• Hobby
  • Mengasah Visi dan Emosi Setajam Anak Panah

Mengasah Visi dan Emosi Setajam Anak Panah

Mon, 05 January 2015

Semakin berkembangnya zaman, kebutuhan, dan ego manusia, panahan mulai digunakan sebagai senjata perang berbagai bangsa. Bahkan, hingga saat ini masih banyak suku-suku primitif yang masih menggunakan busur dan panah dalam mempertahankan kehidupannya, seperti suku Veda di pedalaman Sri Lanka, suku Dani di Papua, dan berbagai suku primitif lainnya di Benua Afrika.

Oke, sebelum lo tertidur karena terlalu mendalami sejarahnya, kita langsung saja lompat ke fase di mana panahan sudah dipandang sebagai olahraga. Adalah Raja Charles II dari Inggris yang sudah mendorong agar panahan menjadi media rekreasi dan olahraga di tahun 1676.

Sejak itu, tepatnya di tahun 1844, negeri kerajaan ini mulai menyelenggarakan kejuaraan nasional panahan yang diberi nama Grand National Archery Society (GNAS) yang kemudian diikuti oleh Amerika Serikat yang memulai debut kejuaraan nasional di Chicago pada tahun 1879.

Namun, sekeren apapun klaim Inggris, Skotlandia rupanya yang pertama kali mempopulerkan panahan sebagai olahraga. Hal ini bisa dibuktikan dengan berdirinya Kilwinning, sebuah klub panahan tertua di dunia yang sudah eksis sejak tahun 1483.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Jika ingin mendapatkan jawaban panahan mulai mulai eksis di negeri ini, sepertinya harus menunggu penemu mesin waktu. Tapi jika itu terlalu lama, kita bisa mempercayai fakta dari cerita-cerita wayang, di mana terdapat tokoh-tokoh yang menggunakan panah dan busur seperti Arjuna, Srikandi, dan Dorna yang disebut-sebut sebagai pemanah yang mahir dalam cerita Mahabrharata.

Apapun sejarah di balik panahan, dunia sudah mulai mengakuinya sebagai cabang olahraga dengan didirikannya Federasi Panahan Internasional (FITA) di tahun 1931 dan menggelar kejuaraan dunia untuk pertama kalinya di tahun yang sama. Sejak tahun 1941, panahan tumbuh jadi olahraga internasional yang diperlombakan di ajang sekaliber olimpiade.

Kini panahan tidak lagi jadi konsumsi atlet saja. Olahraga ini mulai merambah ke sudut mainstream ketika banyaknya non-atlet yang menggelutinya sebagai hobi. Tak heran saat ini menjamur klub-klub panahan yang terbuka untuk berbagai kalangan seperti Jakarta Archery, Bandung Archery, Komunitas Panahan UI, dan sebagainya.

Jika lo tertarik ingin melampiaskan insting macho lewat olahraga, panahan bisa jadi pelampiasan yang keren. Di Jakarta elo bisa mendatangi klub Jakarta Archery yang menggelar latihan setiap hari Sabtu dan Minggu mulai pukul 10:00-17:00 WIB yang lokasinya berada di Pintu 7 Senayan. Biaya yang diberlakukan untuk umum yang berusia di atas 18 tahun adalah Rp 850 ribu untuk tiga bulan, tanpa pelatih pribadi.

Bukan sekedar aja pamer sikap kecowok-cowokan lo aja, Urbaners, panahan juga dipercaya sebagai olahraga yang melatih kedisiplinan, fokus, konsentrasi, dan smoothness. Selain itu, elo juga bisa melatih mental dan mengontrol emosi. Namanya juga cowok sejati, tentunya harus punya mental baja dan emosi yang terkontrol dong. Ya nggak?

 

 

The Gear You Should Know
Untuk peralatannya, panahan sudah mengalami berbagai modernisasi dan hadir dalam berbagai tipe. Recurve bow adalah busur paling mutakhir yang paling umum digunakan saat ini yang terdiri dari pegangan (riser), tempat memegang busur (grip), buat visual untuk membidik (sight window), tempat anak panah (arrow rest), pengatur keseimbangan (stabilizer), lekukan tali busur (string grove), dan pegas busur (limb).

Arjuna, The Handsomest & Greatest Archer
Tidak hanya tampan, dalam legenda Mahabrhata, sosok Arjuna diceritakan sebagai pemanah yang handal. Dalam sebuah latihan memanah, dari sekian banyak murid, Dorna hanya memperolehkan Arjuna memanah seekor burung di atas pohon karena dianggap mampu melihat biji mata burung tersebut. Kepiawan Arjuna hanya bisa ditandingi oleh Karna yang sanggup memanah dua biji mata burung hanya dengan satu anak panah.

Robin Hood, The Most Popular Archer Ever
Dilegendakan sebagai pemberontak yang baik hati, Robin Hood memiliki kemahiran tinggi dalam berpedang dan memanah. Saking mahirnya, dia sanggup memanah sebuah apel di atas kepala seorang cewek. Kepopuleran Robin Hood bisa dibuktikan dengan banyaknya karya sastra, sinema, dan televisi yang mengangkat kisahnya dan kemahiran memanahnya.

Inilah Game Terbaik di Tahun 2019, Sekiro: Shadows Die Twice

Tuesday, December 31, 2019 - 15:20
Tokoh di Sekiro: Shadows Die Twice sedang melompat melemparkan senjata

Nggak sulit untuk memilih game terbaik tahun 2019. Predikat ini jatuh ke tangan Sekiro: Shadows Die Twice, game besutan FromSoftware yang juga berada di balik pembuatan Bloodborne dan DarkSouls. Ada cukup banyak alasan kenapa Sekiro: Shadows Die Twice berhak mendapatkan predikat game terbaik tahun 2019. Beberapa di antaranya bisa lo cek di bawah ini, Urbaners.

 

Cerita yang Nggak Biasa, Tapi Mudah Dipahami

Tokoh dalam Sekiro: Shadows Die Twice sedang melawan salah satu musuh menggunakan pedang

Bagi yang sering memainkan Soul Series, lo mungkin sudah terbiasa dengan jalan cerita game yang cukup sulit sehingga mengharuskan buat berpikir agak keras. Lo dituntut memberikan perhatian kepada setiap dialog dan item yang ditemukan demi bisa memahami cerita secara utuh.

Nah, hal tersebut nggak bakal lo temukan di Sekiro: Shadows Die Twice. FromSoftware justru memberikan cerita yang cukup mudah dipahami, tapi tetap menarik buat diikuti. Pada game ini, lo bakal menjadi seorang shinobi bernama Sekiro, yang berencana balas dendam ke seorang samurai karena menculik majikannya.

 

Gameplay Dinamis yang Cukup Menantang

Berbeda dari Soul Series yang juga dibuat oleh FromSoftware, Sekiro: Shadows Die Twice nggak menghadirkan sistem role-playing dan character creation. Sebagai gantinya, game berkonsep third-person action ini menggunakan sistem skill-set untuk peningkatan level karakter, yang baru bisa lo buka kalau bisa mengalahkan sejumlah musuh.

Namun, walaupun skill-set bertambah, bukan berarti lo bisa mengalahkan musuh dengan lebih mudah. Ini karena lo harus menghadapi musuh dengan strategi yang berbeda. Lo bisa dikalahkan oleh musuh dalam waktu cepat kalau lengah sedikit saja. Perubahan secara keseluruhan ini pun membuat gameplay dari Sekiro: Shadows Die Twice jadi lebih menantang.

 

Visual Grafis Memukau dengan Tampilan Khas Jepang

Dua tokoh dalam Sekiro: Shadows Die Twice saling berhadapan, dengan setting tempat khas Jepang, masing-masing membawa pedang

Sejak awal, Sekiro: Shadows Die Twice sudah tampil memukau dengan kualitas visual grafisnya yang luar biasa. Dengan tone warna yang didominasi abu-abu dan cokelat, nuansa Jepang era abad ke-16 di Sekiro: Shadows Die Twice jadi lebih terasa.

Bahkan saat setting malam hari, visual seperti hutam bambu masih terlihat cukup jelas. Nggak ketinggalan visual kastil yang terlihat begitu megah berdiri di atas lembah. Bagi yang cukup “rewel” soal visual grafis saat main game, sepertinya Sekiro: Shadows Die Twice nggak bakal mengecewakan lo.

 

Sekiro: Shadows Die Twice sudah dirilis sejak Maret 2019 lalu. Nggak ada kata terlambat buat ikut main game tersebut. Lo bisa memainkannya di Xbox One, PlayStation 4, atau platform Microsoft Windows!

 

 

Sources: media.skyegrid.id, gamebrott.com