5 Sneakers Legendaris

Wed, 26 April 2017

Istilah sneakers mulanya ditujukan untuk sepatu exercise atau aktivitas fisik seperti olahraga. Seiring perkembangan zaman, fungsi sneakers meluas yakni sepatu yang bisa digunakan untuk situasi santai atau kasual.

Sneakers sendiri dimulai pada abad ke-18. Pada masa itu, sepatu olahraga dikenal dengan nama plimsolls di Inggris. Saat itu belum dibedakan mana yang untuk kaki kanan atau kiri, jadi semua bentuknya sama.

Lalu, pada 1892, perusahaan AS, Rubber menciptakan sneakers dengan bahan karet dan kanvas yang disebut keds. Sepatu itu juga disebut sneakers karena tak berisik untuk jalan sehingga pemakainya bisa mengendap-endap di belakang seseorang (sneaking).

Kini, sneakers tak hanya berfungsi sebagai sepatu olahraga, tapi budaya dan simbol modernisasi. Tapi tahu nggak sih, Urbaners, ternyata dari semua sneakers yang pernah ada, terdapat 5 paling legendaris sepanjang masa. Nah, disimak baik-baik ya.

 

Nike Air Jordan 1

Pada 1984, label Nike kalah populer dibanding sepatu olahraga basket lainnya seperti Converse dan Adidas. Nike booming pada 1984 ketika pemain Chicago Bulls, Michael Jordan menandatangani kontrak untuk memakai sepatu Air Jordans-sneaker.

Nike mengontraknya dengan bayaran Rp 32 miliar untuk bermain basket dengan mengenakan sepatu Air Jordan 1. Keputusan Nike yang dianggap prematur tersebut ternyata berbuah hasil luar biasa. Dalam sebuah pertandingan melawan tim Celtics, Jordan mengumpulkan 63 poin seorang diri.

Pencapaian luar biasa ini meletakkan Jordan dan Nike di mata dunia. Penjualan perdana Nike Air Jordan 1 ini laris manis. Sepatu ini kemudian menjadi alas kaki paling terkenal yang pernah dibuat.

 

Adidas Stan Smith

Stan Smith pertama kali diluncurkan pada 1963 dan dibuat oleh Holest Dassler, putra pendiri Adidas, Adolf “Adi” Dassler. Awalnya, sepatu Stan Smith ini diciptakan untuk pemain tenis sehingga Adidas menggandeng petenis bernama Robbert Haillet dan hingga 1965, sepatu ini dikenal dengan nama sneakers Robbert Haillet.

Saat Haillet pensiun, Adidas melirik Stan Smith yang dianggap sebagai atlet paling menjanjikan saat itu. Akhirnya, sepatu ini diluncurkan kembali pada 1971 dengan nama Stan Smith dan dibungkus penampilan baru.

Menariknya, Stan Smith juga menuliskan namanya di bagian lidah sepatu sebagai identitas. Pada tahun 1990, Adidas Stan Smith memperbarui dirinya kembali. Tidak lagi menggunakan tali, sepatu tersebut dilengkapi strap yang lebih praktis.

 

Converse All Star

Bicara tentang brand ini tak pernah ada habisnya. Converse adalah salah satu produsen sneakers tertua dunia. Chuck Taylor All Stars pertama kali diproduksi pada 1917. Awalnya, sepatu ini khusus untuk pemain basket dan dirancang dalam warna cokelat dengan aksen garis berwarna hitam.

Sepatu dengan desain tinggi hingga menutupi mata kaki ini menjadi sepatu pertama yang diproduksi secara massal untuk para pemain basket di Amerika Utara pada 1920. Bahan yang digunakan pada saat itu adalah kanvas dan kulit. Sayang, penjualan perdana sepatu ini tidak begitu laku.

Pada 1923, bintang Indiana Charles “Chuck” H Taylor menggunakan alas kaki ini, hingga menjadi sepatu basket terlaris sepanjang masa. Berkat keberhasilan Taylor, dia mendapat penghargaan yaitu namanya dituliskan pada logo Converse sejak 1932. Pada tahun 2011, Converse dibeli Nike.

Kini, Chuck Taylor All Stars tidak hanya digunakan pemain basket, tetapi musisi dan anak muda seluruh dunia.

 

Puma Suede

Puma Suede kali pertama diluncurkan pada 1968 dan membuat gebrakan baru dengan penggunaan bahan suede pada saat industri sneakers didominasi oleh kanvas dan kulit. Pada tahun yang sama, Tommy Smith dan John Carlos menjadi pemenang medali emas dan perak untuk maraton 200 meter dalam Olimpiade 1968.

Lalu, kala lagu kebangsaan AS dilantunkan, keduanya melepaskan sepatu mereka dan mengangkat tinju ke udara untuk mengangkat masalah diskriminasi yang masih dihadapi masyarakat kulit hitam AS kepada dunia.

Pada tahun 1973, pemain basket legendaris Walt “Clyde” Frazier menjadi duta besar sepatu ini. Dia meminta Puma membuatkannya sepasang Suede yang lebih ringan dan lebar. Lahirlah Clyde, salah satu variasi dari Suede, sepatu pertama dalam sejarah yang juga diberi nama mengikuti atlet.

Kejayaan Suede berlanjut dan sepatu ini menjadi salah satu simbol gaya hiphop pada era ‘80-an dan hingga kini, Suede tidak bisa dipisahkan dari budaya B-Boy.

 

Vans Authentic

Pada 16 Maret 1966, Paul Van Doren dan saudaranya, Jim Van Doren, serta Gordon Lee dan Serge Dalia membuka pintu perusahaan Van Doren Rubber untuk pertama kalinya di California, AS. Berbeda dari sekarang, Van Doren Rubber adalah toko pembuat sepatu di mana setiap sepatu yang dijual baru akan dibuat setelah dipesan.

Pada hari itu, 12 pelanggan membeli sepatu #44 yang kini dikenal dengan nama Authentic. Koneksi Vans dengan skateboard dimulai beberapa tahun kemudian pada era 70-an ketika para pemain skateboard legendaris, seperti Tony Alva, Stacy Peralta, dan Z-Boys, mengenakannya.

Paul bercerita bagaimana Alva dan Peralta datang ke tokonya di Santa Monica, California, untuk membeli sepatu. Uniknya, mereka datang untuk membeli satu sisi sepatu saja.

Papan skate pada masa itu cukup sempit sehingga skateboarders harus menggunakan satu kaki untuk mengontrol arah dan satu kaki sebagai rem. Sepatu yang digunakan sebagai rem ini sering kali rusak. Popularitas Vans meluas hingga dipakai artis hiphop, punk rock, streetwear, dan emo.

Namun, hingga kini Vans masih menjadi pilihan utama bagi para skateboarders

 

Source : Kompas.com

Muklay dan Sentuhan Imajinatif pada Karya Visual

Tue, 23 June 2020
Muklay mengenakan topi merah sedang berpose tersenyum di depan lukisannya

Pria bernama Muchlis Fachri atau biasa dikenal dengan Muklay sudah aktif di dunia seni selama lebih dari 10 tahun. Lulusan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta ini semakin dikenal berkat titelnya sebagai Forbes Indonesia 30 Under 30 di tahun 2020. Bukan pencapaian yang mediocre, kesuksesan Muklay berasal dari keberhasilannya dalam menemukan identitas dan ciri khasnya serta kejeliannya dalam mengobservasi tren pasar.

 

Ide Bisnis dari Karya Seni

Muklay sedang menggoreskan kuas di atas kanvas yang dipenuhi lukisan warna-warni

Sama seperti kebanyakan seniman lainnya, Muklay sudah memiliki bakat dan minat melukis sejak kecil. Tetapi, yang membuat Muklay berbeda dari seniman lainnya adalah kemampuannya untuk menjadikan minat seninya sebagai ide bisnis sedari masa SMP. Semua bermula dari kebiasaannya untuk melukis sneakers teman-temannya. Dari sana, ia bisa Rp200.000 per komisi. Uangnya dihabiskan lagi untuk membeli keperluan melukis dan sneakers baru.

Masa sekolahnya juga sampai sekarang masih jadi acuan seni bagi Muklay. Dulu, karya dari Darbotz dan Tokidoki sedang populer. Kedua gaya seni ini menggabungkan street style dengan animasi kartun, dua aspek yang terlihat jelas dalam setiap artwork Muklay.

Tetapi, itu saja nggak cukup. Menurut Muklay, memasarkan karya seni merupakan skill yang paling penting bagi seniman agar bisa mendapatkan profit. Profit ini juga yang membuat para seniman tetap aktif berkarya. “Seni bisa jadi ladang bisnis. Lo bisa bikin merchandise karena penjualannya bisa global. Kalau visual art cuman bisa dijual di kalangan tertentu, merchandise jadi wearable art yang menjangkau semua orang,” imbuh Muklay.

 

Sneakers Sebagai Sumber Inspirasi

Muklay sedang duduk di dalam studionya, terlihat koleksi sneakers

Kalau diteliti lebih dalam lagi, sebetulnya bakat seni Muklay berakar dari kecintaannya terhadap sneakers. Betul, Muklay is a sneakerhead! Studionya bahkan dipenuhi oleh koleksi sneakers warna-warni. Begitu pula dengan karya seninya, Muklay sudah sering melukis sneakers-sneakers dari brand Nike, Adidas, Vans, dan Converse.

Muklay sendiri terkenal karena kemampuannya dalam memadukan warna-warna bold, tanpa membuatnya terlihat norak. Quirky street style, deskripsi yang cocok untuk artwork Muklay. Untuk ini, Muklay sepenuhnya terinspirasi dari sneakers scene. Ia selalu membeli sneakers berdasarkan warna-warnanya, apakah kombinasi warnanya sudah tepat atau belum. Dari sini, ia pun bisa mengasah instingnya dan memasukkannya ke dalam karya-karya seni khas Muklay.

Peran sneakers juga dirasakan oleh Muklay saat ia harus bersosialisasi di kalangan seniman lainnya. Meski setiap seniman ini dibedakan berdasarkan jenis seni masing-masing, tetap saja Muklay merasa kalau kecintaannya terhadap sneakers menjadi penghubung. Sneakers dijadikan sebagai conversation starter, apalagi mengingat popularitas sneakers yang kini semakin meningkat, dinikmati oleh berbagai kalangan.

 

Melebarkan Sayap Lewat Kolaborasi

Muklay mengenakan ensemble warna-warni sedang duduk di atas bangku putih

Muklay mengungkapkan bahwa kini ia memiliki 3 model bisnis. Pertama, exhibition untuk memproduksi karya seni sebebas mungkin. Kedua, komisi sebagai sumber pendapatan utamanya. Ketiga, kolaborasi sebagai marketing tool. Melalui kolaborasi inilah nama Muklay semakin dikenal dan diperhitungkan sampai ke seluruh dunia.

Nggak main-main Bro, Muklay sudah pernah berkolaborasi bersama Uniqlo untuk desain T-shirt sekaligus menjadi ambassador brand fashion asal Jepang ini. Kemudian, karya Muklay juga sempat viral berkat grup musik RAN yang mengenakan pakaian hasil lukisan Muklay di acara penutupan Asian Games 2018 dan AMI Awards 2018.

Sementara itu, Muklay juga terus aktif berkolaborasi bersama brand lokal dan internasional lainnya, contohnya seperti Dufan, Lock&Lock, Gramedia, Xiaomi, Pepe Jeans, dan Citilink. Muklay juga ikut kolaborasi sama MLDSPOT lewat Instaclass: Live Sketch 10 Juni lalu, di mana Muklay sketch bareng bersama audiens juga. Menurutnya, seni bukanlah ajang kompetisi, melainkan ajang kolaborasi untuk bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi, terutama di kala PSBB ini #MumpungLagiDirumah.

 

 

 

 

Sources: Detik Hot, Manual, Kumparan.