisan-tulisan di sejumlah surat kabar, pria asal Yogyakarta ini juga membawa nama Indonesia. Di samping itu, beliau juga terlibat dalam perumusan bentuk negara bersama sejumlah tokoh Islam.     

 

Sultan Himayatuddin

Gambar dari Sultan Himayatuddin, memiliki brewok, dan memakai semacam bandana.

Sultan Himayatuddin adalah seorang sultan dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara. Beliau berperan dalam memutuskan untuk mengakhiri perjanjian antara Kesultanan Buton dan VOC. Bersama dengan rakyatnya, Sultan Himayatuddin merancang strategi di dalam hutan untuk melawan VOC. Perjuangan tersebut berhasil membuat VOC akhirnya keluar dari Buton.

 

Melalui caranya masing-masing, keenam sosok tersebut sudah berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Ikut senang rasanya melihat mereka mendapat gelar Pahlawan Nasional!