Home Hobby Mengasah Visi dan Emosi Setajam Anak Panah

Mengasah Visi dan Emosi Setajam Anak Panah

Monday, January 5, 2015 - 21:47
Bagikan
Facebook Twitter Email

Semakin berkembangnya zaman, kebutuhan, dan ego manusia, panahan mulai digunakan sebagai senjata perang berbagai bangsa. Bahkan, hingga saat ini masih banyak suku-suku primitif yang masih menggunakan busur dan panah dalam mempertahankan kehidupannya, seperti suku Veda di pedalaman Sri Lanka, suku Dani di Papua, dan berbagai suku primitif lainnya di Benua Afrika.

Oke, sebelum lo tertidur karena terlalu mendalami sejarahnya, kita langsung saja lompat ke fase di mana panahan sudah dipandang sebagai olahraga. Adalah Raja Charles II dari Inggris yang sudah mendorong agar panahan menjadi media rekreasi dan olahraga di tahun 1676.

Sejak itu, tepatnya di tahun 1844, negeri kerajaan ini mulai menyelenggarakan kejuaraan nasional panahan yang diberi nama Grand National Archery Society (GNAS) yang kemudian diikuti oleh Amerika Serikat yang memulai debut kejuaraan nasional di Chicago pada tahun 1879.

Namun, sekeren apapun klaim Inggris, Skotlandia rupanya yang pertama kali mempopulerkan panahan sebagai olahraga. Hal ini bisa dibuktikan dengan berdirinya Kilwinning, sebuah klub panahan tertua di dunia yang sudah eksis sejak tahun 1483.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Jika ingin mendapatkan jawaban panahan mulai mulai eksis di negeri ini, sepertinya harus menunggu penemu mesin waktu. Tapi jika itu terlalu lama, kita bisa mempercayai fakta dari cerita-cerita wayang, di mana terdapat tokoh-tokoh yang menggunakan panah dan busur seperti Arjuna, Srikandi, dan Dorna yang disebut-sebut sebagai pemanah yang mahir dalam cerita Mahabrharata.

Apapun sejarah di balik panahan, dunia sudah mulai mengakuinya sebagai cabang olahraga dengan didirikannya Federasi Panahan Internasional (FITA) di tahun 1931 dan menggelar kejuaraan dunia untuk pertama kalinya di tahun yang sama. Sejak tahun 1941, panahan tumbuh jadi olahraga internasional yang diperlombakan di ajang sekaliber olimpiade.

Kini panahan tidak lagi jadi konsumsi atlet saja. Olahraga ini mulai merambah ke sudut mainstream ketika banyaknya non-atlet yang menggelutinya sebagai hobi. Tak heran saat ini menjamur klub-klub panahan yang terbuka untuk berbagai kalangan seperti Jakarta Archery, Bandung Archery, Komunitas Panahan UI, dan sebagainya.

Jika lo tertarik ingin melampiaskan insting macho lewat olahraga, panahan bisa jadi pelampiasan yang keren. Di Jakarta elo bisa mendatangi klub Jakarta Archery yang menggelar latihan setiap hari Sabtu dan Minggu mulai pukul 10:00-17:00 WIB yang lokasinya berada di Pintu 7 Senayan. Biaya yang diberlakukan untuk umum yang berusia di atas 18 tahun adalah Rp 850 ribu untuk tiga bulan, tanpa pelatih pribadi.

Bukan sekedar aja pamer sikap kecowok-cowokan lo aja, Urbaners, panahan juga dipercaya sebagai olahraga yang melatih kedisiplinan, fokus, konsentrasi, dan smoothness. Selain itu, elo juga bisa melatih mental dan mengontrol emosi. Namanya juga cowok sejati, tentunya harus punya mental baja dan emosi yang terkontrol dong. Ya nggak?