• Food
  • 4 Coffee Shops di Jakarta Selatan yang Asyik untuk Bekerja

4 Coffee Shops di Jakarta Selatan yang Asyik untuk Bekerja

Thu, 13 June 2019
4 Coffee Shops di Jakarta Selatan yang Asyik untuk Bekerja

Urbaners, menjamurnya coffee shops di kawasan Jakarta Selatan sering bikin lo sulit menentukan tempat terbaik buat ngopi. Apalagi kalau selama ini lo juga sering mengadakan meeting dengan klien atau rekan bisnis di coffee shop. Nah, setelah libur lebaran ini, pastinya lo butuh suasana baru yang tetap cozy. Daripada bingung, lo bisa kunjungi beberapa coffee shops ini!

 

One Fifteenth (1/15) Coffee

One Fifteenth (1/15) Coffee

One Fifteenth (1/15) Coffee jadi salah satu coffee shop terbaik di Jakarta Selatan yang nggak pernah sepi pengunjung. Di sini lo wajib mencicipi segelas es kopi Rojali, yang merupakan es kopi yang dibuat dengan campuran soda dan air perasan lemon. Sepintas rasanya nggak beda jauh dengan tequilla. Tapi rasa kopi yang begitu khas bikin menu yang satu ini terasa unik dan otentik.

 

Brew & Wood

Berlokasi di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, coffee shop bernama Brew & Wood ini juga punya daya tarik tersendiri bagi para pencinta kopi. Di sini lo bisa mencoba kelezatan Kopi Susu Turunan yang dikemas dalam wadah botol, sehingga mudah dibawa ke mana saja. Selain itu, desain interior Brew & Wood ini juga sangat minimalis dan Instagrammable. Dijamin feed Instagram lo jadi makin bagus dengan foto-foto yang didapat dari Brew & Wood.

 

Twentyfifth

Begitu memasuki coffee shop di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini lo bakal langsung betah. Mengusung dekorasi serba kayu lengkap dengan beberapa pot terakota yang eyecatching, pengunjung Twentyfifth nggak hanya disuguhi segelas es kopi yang lezat, tetapi juga menu kudapan manis soft durian cake yang bakal bikin suasana ngopi semakin menyenangkan.

 

Serasa Coffeetaria

Serasa Coffeetaria

Berbeda dari coffee shops pada umumnya yang menciptakan suasana khas café atau kedai kopi, di Serasa Coffeetaria lo bakal merasakan nikmatnya menyeruput kopi di kantin. Beberapa tanaman hias kehijauan sengaja diletakkan rapi di sudut ruangan untuk menghadirkan kesejukkan tersendiri. Urbaners, kalau lo mampir ke Serasa Coffeetaria, jangan lupa mencicipi Es Kopi Pelipur Lara, yang bener-bener bakal bikin lo anti galau!

 

Gimana, Urbaners, sudah tahu bakal ngopi di mana setelah libur lebaran ini?

 

 

Source: Indonesia.travel

Filosofi Sosok Muhammad Aga dalam Meracik Secangkir Kopi

Tue, 07 July 2020
Muhammad Aga sedang memegang secangkir kopi

Kopi sudah jadi minuman wajib orang Indonesia. Mungkin lo juga salah satu tipe orang yang nggak bisa senyum sebelum menenggak secangkir kopi di pagi hari. Dalam dunia kopi, nama Muhammad Aga sudah nggak asing lagi di telinga, apalagi di mata. Nggak heran Bro, Aga sendiri sudah lama berkiprah sebagai barista dan pernah membintangi film “Filosofi Kopi”. Ayo kenalan dengan Muhammad Aga dan tentang filosofinya dalam mencintai kopi #MumpungLagiDirumah.

 

Dari Musik ke Biji Kopi

Muhammad Aga mengenakan setelan jas hitam dengan topi hitam

Siapa yang sangka kalau barista unggulan Indonesia ini lulusan jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta? Sebelum akhirnya jatuh cinta dengan dunia barista, Aga benar-benar fokus dalam mengembangkan karir band Rockabilly miliknya, bahkan sudah beberapa kali manggung di luar Jakarta. Justru dari komitmennya dalam menghidupi band tersebut, Aga akhirnya bekerja paruh waktu sebagai barista di Dante Coffee Kelapa Gading.

Sepanjang tahun 2009 hingga 2012, Aga semakin mendalami teknik meracik kopi. Dimulai dengan belajar secara otodidak lewat internet, komunitas, dan workshop. Walau sekarang sibuk mengelola kedai kopi S.M.I.T.H dan Harapan Djaya, tetap saja Aga masih suka jamming session dengan teman-temanya, Bro.

 

Pentingnya Koneksi

Muhammad Aga sedang melakukan latte art dengan teknik pouring

Kalau lo bingung bagaimana caranya seorang barista bisa jadi eksis seperti Aga dan sampai masuk ke layar lebar, jawabannya adalah koneksi. Menurut Aga, kopi menghubungkannya dengan orang-orang influential yang berjasa dalam perjalanan karirnya.

Seperti pertemuannya dengan Hendri Kurniawan di sebuah kontes barista, di mana Hendri tertarik dengan kopi racikan Aga dan menjadi mentornya. “Doi adalah teman sharing gue dan yang merekomendasikan berbagai kafe ke gue. Makanya gue bisa sering pindah-pindah.”

Dari koneksinya dengan Hendri, Aga juga dipertemukan dengan Angga Dwimas Sasongko dan ikut bergabung ke proyek Filosofi Kopi. Terkesan nggak nyambung, tetapi perannya di Filosofi Kopi melambungkan nama Aga dan mempermulus karirnya. “Ujung-ujungnya proses bikin usaha sendiri bakal lebih mudah karena kenalan gue udah banyak.”

 

Mengharumkan Nama Indonesia di Jenjang Internasional

Muhammad Aga memegang piala dan seritifikat untuk partisipasinya dalam World Barista Championship 2018

Salah satu kehebatan Aga adalah prestasinya yang sudah berhasil menjadi juara berbagai kompetisi barista. Bermula sejak tahun 2012 ketika Aga menjadi juara satu Latte Art Throwdown Competition. Lanjut dengan Indonesian Barista Competition 2013 dengan posisi kelima dan memulai kiprah internasionalnya melalui ASEAN Barista Competition di posisi ketujuh.

Sampai di tahun 2018, Aga dipilih menjadi finalis dari Indonesia untuk maju dalam kompetisi World Barista Championship di Amsterdam. Bukan sekadar menyeduh kopi saja, Aga juga harus mempersiapkan setiap bahan yang dibutuhkan untuk meracik espresso, cappuccino, dan signature beverages.

Walau gagal untuk masuk ke semifinal, tetapi prestasi Aga masih sangat membanggakan untuk bisa memperlihatkan kemampuannya sebagai barista dan menunjukkan cita rasa luar biasa dari biji kopi lokal. “Tapi tidak apa-apa, setidaknya saya dapat pengalamannya, dapat ilmunya, dapat temannya, dapat banyak hal, lah.”

 

Lebih dari Secangkir Kopi

Muhammad Aga mengenakan kemeja putih sedang menuangkan kopi ke gelas

Teknik saja nggak cukup untuk bisa meracik secangkir kopi yang nikmat. Filosofi kopi dari Aga adalah untuk mengenal hingga ke akarnya. Seperti kebiasaan travelling Aga ke kebun kopi, di Indonesia dan luar negeri, sambil berbincang dengan petani kopi di sana. Dengan begitu, Aga bisa melihat permasalahan yang ada dan memberikan input-nya kepada petani kopi agar bisa memproduksi biji kopi seperti yang ia mau.

“Kopi itu, value-nya banyak, ya. Saya kenal banyak orang juga dari kopi, saya hidup dari situ.” Jadi, next time lo ngopi bareng, coba resapi pahitnya kopi dengan manisnya koneksi bersama teman-teman lo. It’s not just a cup of coffee!

 

 

 

Sources: Cleo, Kumparan, Genmuda.